The gladly dancing plastic bag

 

This is my favourite scene in American Beauty (Sam Mendes, 1999). The gladly dancing plastic bag; it’s beautiful and romantic in a strange way.

I used to spent the weekend with my significant other on one of the rooftop in Jakarta, just chillin’ and chit-chatting. On a warm afternoon, around the magic-hour, there was this little plastic bag showed up, and started to dance with the wind. We stopped the conversation and watch this nature-made mini recital in front of us. It lasted for almost five minutes. Without a doubt, that was one of the most romantic thing that ever happened to me. That was my ‘American Beauty’ moment.

“It was one of those days, when it’s a minute away from snowing, and there’s this electricity in the air. You can almost hear it, right? And this bag was just dancing with me, like a little kid begging me to play with it, for fifteen minutes.

That’s the day I realized there was this entire life behind things, and this incredibly benevolent force, that wanted me to know there was no reason to be afraid, ever. Video’s a poor excuse, I know, but it helps me remember. I need to remember.

Sometimes there is so much… beauty… in the world, I feel like I can’t take it, and my heart is just going to cave in.”

Advertisements

Membaca Pria dan Bacaannya

Apa yang ada di kepala Anda saat ditanya soal majalah gaya hidup pria? Profil wanita cantik bertubuh molek dan berpakaian minim? Berlembar-lembar artikel dan panduan fashion? Ulasan gadget dan kendaraan terbaru? Atau tips menaklukan wanita?

Jika ya, saya yakin Anda tak sendiri, sebab memang konten-konten seperti itulah yang disuguhkan majalah-majalah pria yang beredar di Indonesia saat ini. Dan saya, yang sempat setahun lebih menulis untuk majalah pria waralaba asal AS, mungkin, turut andil dalam penyebaran konten-konten yang membuat majalah tersebut lebih mirip katalog.

Adalah Bung!, majalah terbitan ruangrupa yang mencoba keluar dari citra yang terlanjur terbentuk tentang majalah pria Indonesia. Alih-alih menarik minat pembeli dengan sampul yang mengumbar lekuk tubuh wanita, majalah ini justru menampilkan wanita yang sedang duduk di bangku yang ditaruh di atas mobil bak terbuka yang penuh barang-barang pindahan. Tak ada halaman fashion yang dengan model-model rupawan berperut kotak-kotak. Yang ada hanya deretan foto kaus kaki dan boxer―yang tentunya tidak sedang dipakai oleh model―dengan bonus pembacaan karakter si pemakai atas pilihannya tersebut. Dan taruh saja di laci, dalam-dalam, harapan Anda untuk mendapatkan informasi anyar soal gadget atau kendaraan, sebab yang anda dapatkan justru artikel soal fenomena pacaran di jembatan layang.

Jadi, ketika majalah ini mengadakan diskusi santai, pembacaan cerpen, dan pertunjukan musik yang diberi nama Ayo Bung!, saya memang tak mengharapkan akan dijamu nuansa glamor seperti yang kerap disuguhkan majalah-majalah gaya hidup pria lainnya; hotel berbintang atau kafe ternama, makanan bufet, atau doorprize berhadiah utama yang bikin ngiler.

E-Flyer acara "Ayo, Bung!"

Ayo Bung! diadakan di ruangrupa pada 8 Juni lalu. Konsepnya sederhana, diskusi dan pembacaan cerpen berlangsung sambil duduk lesehan, kemudian ditutup dengan pertunjukan musik di teras ruangrupa. Konsep acaranya memang sederhana, namun tidak begitu dengan tujuannya. Betapa tidak, Ayo Bung! dimaksudkan sebagai perayaan tiga edisi majalah yang hanya direncanakan untuk terbit sebanyak empat edisi saja! Ya, aneh―saya tidak memilih kata ‘congkak’ sebab majalah musik Rolling Stone Indonesia sudah  lebih dulu menyandang status itu dengan mengadakan pesta setiap penerbitan edisinya―memang.

Diskusi dibuka dengan penuturan Ardi Yunanto, Redaktur majalah Bung!, tentang lima hal yang dalam kepercayaan adat Jawa, harus dimiliki oleh pria demi menjadi seorang ksatria yang paripurna, yakni wisma (rumah), wanita (pasangan), turangga (kendaraan), curiga (senjata), dan kukila (hobi). Kelima hal tersebut kemudian diterjemahkan ulang oleh tim redaksi, lalu diaplikasikan ke dalam rubrikasi majalah sesuai konteks kekinian.

Kami membaginya menjadi lima rubrik utama; wisma menjadi Pilar, wanita menjadi Kencan, kendaraan menjadi Roda, senjata menjadi Siasat, dan hobi menjadi Senggang.” ujarnya singkat. Ia lanjut menjelaskan bahwa cukup banyak fenomena yang terjadi di masyarakat yang muncul dari kelima unsur tersebut, dan ia beserta tim redaksi berusaha mengambil ide dari masalah-masalah yang ada yang ada.

Diksusi apapun tentunya tak akan sahih jika tak mengulas sedikit―jika enggan banyak―sejarah yang menjadi topik diskusi tersebut. Pembicara lain, Budi Warsito, pemilik dan pengelola perpustakaan Kineruku di Bandung,  yang juga memiliki minat khusus pada majalah, mencontohkan salah satu majalah (remaja) pria yang terbit pada 1977, yakni majalah Hai. Budi baru aktif membaca majalah tersebut pada era ’80an. “Majalah remaja pria waktu itu memberikan semuanya, mulai dari olahraga, musik, bahkan sampai soal-soal Ebtanas SMP dan SMA!” kenangnya disusul gelak tawa tamu yang hadir. Ia mengaku belajar banyak dari majalah tersebut. Begitu cintanya, ia bahkan mengumpamakan majalah tersebut sebagai “abang yang asyik”. Untuk yang satu ini, saya setuju. Saya, yang bukan pria, dan juga punya abang betulan, juga sempat rutin membeli Hai karena ketagihan artikel-artikel menarik yang mereka suguhkan. Terutama soal musik, yang menurut saya, pembahasannya lebih unggul dibandingkan dengan yang ada di majalah-majalah (remaja) perempuan.

Majalah Bung! #1 Majalah Bung! #2

Agar pembahasan lebih apple-to-apple, Budi mengambil contoh majalah pria dewasa yang hingga kini masih menjadi kiblat majalah pria dewasa lokal di Indonesia, yakni Matra. Menurutnya, secara konten, Matra  sudah berhasil menghadirkan konten-konten seputar hidup pria yang dikemas dengan menarik, bergaya, dan yang paling penting, baik. Untuk itu ia menyematkan status “om yang seru” pada Matra.

Soal yang satu ini, Hikmat Budiman, penulis, redaktur, pendiri dan direktur Yayasan Interseksi, yang juga hadir sebagai pembicara pun mengamini. Ia yakin, satu poin penting yang dimiliki oleh tim redaksi Matra hingga akhirnya sukses menyuguhkan konten-konten bermutu dan seru adalah dedikasi menulis, authorship; itu yang semakin jarang dimiliki oleh para penulis saat ini. Ia sempat ‘curhat’ bahwa ia dan rekan-rekan sejawatnya di Interseksi juga sedang bergulat dan mendisiplinkan diri untuk mejaga mutu naskah-naskah panjang di yayasan tempatnya aktif saat ini. Gempuran media online yang terkesan tak mengindahkan kualitas karena hanya mementingkan kecepatan informasi, ditambah bujuk rayu kenikmatan semu berkicau di Twitter, meninggalkan pekerjaan rumah yang berat bagi mereka dan siapa saja yang hidup dari menulis. Dengan setengah berguyon, ia menyebut perjuangan ini sebagai ‘perlawanan terhadap tirani 140 karakter’. Saya beserta para tamu yang hadir kompak tertawa―meski tentu saja dalam hati meringis karena merasa dicubit, keras sekali.

Masih tentang authorship, Hikmat juga menyinggung peran editor, yang menurutnya, harus tega―bahkan kalau perlu otoriter―dalam memahat artikel-artikel yang tak selamanya selalu bermutu dari awal hingga akhir. “Boleh otoriter untuk konteks-konteks kecil, asalkan kompeten.” tukasnya singkat.

Bicara soal pria dan bacaannya, sulit untuk melepaskan diri dari topik wanita dan seksualitas. Bagaimana sosok wanita ditampilkan dalam majalah pria, adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas. Intan Paramadita, novelis horor dan penulis sinema, gender dan seksualitas, yang juga hadir di antara pengunjung, turut menyampaikan pendapatnya.

“Rubrik profil Bung! edisi pertama menampilkan Lisabona Rahman. Kalau ini majalah Popular, mungkin yang jadi profil adalah Sophia Latjuba. Tapi kalian menampilkan Lisa yang saat itu akan ke Belanda untuk mengambil Master di bidang film archive. Lisa terlihat keren banget di situ!” akunya dengan antusias.

Kenyataan bahwa yang terbuka dari wanita-wanita dalam rubrik profil adalah pikirannya, dan bukan tubuhnya, menjadi keunggulan lain yang dimiliki majalah ini. Dengan sedikit menyimpulkan, Intan  mengatakan bahwa pembaca Bung! adalah pria-pria yang mengidolakan sosok cerdas, yang menghargai wanita  lebih dari sekadar kemolekan tubuhnya.

Meski begitu, menurut Intan yang pernah menyumbangkan tulisan di edisi pertama tentang perempuan petualang ini, merasa Bung! kecolongan dengan tetap menghadirkan artikel-artikel yang menurutnya justru melanggengkan nilai-nilai patriarkal. Ketika diminta menyebutkan contoh artikel yang dimaksud, wanita yang menempuh pendidikan Doktoral di New York University ini enggan menjawab.

Majalah Bung! #3 Majalah Bung! #4

Direktur ruangrupa, Ade Darmawan, angkat suara merespon pendapat Intan, “Kita hidup di Indonesia di tengah struktur masyarakat yang patriarkal. Sulit untuk meruntuhkannya. Jadi wajar saja kalau masih ada ‘bocor’ di sana-sini.” Ia lantas menceritakan suasana rapat redaksi saat membahas sampul depan majalah Bung!, bahwa betapa sulitnya menampilkan sosok wanita di luar citra usang “kecantikan” yang dikonstruksi oleh media; putih, jenjang, rambut panjang dan lurus, namun di saat yang bersamaan tetap harus terasa ‘badung’ dan ‘nakal’.

Saat sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengapa persoalan homoseksualitas tidak mendapat porsi di majalah ini. Ardi menjawab bahwa hal ini bukannya tidak pernah dipikirkan, bahkan, sudah menjadi perdebatan di awal penerbitan majalah ini. “Kami tidak menutup mata, dan mengakui bahwa homoseksualitas merupakan bagian dari masyarakat. Hanya saja, memang tidak ada porsi khusus bagi topik homoseksualitas.”

“Di edisi pertama ada artikel soal keperjakaan. Penulisnya, Mikael Johani, tak hanya membahas soal keperjakaan pria heteroseksual, tapi juga homoseksual.” imbuhnya lagi.

Bebagai usaha telah dilakukan oleh majalah ini untuk tidak sekadar menjadi majalah pria yang berbeda. Mulai dari pemilihan topik,  pencarian  penulis yang ternyata tidak mudah, maupun kehadiran fotografi yang turut menegaskan posisi majalah yang menganggap bahwa menjadi pria lebih dari sekadar gaya hidup, namun sebuah jalan hidup. Saya pun penasaran, sebenarnya sosok pria Indonesia seperti apa yang disasar majalah ini? Jika majalah-majalah gaya hidup pria yang ada menargetkan pria dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan yang umumnya menengah ke atas―sehingga rubrik profil kerap menampilkan sosok eksekutif muda―saya tak yakin majalah ini berada di posisi yang sama dengan mereka. Apalagi majalah ini pernah menampilkan sosok tukang ojek di rubrik foto Pria Indonesia Hari Ini.

“Saya tidak terlalu percaya pembagian kelas sosial berdasarkan tingkat ekonomi. Yang pasti target pembaca Bung! adalah pria dewasa, berusia sekitar awal 20-an sampai 45 tahun. Mereka yang masih rindu dengan bacaan-bacaan mendalam dan jujur.” jelas Ardi menerangkan. Budi kemudian menimpali dengan mengatakan bahwa Matra yang dulu sudah jalan empat tahun saja, pernah mendapat pertanyaan melalui kolom surat surat pembaca tentang sasaran target mereka. Jadi menurutnya, persoalan mendefinisikan pria di Indonesia, adalah persoalan yang tidak pernah selesai.

Setelah hampir 90 menit bergulir, diskusi santai tentah majalah pria di Indonesia usai juga. Pengisi kolom cerpen di edisi pertama Bung!, Yusi Avianto Pareanom, didaulat untuk membacakan salah satu karyanya yang berjudul Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai. Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa.

Selama sekitar 15 menit, hadirin dibuai cerpen yang ia bacakan. Sesekali tawa pengunjung membahana di RURU Gallery yang menjadi tempat diskusi dan pembacaan cerpen malam ini. Yang lebih lucu adalah, cerpen ini sebenarnya menyedihkan, bahkan mengerikan, karena berkisah soal eksekusi mati. Namun berkat pilihan diksi yang memikat, Yusi sukses mengundang tawa setiap orang yang hadir di ruangan di ruangan berukuran 6 x 4 meter tersebut.

Efek Rumah Kaca hadir di penghujung acara Ayo Bung! dengan membawakan 10 lagu yang beberapa diantaranya adalah crowd pleaser seperti Cinta Melulu, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Desember, Di Udara, dan Balerina. Tak urung sekitar 30 pengunjung yang memadati teras ruangrupa kompak menyanyikan bait-bait lirik setiap lagu yang dilantunkan Cholil, sang vokalis, meski malam itu hujan sempat mampir di Tebet.

Berakhirnya Ayo Bung! malam itu juga terasa seperti akhir dari ‘hubungan’ antara Bung! dan pembacanya. Namun saya sadar bahwa perpisahan ini memang sudah diniatkan di awal, sejak tercetusnya ide untuk menerbitkan majalah pria sejumlah empat edisi saja.

Di waktu yang singkat ini tentu masih banyak hal yang belum tuntas dibahas. Namun, di waktu yang singkat ini pula, majalah yang menyapa pembacanya dengan sebutan ‘Bung’ dan ‘Nona’ ini  telah sukses tampil beda dengan menyuguhkan isu-isu menarik seputar hidup pria, namun tidak diberi porsi oleh majalah pria lainnya. Dan untuk itu, saya cukup bangga memproklamirkan diri sebagai salah satu pembaca majalah ini.

Sampai jumpa lagi, Bung!.

Destination: Unknown

DRIFT

Pada musim panas 1953, sekelompok ilmuwan melakukan perjalanan keliling kota Paris. Tak ada rencana, tak ada daftar tempat yang mesti dikunjungi, semua diserahkan pada impuls, yang saat itu tampak menjadi satu-satunya hal yang mendorong mereka untuk melakukan ‘pengelanaan’ tersebut. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seseorang dari suku Kabyle—etnis terbesar di Algeria—yang kemudian tanpa disadari, apalagi direncanakan sebelumnya, akan mengubah hidup mereka.

Tak ditemukan literatur yang menjelaskan isi obrolan antara kelompok tersebut dan seorang Kabyle yang buta huruf tersebut. Besar kemungkinan sekadar sapaan dan tanya-jawab basa-basi saja yang keluar dari mulut mereka sebagai pencair suasana. Hingga saatnya istilah “Psychogeography” terlontar dari mulut seorang Kabyle itu sebagai respon atas ‘jalan-jalan tak tentu arah’ yang sedang mereka lakukan. Guy Debord, teorikus Marxist asal Prancis dan salah satu pendiri Situationist International (SI), ikut dalam ‘pengelanaan’ itu.

Lalu apakah psikogeografi hanya membahas soal jalan-jalan tak juntrung, sebagaimana komentar orang Kabyle itu? Tidak juga. Kelompok revolusioner Situationist International tersebutlah yang kemudian mempolitisasi konsep psikogeografi dan menjadikannya kritik politis. Psikogeografi, menurut definisi Debord, secara lebih presisi, sekaligus berbeda dengan definisi orang Kabyle, adalah sebuah studi tentang efek lingkungan geografis atau tempat yang mengendalikan perilaku individu yang berada di dalamnya. Debord lebih jauh mengembangkan definisi psikogeografi tersebut dengan teori ciptaannya, dérive (drift), yaitu perjalanan tanpa rencana yang seluruhnya diatur oleh perasaan individual atas lingkungan sekitar, untuk pemetaan dan investigasi psikogeografi pada beberapa area berbeda. Singkatnya, arsitektur sesungguhnya mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya, jauh lebih besar daripada yang biasa diperkirakan.

Berjalan santai di ruang kota, para pejalan kaki mencoba “membaca” kota dan memahami arsitekturnya. Layaknya seorang pengagum rahasia, mereka melihat kota dengan penuh hasrat yang terpendam. Pada saat yang sama, mereka terlibat “rekonstruksi main-main”: berbalik menatap kota secara menyeluruh.

Ilustrasi teks lengkap Psychogeography Game of The Week yang diterbitkan di Potlatch #1, edisi 22 Juni 1954.

Ilustrasi teks lengkap Psychogeography Game of The Week yang diterbitkan di Potlatch #1, edisi 22 Juni 1954.

Proses berbalik inilah yang menjadi kunci strategi kelompok SI, atau yang mereka sebut sebagai “détournment. Mereka memakainya sebagai alat berdialektika, atau berpikir secara teratur, logis, dan teliti. Gaya ‘pemberontakan’ ini menggunakan kondisi masa lalu untuk menunjukkan ketidakberesan masa kini yang penuh kebohongan lagi berbalut ideologi. Sehingga jika dianalogikan, proses “berbalik” adalah proses melihat ke masa lalu dan berusaha “membaca” kota untuk menyingkap fakta-fakta tersembunyi di balik pulasan ideologi—yang dalam dimensi waktu sekarang berwujud arsitektur kota—yang menawan, namun sebenarnya menipu (deceiving).

Menggunakan teknik tersebut, para Situationist menyingkap kemiskinan yang menjadi skandal kehidupan sehari-hari di negara asal mereka, Prancis, pada 1950-an. Mereka berusaha memperlihatkan perbedaan yang nyata, antara apa yang terjadi dengan yang semestinya terjadi. Mereka ingin masyarakat dapat melepaskan hasrat terpendamnya, dan berhenti menjadi bagian dari masyarakat yang terkomodifikasi. Jika hal ini terlaksana, agaknya suasana keguyuban, kesatuan dalam ruang publik akan lebih diinginkan dibandingkan komodifikasi, perpecahan, dan privatisasi.1

Contoh pemetaan atmosfer kota berbasis ide-ide pergerakan Lettrist dan Situationist International. Peta Paris dipotong di beberapa area berbeda, yang oleh sebagian orang dialami sebagai lingkungan dengan karakter yang berbeda. Potongan-potongan area tadi diletakkan secara menyebar, sehingga menciptakan jarak mental yang terasa jauh. Dengan mengembara, membiarkan diri 'mengapung' atau 'melayang' (dérive), setiap orang dapat menemukan kesatuan hubungannya di suatu kota. Tanda panah berwarna merah tersebut menunjukkan jalur penyeberangan yang paling sering dilakukan, terpisahkan oleh arus lalu lintas.

Contoh pemetaan atmosfer kota berbasis ide-ide pergerakan Lettrist dan Situationist International. Peta Paris dipotong di beberapa area berbeda, yang oleh sebagian orang dialami sebagai lingkungan dengan karakter yang berbeda. Potongan-potongan area tadi diletakkan secara menyebar, sehingga menciptakan jarak mental yang terasa jauh. Dengan mengembara, membiarkan diri ‘mengapung’ atau ‘melayang’ (dérive), setiap orang dapat menemukan kesatuan hubungannya di suatu kota. Tanda panah berwarna merah tersebut menunjukkan jalur penyeberangan yang paling sering dilakukan, terpisahkan oleh arus lalu lintas.

Di negara-negara Barat, makna konsep psikogeografi kemudian mengalami pergeseran. Berangkat dari definisi milik Debord, bahwa efek lingkungan geografis mengendalikan perilaku individu, salah satu kasus yang bisa menjadi contoh adalah yang terjadi di Inggris. Pada 1980-an, Inggris mulai dipenuhi CCTV alias kamera pengintai di berbagai penjuru kota.2 Sejak itu, perilaku masyarakat otomatis dipengaruhi oleh kehadiran CCTV. Sehingga berjalan kaki dapat dianggap sebagai bentuk perlawanan jika bisa menghindar dari pandangan mesin-mesin pengintai itu. Dapat dibayangkan, bagaimana kikuknya masyarakat Inggris di luar rumah karena ‘terpaksa’ menjadi ‘teratur’ di depan kamera. Bagi yang tak suka dengan kondisi ini, mungkin akan membuat jalur khusus yang berisi rute-rute mana yang dianggap “cukup aman”, yang memiliki kamera dengan jumlah paling sedikit.3

Pergeseran-pergeseran yang terjadi tersebut turut meresahkan Iain Sinclair, penulis dan sineas asal Inggris yang juga kerap disebut sebagai psikogeografer kontemporer. Definisinya tentang psikogeografi memang lebih cair—yang menurutnya dicetuskan pertama kali oleh esais Thomas De Quincey: “Wanderings, slightly druggy, no pattern, and mapping out the city (pengelanaan, sedikit teler, tidak berpola, dan memetakan kota).”4 Namun pergeseran-pergeseran tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa yang tersisa dari psikogeografi adalah makna samar antara “berjalan kaki” dan “keliling kota”. Pernyataan itu masih merupakan bagian dari rangkaian kritiknya atas Will Self, penulis asal Inggris yang sempat memiliki kolom khusus tentang ‘psikogeografi’ di surat kabar The Independent periode 2003 – 2008. Sinclair menyatakan dengan tegas bahwa kolom-kolom Self tak mengusung semangat psikogeografi yang sebenarnya, melainkan sekadar deskripsi-deskripsi ruang dan tempat saja yang tak ada hubungannya dengan psikogeografi.

Di Indonesia sendiri, gaung psikogeografi belum begitu kentara. Namun, kita mengenal istilah yang memiliki makna dan mengusung semangat yang serupa dengan konsep yang ditawarkan oleh psikogeografi: “berjalan-jalan”. Dalam percakapan sehari-hari kita kerap mempersingkatnya menjadi “jalan-jalan”, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “bersenang-senang dengan berjalan kaki”. Tujuannya bukan lagi abstrak, seringkali justru tidak ada. Sehingga tanpa disadari, sebenarnya kita telah menerapkan konsep psikogeografi sejak lama.

Umumnya, seseorang berjalan-jalan dengan alasan mencari udara segar, melepas ketegangan otot, pikiran, dan sebagainya. Dari kegiatan iseng-iseng itulah terkadang kita menemukan “hadiah” yang mungkin tanpa sadar kita harapkan. Secara sederhana misalnya, kita berjalan-jalan keliling kompleks perumahan hanya untuk mencari udara segar setelah seharian berkutat di depan layar komputer. Di tengah perjalanan, kita berpapasan dengan teman lama yang kebetulan baru pindah rumah. Usai mengobrol singkat, kita meneruskan perjalanan ke blok selanjutnya. Dibandingkan yang lain, blok ini terlihat dijaga lebih ketat. Selain ada pos satpam di ujung gang, ternyata lebih dari satu pemilik rumah di gang ini yang memelihara seekor anjing yang cukup bikin nyali ciut. Haus lalu mulai terasa saat kita melewati area ketiga di mana ada penjual es kelapa muda yang mangkal. Di sana, kita singgah untuk istirahat dan melepas dahaga. Setelah puas, sore beranjak senja. Saatnya untuk pulang.

Dari pengelanaan singkat tersebut, sebuah peta mental telah tercipta. Di sana terdapat jejak-jejak virtual berbentuk acak, yang menyimpan karakter-karakternya sendiri. Jejak acak tersebut akan menemukan polanya, jika pengelanaan ini dilakukan berulang-ulang, meski melewati rute-rute yang berbeda sekalipun. Jika garis-garis pada peta lebih menunjukkan isi pikiran seorang perencana perkotaan,5 maka tidak demikian dengan peta mental yang telah melalui serangkaian pengalaman langsung. Di masa depan, peta tersebut akan membantu kita mencapai tujuan tertentu. Kalau pun tidak, ia masih dapat membuat kita seolah-oleh mengalami kembali pengelanaan tiga blok tersebut. Jika enggan berurusan dengan anjing galak, maka dengan sendirinya otak akan memerintahkan anggota tubuh yang lain untuk segera mengambil rute yang berbeda.

Ilustrasi peta mental psikogeografi berjudul The Cityman.

Ilustrasi peta mental psikogeografi berjudul “The Cityman”.

Pengelanaan-pengelanaan berbasis coba-coba juga dapat dipraktikkan saat kita beraktivitas menggunakan kendaraan. Karena suatu hal, macet misalnya, terkadang kita tergerak untuk segera mencari rute lain yang tidak memiliki hambatan serupa. Satu lokasi tujuan dapat dicapai dengan beberapa rute dengan suasana yang berbeda.

Hingga kini di Indonesia, tampaknya psikogeografi lebih banyak digunakan sebatas kepentingan individu. Jika ada yang yang mengeksplorasi untuk hal yang lebih besar dan lingkup yang lebih luas, jumlahnya tak banyak. Salah satunya barangkali komunitas Peta Hijau (Green Map Indonesia). Komunitas yang berdiri sejak 2001 itu mengemban misi mewadahi berbagai inisiatif lokal demi terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan. Komunitas mereka tersebar di beberapa kota di Indonesia. Hasil program komunitas ini cukup menarik untuk disimak, misalnya peta hijau keanekaragaman hayati dan peta informasi kawasan. Keduanya menghadirkan informasi yang dapat mendukung gaya hidup ramah sosial dan ramah lingkungan.

Green Map Indonesia juga kerap mengadakan lokakarya. Salah satu yang pantas dicermati adalah Lokakarya Peta Hijau Pejalan Kaki yang diadakan pada akhir Mei 2012 di Yogyakarta. Mereka mengajak masyarakat untuk mengenali berbagai permasalahan seputar isu pejalan kaki beserta fasilitasnya. Mereka memetakan kondisi trotoar serta perilaku pengguna jalan terhadap fasilitas jalanan yang ada.6 Pernah pula mereka mengadakan lokakarya bertajuk Kampung Memori yang pesertanya tak lain adalah anak dan para keponakan salah seorang anggota Green Map Yogyakarta sendiri, Maria Hidayatun. Ia ingin agar memori masa lalu mengenai kampung Nyutran, tempat di mana mereka lahir dan dibesarkan sebelum kemudian berpencar ke kota-kota lain, turut dirasakan oleh anak-cucu mereka.7

Berbagai inisiatif yang dilakukan warga di kotanya, salah satunya adalah untuk menjadikan kota sebagai hunian yang lebih manusiawi. Pemahaman psikogeografi dapat menjadi salah satu bekal untuk melaksanakan misi tersebut. Amat disayangkan jika akhirnya nilai yang tersisa dari studi ini hanya sekadar berjalan kaki keliling kota, alias sebuah bentuk baru pariwisata belaka.***


1 Sadie Plant, The Most Radical Gesture: The Situationist International in A Postmodern Age (Routledge, 1992). Tautan: http://www.geog.leeds.ac.uk/people/a.evans/psychogeog.html, diakses pada 1 Juni 2012, pukul 01:00 WIB.

2 Tidak sedikit yang berspekulasi bahwa hal ini dipicu oleh novel fenomenal karya George Orwell yang berjudul 1984. Novel distopia tersebut diterbitkan pada 1949, namun ceritanya mengambil waktu tahun 1984, saat kediktatoran partai Oligarki sedang berkuasa. Begitu fenomenalnya, hingga hal ini dianggap sebagai respon berlebihan—bahkan paranoid—terhadap sang penguasa.

3 Hingga kini, Inggris masih menjadi negara dengan jumlah CCTV terbanyak. Menurut situs Cctv.co.uk, jumlah CCTV di Inggris pada 2011 menunjukkan angka yang cukup fantastis, yakni 1,5 juta buah. Protes warga banyak bermunculan. Salah satu aksi protes paling terkenal akan serbuan kamera pengintai ini adalah karya street artist, Banksy, yang menuliskan “One Nation under CCTV” berukuran besar di dinding sebuah gedung. Tautan: http://www.cctv.co.uk/how-many-cctv-cameras-are-there-in-the-uk-in-2011. Karya Banksy bisa dilihat pada: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/1895625/Banksy-pulls-off-daring-CCTV-protest-in-London.html

4 Caff Masters: Iain Sinclair at The Copper Grill, tautan: http://www.classiccafes.co.uk/isinclair.htm. Diakses pada 31 Mei 2012, pukul 23:00 WIB.

5 Ade Darmawan, Tin Ribbon, Swarms, rhizomes, swarms, liquid spaces and gLÖbAL PosITioÑ deViCEs, katalog proyek seni rupa (Jakarta: ruangrupa, 2001). Versi lengkap kutipan adalah, Lines on the map tell more about thecity-planners’ mind than about the self-organizing systems.

6 Sudah bukan rahasia lagi jika pejalan kaki kerap diperlakukan sebagai pengguna jalan yang dipandang sebelah mata. Fasilitas trotoar yang jumlahnya tak seberapa dan kondisinya memprihatinkan, masih sering diserobot oleh para pengendara sepeda motor. Di video berjudul Pembela Hak Pejalan Kaki yang diunggah oleh wierki14 pada 3 September 2009 ini, tampak seorang ibu yang kesal dan memarahi pengendara sepeda motor yang menyerobot naik ke atas trotoar: http://www.youtube.com/watch?v=_Q84iAN0WVY. Di dunia maya sendiri, gerakan serupa hadir melalui akun Twitter @JalanKaki yang khusus menyoroti permasalahan pejalan kaki di Jakarta.

7 Adriani Zulva, Anak Kota Memeta Kampung, http://greenmap.or.id/peta-hijau-indonesia/34-yogyakarta/227-anak-kota-memeta-kampung.html. Diakses pada 1 Juni 2012, pukul 17:00 WIB.

 

*) Tulisan ini dibuat sebagai pengantar pameran DRIFT yang diselenggarakan pada 7 – 16 Juni 2012 di RURU Gallery, Jakarta. Pameran seni multimedia ini dikuratori oleh Mahardika Yudha dan melibatkan tiga seniman muda yakni Prilla Tania, Bagasworo Aryaningtyas, dan Ricky Janitras.

Gemini Complex

 

 

I probably came to this world as a Gemini for a reason. Not only because I was born on 25th May, but the twin symbol of this sign, is an actual reflection of myself. I just found out about the meaning now. A little bit too late, I must say.

I was a happy and optimistic kid. One thing led to another, that little girl was forced to slowly disappear. She can’t bear living in this unidealistic version of her world.

And now I’m here; a 26 years old cynic. A stranger to herself. Alone in the crowd. The other twin.

I miss that happy-optimistic kid.

Deep down inside, I know I have to find that little girl again. So I can be happy, so I can feel completed.

.

16 April 2012
Pk. 20:04

Reinterpreting Identities in Indonesian Classic Films Poster with Gambar Selaw

 

“Sundel Bolong” is the most selected film by the member of Gambar Selaw

If there’s a month where Indonesian movie buffs gather at the theater to glorify the beauty of art directing and story-telling, probably March is the answer. It’s simply because the National Film Month is celebrated every March 30th. To commemorate the moment, The Jakarta Arts Council and Kineforum are regularly held a two weeks-length series of events to satisfy the cinephile. It’s the sixth year since the first celebration of Sejarah Adalah Sekarang (History is Now). More than twenty film screenings (old and new), discussions, art exhibition, bazaar, and music concert can be enjoyed at Taman Ismail Marzuki (TIM) area.

One of the highlighted events is the Indonesian Classic Film Poster Illustrations exhibition by Gambar Selaw—or shortened by Galaw—curated by Ade Darmawan. Gambar Selaw is a drawing club established in September 2011, who has a regular meeting every Thursday night at Ruru Shop, ruangrupa. Sixty-four posters inspired by twenty classic Indonesian movies are exhibited at Galeri Cipta 3, TIM.

Kineforum randomly chose the movies, focusing on classic Indonesian movies that produced between 1950-1980s. There was no specific theme applied. “Before start making artworks, the artists watched the selected movies together at Kineforum. Then, they were free to choose the title of the movies they are going to reinterpreted,“ explained Darmawan on the opening night. The private screening was limited to several movies only, most of them are the less-popular ones, unlike Sundel Bolong, or Catatan si Boy.

This becomes interesting, since half of the movies were produced before the 1980’s, far before most of the artists have even born yet. It’s not a surprise if later, movies like Sundel Bolong, Gitar Tua Oma Irama, and Gundala Putra Petir become top 3 most picked movies by them, because those are movies are more popular amongst the others, and the characters have become somewhat icons over decades.

The film titles range over three decades, from the 1953’s production Harimau Tjampa, until the 1980’s hit about the local casanova, Catatan si Boy. Not to mention the legendary long-haired, hole in the back female ghost, Sundel Bolong, who brought the cast, the late Suzanna, to the top of public’s mind when it comes to horror movie.

The exhibition divided into two sections at the gallery. On the first floor, the artworks are divided into several movie titles, such as Sundel Bolong (1981), Djenderal Kantjil (1968), Manusia 6.000.000 Dollar (1981), Harimau Tjampa (1953), and Catatan si Boy (1987). All artworks were digitally finalized, so the artists can add texts like movie tagline and credit title.On the second floor, we can find illustrations from Gundala Putra Petir (1981), Intan Berduri (1972),Gitar Tua Oma Irama (1977), Asrama Dara (1958), Perawan Desa (1978), Tangkaplah Daku Kau Kujitak (1987), Pak Prawiro (1958) and many more. The artists also exhibit the original sketches here. Most of them are in an A4 format or smaller, to make it easier to be scanned for the finalization.

Sundel Bolong seemed to be the diva among all. Approximately eight artists created remake the movie poster of this nation’s most memorable ghost. The long hair and hole in the back, are kept exposed in an uncannily bone-chilling feeling. Lucky for us, new approach was offered that can save us from the the monotone iconic clichés. The initiatives came from two artists who thought it was a good idea to sprinkle the artwork with a bit of humor. Their attempt, in the end, wasn’t failed at all.

“Sundel Bolong” by The Popo

They are The Popo and Johan Ardhika. They have succeeded in making Sundel Bolong becomes less scary. Johan Ardhika, for example, he took advantage of one of the famous lines in the movie, “Satenya 200 tusuk, bang!” (200 satays, please!). Instead of exposing the back, he chose to expose the this legendary scene into the poster; Sundel Bolong eating satay. On the other hand, Popo, not only drew a female ghost figure showing her hollow back, but also put a street tailor as an extra stunt on her side. Riding his bicycle, the tailor seemed offering a service to Sundel Bolong—presumably to sew her back—but the lady ghost refused by giving him a hand signal. Popo, who is also known as Jakarta’s own street artist, is consistently using humor in most of his artworks. His other creation is Gundala Putra Petir (Gundala the Son of Lightning). This time, he made a literal interpretation of the movie title; Gundala were drawn holding a blue balloon on the right hand, and his father’s hand, the Lightning, with the left hand.

The mediums are varied; from drawing pen, pencil color, marker, water color, and many more. Unlike the mediums, the artist were using quite similar approaches in remaking these classic Indonesian movie posters. There were at least two major approaches.

The original “Catatan si Boy” film poster (right) with its illustration series by Gambar Selaw

The first, and most used approach by all of the artists is using the figure as the key. It is very common for us to see artworks exposing character(s) as the main subject of the poster. Major part of the gallery are filled with posters like that. To name a few, there were Sahal Abraham, who chose to draw Rhoma Irama in Sjumandjaja’s 1977 Gitar Tua Oma Irama; Nona Kumis, with herLupus and his infamous blowing bubble gum habit in Asrul Sani’s Tangkaplah Daku, Kau Kujitak (1986); Johan Ardhika, who exposed the national playboy with his iconic aviator sunglasses and Mercedes E-Class in Catatan si Boy (1987), and Tiffany, who deliberately exposed the female gang of four in Asrama Dara (1958).

Similar thing also found in the superhero movies section. Without having to look at the caption, we can easily recognize the movie title by looking at the exposed figure. There were DC Comics’ knock-off, Rama Superman Indonesia (1974) by Bayu Wibowo; Lahirnja Gatotkatja (1960) by Effi; and the local version of the famous tv serial The Six Million Dollar Man, Warkop DKI – Manusia 6.000.000 Dollar (1981) by Anis Wuku.

It’s not a surprise, considering it is probably the easiest and the safest way to make a movie poster; by using its key message. Therefore, people could recognize, and get a brief information about the story, at the same time.

“Djendral Kantjil” series by Gambar Selaw

The second approach, which I find more interesting, was by using a symbol that could represent the movie well enough. Danang Sulistyo maintain this simplicity in two of his artworks, a chicken-shaped money-box made of clay for Pak Prawiro (1958), and a gun for Djendral Kantjil (1968). If we look back at the movies, this is actually also a safe attempt. Pak Prawiro is a movie about a villager named Prawiro, who suggested people to start saving money for the better future. This movie was also produced as Bank Tabungan Pos propaganda. In other hand, Djendral Kantjil, is a children movie about a boy who asked his parents for a toy gun. After getting what we wanted, he started a troop with his friends, who later has managed to thwart a theft in their neighborhood.

The two approaches gave different impacts to the spectators. The first approach, which expose actors as main subject, delivered information about the character; while the second one, which tend to reveal symbol, delivered a message about the story.

At first, movie poster was a strategy to cut the promotional budget. They were designed to grab people’s attention and get them want to see the movie, before having to do a television commercial. If a picture speaks louder than a thousand words, a movie poster has a tougher job, because it has to sell itself at the same time.

We can’t ignore the fact that people having the need to get informed about the movie before they watch it. The sources are then open into three forms: text (synopsis), visual (poster), and audiovisual (trailer). So it is safe to conclude that the key message in a movie poster, is vital, because it grows become the movie identity itself. In this case, the artists have chosen a particular movie identity to be exposed in each artwork, but also, their identity as well. ***

Indonesian Classic Film Poster Illustrations, an art exhibition by Gambar Selaw, from 23 – 31 March 2012 at Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl. Cikini Raya 73, Central Jakarta. For more infomation about Gambar Selaw (Galaw): www.gambarselaw.com.

Cikini Express (bag. 1)

Bagaimana cuaca Canberra hari ini? Apakah sesejuk angin yang memeluk ruang kosong di sekelilingku saat bertemu denganmu lagi setelah sekian lama? Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu adalah saat dimana aku justru kembali mengucapkan salam perpisahan denganmu. Kali ini, entah untuk ke berapa kalinya.

Tidak ada pelukan hangat atau air mata. Dua hal yang sebenarnya tak yakin kuperlukan, sebagai tanda sah bahwa aku rela melepasmu pergi. Pada suatu saat nanti, aku pun akan melepaskanmu, bersama dengan ilusi harapan yang lahir dari penawaran-penawaran tidak sempurnamu. Akan ku lepaskan kau untuk terbang bebas mengejar impian-impian besarmu. Aku bukan bagian dari rencana besarmu, begitu juga kau bagiku. Kita hanyalah dua orang turis yang bertemu di tengah, dan mencecap manisnya sebuah persinggahan. Aku bukan tujuanmu, dan kau bukan tujuanku.

Sebagaimana layaknya turis, pernah ku berandai-andai untuk tidak meneruskan perjalanan. Persinggahan menjadi tujuan akhirku, lalu hidup bersamamu. Bersama fantasi roman seorang turis, yang menjadikan setiap perjalanan menjadi begitu menarik.

Kau tentu tahu sensasi itu. Jam terbangmu cukup tinggi dalam hal bepergian, pun soal perempuan-perempuan di perjalanan. Pernah kau memamerkan setumpuk kartu nama mereka yang pernah kau temui di berbagai moda transportasi. Kereta api menjadi favoritmu, karena di sanalah durasi mengobrol berbanding lurus dengan lama perjalanan. Kau pancing mereka dengan kecerdasanmu. Umpan yang nyaris tak pernah gagal, kecuali hanya bagi perempuan-perempuan yang terlalu mengantuk untuk meladenimu. Tapi bagi perempuan-perempuan yang penuh fantasi, atau sekadar butuh teman ngobrol, kau adalah pendamping ideal. Kail yang tak segan-segan mereka sambut. Kau seperti laki-laki Jawa yang menggunakan kemelaratan dan kesederhanaan sebagai komoditi utama. Laki-laki seperti itu selalu sukses menarik simpati perempuan. Kau juga orang Jawa, tapi kau berbeda. Kau melakukannya dengan jauh lebih elegan.

Pernah suatu kali kita menuju rumahku dan melewati baliho yang mempromosikan fasilitas rawat inap kelas VIP dan VVIP. Rumah Sakit yang menyediakan fasilitas ini adalah rumah sakit yang sempat memperkarakan seorang wanita dengan tudingan pencemaran nama baik. Taksi kita berhenti tepat saat lampu lalu-lintas berganti merah. Waktu kita menjadi lebih banyak untuk mengamati baliho yang terpampang angkuh di depan komplek rumahku ini. “Pelayanan eksklusif bagi Anda”, begitu bunyi kalimat jualannya. Rona jijik terlihat jelas dari wajahmu.

“Kalau pada saat yang bersamaan, ada bos retail yang menderita radang tenggorokan ingin dirawat di kamar kelas VVIP, dan seorang tukang bajaj dengan pneumonia akut. Menurutmu mana yang lebih dulu dilayani pihak rumah sakit? Tukang bajaj? Saya ragu.”

Tebakanku benar. Hanya perlu beberapa detik sebelum kau akhirnya membuka mulut dan berkomentar. Aku diam, membiarkanmu bermain dengan pikiranmu sendiri.

Kau masih menatap baliho tersebut lekat-lekat, seolah bisa merobohkannya hanya dengan menatapnya cukup lama. “Katanya nyawa manusia itu setara; tak perlu dibeda, apalagi detempeli label harga.”

“Betul, tapi rasa nyaman punya harga sendiri.” Siapa sangka jawaban spontanku ini cukup mengagetkanmu. Aku yang tanpa persiapan akan responmu, jadi merasa sedikit gugup. Perlahan-lahan taksi mulai bergerak, dan melaju menerobos sisa-sisa malam.

“Kamu benar. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk dapat merasakan rasa nyaman,” ujarmu seolah menegaskan. “Dan itu tak selamanya harus kita bayar dengan uang. Mungkin itu yang membuat kita begini, karena aku dan kamu, tak mampu membayar harga tertentu untuk dapat merasakan kenyamanan sepasang kekasih.” Kali ini kau tidak menoleh ke arahku. Meskipun pundak kita saling beradu, di antara kita hanya ada ruang kosong tempat hasrat yang memadu rindu.

***

Saat menulis surat ini, aku sedang berada di kedai kopi tempat kita biasa bertemu. Obrolan kita lebih dalam dari secangkir dangkal Black Americano yang selalu kau pesan. Ice Lemon tea mengantri di urutan ke dua, untuk mengimbangi durasi obrolan.

Menjelang tengah malam kita beranjak keluar, lalu berjalan kaki sambil mencari taksi. Seakan tak cukup, kita lanjut mengobrol di bawah langit malam yang tak begitu temaram.

“Apa kamu tidak capek?” tanyaku dengan maksud meledekmu yang tak kunjung berada dalam sebuah hubungan yang berkomitmen.

Kau cengengesan, seolah berkata bahwa pertanyaanku barusan sangat konyol. Seperti bocah yang bertanya cabai rasanya pedas atau tidak. Tapi toh kau tetap menjawab, meski singkat sekali.

“Ya capek.” Lantas terdengar desahan panjang.

“Enak sekali ya yang jadi pacarmu. Cuma modal kopi dan jalan-jalan, kamu sudah senang. Diajak ke taman, lantas diumbar, toh sudah girang.” Ujarmu mengalihkan topik. Sejurus kemudian poni tanggungku menjadi korban jahil tanganmu. Sukses diacak-acak. Membiarkanku yang cuma bisa bersungut-sungut.

“Kamu terdengar seperti dia. Dia dulu juga pernah bilang bahwa ia bersyukur mendapatkan gadis sepertiku. Nggak neko-neko dan mudah dibuat senang.”

“Dan kau selalu sukses dibuatnya senang?”

“Hmm.. Ya. Hampir selalu.”

“Lalu apa yang kau lakukan saat ia gagal menyenangkanmu?”

“Bertemu denganmu.”

Tak terasa kita sudah menyusuri Cikini hingga Jalan Raya Salemba. Di muka Rumah Sakit St. Carolus kita berpisah, setelah masing-masing memilih supir taksi yang sekiranya bisa dipercaya untuk mengantarkan sampai rumah dengan selamat.

Kedai kopi ini menyimpan banyak jejak dirimu. Lantai dua, di pojok dekat jendela. Tempat pertama kita sebagai teman dalam rahasia. Aku ingat saat itu kau menceritakan pengalaman atas kasurmu dengan perempuan dari luar kota. Teman lama katamu, yang datang ke Jakarta, lantas diculik oleh sepi. Atas nama pertemanan, kau pun setuju untuk bertukar cairan tubuh. Aku tak pernah menyalahkanmu, apalagi menghakimi perempuan itu. Tapi kalau kau tanya bagaimana perasaanku saat itu, sejujurnya aku heran. Betapa kita berdua begitu santai; kau menceritakan pengalaman seksualmu dengan perempuan lain kepadaku, dan aku mendengarkan nyaris tanpa emosi.

Malam semakin larut; di sudut Cikini kita saling melangut.

(bersambung)

Jakarta (Harus) Aman untuk Semua!

Belum hilang ingatan saya tentang kasus pemerkosaan seorang pedagang sayur (Ros) yang dilakukan oleh supir dan seorang penumpang mikrolet M26 jurusan Kampung Melayu – Bekasi pada akhir 2011 silam, beberapa hari lalu terjadi lagi pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum supir mikrolet C01 (Ciledug – Kebayoran Lama) dan rekan-rekannya. Kali ini korbannya seorang mahasiswi berinisial JM. Berbeda dengan Ros yang diperkosa di dalam angkot, JM sempat kabur terlebih dulu, namun kepalanya dipukul dari belakang hingga tak sadarkan diri. Para pelaku kemudian membawa dan memperkosanya di tempat lain. Keesokan paginya, JM tersadar dan berada di samping rel di sekitar Pasar Kebayoran Lama, dengan cairan putih–yang diduga sperma pelaku–berceceran di atas perutnya. (Penjelasan lihat di bagian Update di bawah)

Tak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan saya saat membaca berita tersebut. Sedih, geram, dan marah bercampur aduk! Saya mengutuk para pelaku yang saya anggap sebagai monster penebar teror di Jakarta! Saya adalah pengguna kendaraan umum aktif, yang berarti menggunakan bis, angkot, ojek, bajaj, taksi, dan sebagainya dalam bermobilitas setiap hari. Fenomena pemerkosaan ini tak ayal membuat nyali saya ciut. Apalagi saya tergolong sering beraktifitas hingga malam hari. Saya yakin pengguna kendaraan umum lainnya, terutama yang perempuan, juga merasakan hal yang sama.

Sejak dulu, Ayah kerap menasihati agar saya tak sering pulang larut malam karena alasan saya seorang perempuan. Jauh sebelum pemerkosaan marak terjadi. Beliau sempat berkata bahwa ia tidak akan sekhawatir ini andaikan saya seorang laki-laki. Sampai sekarang sebenarnya saya masih kurang bisa menerima nasihat beralasan gender seperti itu. Laki-laki sekalipun, kalau memang dirasa sebagai target tepat para pelaku, tetap bisa menjadi korban tindak kriminal. Namun demi menghormati ayah saya, yang bisa saya lakukan adalah selalu berusaha mengabari setiap akan pulang larut malam. Maka betapa sedihnya saya karena kekhawatiran ayah saya seolah terbukti oleh maraknya kasus kriminalitas, terutama pemerkosaan, yang terjadi belakangan ini.

Saya sempat riset singkat mengenai pemerkosaan yang terjadi baik di dalam kendaraan umum atau yang dilakukan oleh oknum supir/penumpang kendaraan umum, atau yang terjadi di tempat lain. Hasilnya cukup bikin geram.

Januari – pertengahan September 2011 terjadi 40 kasus pemerkosaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Para pelaku paling banyak melakukan aksinya di lingkungan perumahan, yakni mencapai 26 kasus. Lainnya, di jalan umum termasuk angkutan umum (3), kantor (1), keramaian (1), perumahan BTN (8), dan real estate (1). Sementara itu, wilayah yang paling rawan aksi pemerkosaan terletak di Kabupaten Tangerang mencapai 9 kasus. Lainnya, di Kabupaten Bekasi (7), Tangerang Kota (5), Jakarta Barat (4), dan Jakarta Pusat (4). (Sumber: Kompas) Sementara sepanjang 2011, berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, tindak pidana pemerkosaan meningkat 13,33 %. Pada tahun 2010 tindak pemerkosaan mencapai 60 kasus, sedangkan di tahun 2011 meningkat menjadi 68 kasus. Kendati jumlahnya meningkat, penyelesaian kasus pemerkosaan di tahun 2011 justru menurun, yakni 73,52 persen. Padahal, di tahun 2010 tingkat penyelesaian kasus pemerkosaan mencapai 75 persen. (Sumber: Kompas)

Berikut beberapa kasus pemerkosaan yang terjadi di dalam kendaraan umum atau yang dilakukan oleh supir dan dibantu temannya yang menyamar sebagai penumpang:

M-24 jurusan Slipi-Binus-Kebon Jeruk
LPS – Mahasiswi
Tewas — Ditemukan 21 Agustus 2011
Pembunuh ditangkap 25 Agustus 2011
 
D-02 jurusan Lebak Bulus – Pondok Labu
SRS (27) – Karyawati
Diperkosa — Kamis, 1 September 2011, Pk 00:00 
Pemerkosa ditangkap pada 13 September 2011
 
M-26 jurusan Kampung Melayu – Bekasi.
Ros (40) – Pedagang Sayur
Diperkosa — Rabu, 14 Desember 2011, Pk 04:00
Pemerkosa ditangkap pada 23 Desember 2011
 
Angkot 38 jurusan Cibinong – Gunung Putri (Bogor) | Nomor polisi F 1915 MB
B (15) – Siswi SMP
Dilecehkan secara seksual dan hampir diperkosa — Selasa 24 Januari 2012, Pk. 20:00
Pemerkosa ditangkap pada 27 Januari 2012

.

Dan berikut beberapa angkot yang juga patut diwaspadai:

U-04 (Rawamangun – Kelapa Gading)
3 penumpang mencurigakan — pertengahan 2011, Pk 22:00
 
M-16 jurusan Kampung Melayu – Pasar Minggu
Adik temannya Rahma Yulianti
Hampir diculik — 22 Januari 2012, 20:00

Rahma Yulianti (@rahmaahmad) pada Senin (23/1) malam, sesaat sebelum tulisan ini diunggah, menceritakan pengalaman naas adik temannya yang hampir diculik oleh supir angkot M-16. Kejadiannya sekitar pk 20:00. Beruntung, ada seorang pengendara motor yang mendengar teriakan permintaan tolongnya, dan berhasil menghentikan mikrolet tersebut setelah mengejar hingga ke Matraman. Kronologisnya bisa dibaca (dari bawah ke atas) di rangkaian tweet-nya berikut ini:

Selama ini saya tidak punya alat khusus untuk digunakan sebagai alat bela diri. Namun ada beberapa benda–yang saya bawa setiap hari–yang sepertinya cukup efektif digunakan jika dalam keadaan terdesak, yakni:

  • Pensil mekanik: Cukup tajam untuk ditancapkan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Pulpen: Cukup tajam untuk ditancapkan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Penggaris besi 15 cm: Cukup tajam untuk digoreskan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Cutter: Cukup tajam untuk digoreskan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
 

Selain alat tulis, saya juga selalu bawa pisau lipat yang kebetulan menjadi gantungan kunci. Jika tidak ada, alat kikir  yang biasa menempel pada gunting kuku dan sepatu berhak lancip juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Target utama: wajah pelaku. Selain itu, benda-benda berat seperti buku tebal, payung lipat, sepatu wedges, bisa dimanfaatkan sebagai alat pukul. Target utama: kepala pelaku.

Ada dua benda yang sering direkomendasikan sebagai alat bela diri, yakni setruman listrik dan semprotan air cabai/ merica. Saya sendiri sudah lama mencari alat ini. Beruntung, seorang teman memberikan informasi bahwa kedua alat ini bisa dibeli di forum jual-beli dengan harga terjangkau. Bagi yang merasa benar-benar membutuhkan, informasi lengkap kedua barang bisa dilihat di sini.

Opsi kedua, kita bisa membuat semprotan air cabai/merica sendiri. Caranya, cukup beli semprotan mini yang banyak dijual di supermarket atau toko kosmetik. Harganya kurang dari Rp 50,000. Lalu diisi air yang dicampur ulekan cabai dan/atau merica bubuk.

Jika kita sudah memiliki satu atau beberapa alat bantu tersebut, pastikan agar kita menaruhnya di lokasi yang mudah dijangkau. Misalnya, taruh pisau lipat/ setruman listrik/ penggaris besi di saku celana. Kebalikan dengan dompet, benda-benda ini sebaiknya ditaruh di saku belakang. Sebab, benda-benda yang ditaruh di saku celana belakang cenderung lebih mudah diambil dibandingkan dengan yang ditaruh di saku depan. Untuk yang pakai rok, benda-benda tersebut bisa ditaruh di saku tas bagian depan, atau tas tambahan yang kerap dibawa. Pastikan saja kita mudah mengambilnya saat dibutuhkan.

Selain alat bantu yang disebutkan di atas bisa, yang tak kalah penting saat menumpang kendaraan umum adalah selalu waspada dan pintar-pintar membaca situasi dan kondisi. Lengah sedikit bukan tidak mungkin kita akan menjadi korban. Saya selalu berusaha untuk memperpendek jalur transportasi jika pulang dalam keadaan mengantuk. Misalnya jika biasanya saya naik bis lalu menyambung angkot, jika sedang mengantuk, saya akan memilih pulang naik ojek atau taksi. Namun terkadang masalah biaya kerap membuat kita pelit untuk mengeluarkan uang lebih. Saya sendiri pun terkadang masih pelit, namun saya sadar saya harus mengubah kebiasaan buruk ini. Saya beruntung selalu pulang dalam kondisi selamat, namun kita tidak tahu kapan bahaya akan mengincar.

Ada beberapa kebiasaan yang saya lakukan saat naik kendaraan umum, yakni sebagai berikut:

  • Pilih kursi dekat pintu. Skenario terburuk, jika terjadi sesuatu, posisi ini memudahkan kita untuk keluar. Jika di bis, pilih kursi bagian depan, dengan pintu bis berada di depan atau samping kiri kita. Jika di angkot, bisa pilih di samping supir (sisi terluar, persis samping pintu), atau di bagian belakang yang persis di sebelah/ depan pintu. Namun saya lebih sering memilih yang persis di samping pintu.

                                        

                                                             Keterangan: Yang ditandai hijau adalah posisi yang biasa saya pilih.

  • Yang sebaiknya dihindari, terutama pada malam hari: 
  1. Angkot yang berkaca gelap dan dengan sound system yang dipasang kencang-kencang. Kedua hal tersebut turut bisa dijadikan peluang terjadinya tindak kriminal.
  2. Angkot kosong, atau berpenumpang laki-laki semua.
  3. Jika supirnya “memaksa” untuk naik, apapun alasannya, misalnya “Ini angkot terakhir!”.
  • Jika penumpang perempuan terakhir akan turun, dan lokasi tujuan kita masih jauh, sebaiknya kita ikut turun. Bukan tidak mungkin sang pelaku akan memanfaatkan momen setelah ini. Dalam kondisi seperti ini, lebih baik berpikiran buruk dan melakukan tindakan preventif ketimbang memaksakan diri berpikiran positif namun akhirnya menyesal.
  • Baca situasi dan kondisi penumpang lain. Umumnya saya tidak suka menghakimi orang lain dari penampilannya, tapi demi keamanan, saya terpaksa melakukannya. Saya sering urung naik bis/angkot jika isinya laki-laki semua, terutama jika sudah malam. Terkesan seksis memang. Hal ini tidak hanya dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan pribadi, namun juga sebagai respon maraknya pemerkosaan di kendaraan umum. Siapa korbannya? Perempuan. Siapa pelakunya? Laki-laki. Yes, I do stereotype. It’s faster.
  • Waspadai beberapa penumpang laki-laki yang terlihat saling kenal. Perhatikan posisi duduknya, apakah mereka saling berdampingan atau justru menyebar. Kedua posisi ini bisa dipilih para pelaku karena berbagai pertimbangan. Jika bersebelahan, mereka akan lebih mudah berkordinasi. Namun jangan anggap enteng jika mereka duduk berjauhan. Posisi menyebar bisa menyulitkan calon korban, karena ia akan disergap dari berbagai penjuru.

Saya pernah naik angkot (KWK U-04 jurusan Rawamangun  – Kelapa Gading) dari Arion Rawamangun sekitar pukul 22:00. Saat itu kondisi memang sudah sepi. Di dalam, ada tiga orang penumpang laki-laki yang duduk berdampingan di bagian belakang. Saya mengambil posisi duduk persis di depan mereka, samping pintu. Di samping supir, terdapat penumpang laki-laki tampak seperti pekerja kantoran. Dari awal naik, saya sudah memperhatikan ketiga penumpang tersebut. Remaja 20 tahunan berpakaian kasual yang tampak habis minum-minum. Angkot baru berjalan sekitar 200 meter, penumpang yang di tengah seperti menguap dan memalingkan muka ke teman di sebelah kirinya. Mata saya tak lepas dari dia. Saya perhatikan dengan seksama, ia seperti mencoba membisikkan sesuatu ke temannya itu. Perasaan saya tidak enak. Kontan saja saya menyetop angkot, dan langsung turun saat itu juga. Ketiga penumpang laki-laki tersebut, terutama yang di tengah, tampak sedikit kaget karena saya tiba-tiba turun. Saya langsung mencari posisi “aman” untuk mencari taksi. Untung ada bengkel yang masih buka, dan tak lama ada taksi kosong yang melintas. Saya bergegas pulang.

  • Jika mengantuk atau terlalu lelah, usahakan pulang dengan transportasi yang langsung sampai tujuan (ojek, taksi, bajaj). Lebih baik lagi kalau ada yang bisa menjemput. Rasa lelah atau kantuk dapat mengganggu konsentrasi kita untuk tetap waspada. Usahakan untuk selalu mencatat nomor kendaraan (nomor polisi atau nomor unit), dan kirim SMS ke pasangan atau keluarga. Syukurnya kebiasaan ini masih saya lakukan hingga sekarang.

Masih berhubungan dengan stereotipe yang saya lakukan saat menumpang kendaraan umum tadi, tanpa sadar saya membuat tiga kategori penumpang; hijau (aman), kuning (waspada), merah (siaga). Berikut pembagiannya:

  • Hijau (aman): Manula, anak-anak, ibu-ibu, perempuan/laki-laki berpenampilan pekerja kantoran, yang membawa banyak barang, pelajar.
  • Kuning (waspada): Grup pelajar (khususnya SMA) laki-laki, yang pakai jaket dan/atau kacamata hitam,
  • Merah (siaga): Grup laki-laki dewasa (yang duduknya berdampingan atau justru menyebar), yang berpakaian cenderung lusuh dan terlihat mabuk, laki-laki yang bahasa tubuhnya tubuhnya mengisyaratkan dia berkuasa dan harus ditakuti.

Kriteria pelaku kejahatan memang tidak kaku merujuk pada kategorisasi amatir buatan saya di atas. Banyak juga pelaku yang lihai menyamar sehingga radar kewaspadaan kita sukar mendeteksi keberadaannya. Sekali lagi saya ingin menegaskan, kategori tersebut seolah-olah mengatakan bahwa “laki-laki = penjahat”, namun saat naik kendaraan umum, penghakiman di awal kadang diperlukan. Apalagi tindak kriminalitas yang marak terjadi belakangan adalah pemerkosaan.

Selain alat bantu, kebiasaan, dan kategorisasi penumpang, cara lain yang bisa digunakan untuk menjaga diri adalah tak lain dan tak bukan mengikuti kursus bela diri. Pilihannya banyak, tinggal disesuaikan dengan minat, misalnya pencak silat, merpati putih, taekwondo, karate,  Thai boxing, atau bahkan capoeira. Gerakan-gerakan yang diajarkan bisa berguna bagi kita untuk melawan jika dalam kondisi terdesak.

Sumber: Self Defense Indonesia

Salah seorang teman menginformasikan tentang Krav Maga. Krav Maga adalah seni bela diri tangan kosong asal Israel, yang salah satu metodenya adalah pertahanan diri (self defense). Kurikulum Krav Maga ada yang khusus ditujukan bagi perempuan yang ingin melindungi dirinya dari ancaman tindak kejahatan. Beberapa hal yang diajarkan antara lain membaca situasi, perkiraan skenario yang mungkin terjadi, dan cara melucuti senjata.  Beberapa prinsip dasar yang terdapat dalam Krav Maga antara lain:

  • Jangan terluka
  • Menetralkan penyerang secepat mungkin
  • Melakukan transisi dari teknik bertahan ke teknik menyerang secepat mungkin
  • Eksploitasi semua reflek alami dalam tubuh
  • Eksploitasi semua bagian tubuh yang mudah diserang (termasuk mata, tenggorokan, selangkangan, dan lain-lain)
  • Penggunaan semua benda yang ada sebagai bantuan
Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca di Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Krav_Maga. Jika berminat, berikut beberapa lokasi yang menyediakan latihan Krav Maga:
.
Self Defense Indonesia
Gelora Bung Karno
Pintu 6 – Hall Tinju PERTINA
Jadwal: Sabtu, pk 10:00 -12:00
Biaya: Rp 350,000/ bulan
.
Krav Maga Indonesia/Komando Indonesia
Kompleks Depsos
Jl. Depsos XI/3 Bintaro
Jakarta Selatan
http://streetfightmma.blogspot.com
.
ADRIA Fitness Center
Jl. Cempaka V No.33, Bintaro
Jakarta Selatan
Telp: (021) 736 90174/ 5 (Pepi / Imel)

.

Jika ada yang ingin berbagi informasi terkait bisa melalui blog ini atau melalui akun Twitter @elsara. Sebisa mungkin informasi tersebut akan saya sebarkan agar orang-orang semakin waspada akan bahaya yang mengintai.

Siapa yang rela kalau kota ini dikacaukan oleh monster bejat yang bergentayangan mengincar mangsa? Jakarta, seharusnya tidak semengerikan monster kolong tempat tidur yang menjelma menjadi mimpi buruk anak-anak setiap malam. Jakarta, seharusnya tidak punya tempat bagi para pengusik brengsek yang bisanya cuma menebar teror. Karena Jakarta, seharusnya aman bagi seluruh penghuninya tanpa terkecuali.

 
 
.. 
Sumber foto: GenuiBarnes & Noble
..


Update 25 Januari: 

Baca juga “Bersiaga di Jalan Jakarta” yang ditulis oleh seorang kawan, Haris Firdaus. Saya sepakat dengan pernyataannya bahwa siap siaga tak berarti sama dengan kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan. Di tulisan ini, kita juga bisa menemukan beberapa link artikel menarik perihal beraktifitas di jalanan Jakarta.

Update 27 Januari: 
Angkot 38 jurusan Cibinong – Gunung Putri (Bogor) | Nomor polisi F 1915 MB
B (15) – Siswi SMP
Dilecehkan secara seksual dan hampir diperkosa — Selasa 24 Januari 2012, Pk. 20:00
Pemerkosa ditangkap pada 27 Januari 2012

Miris! Baru kemarin pemerkosa JM berhasil ditangkap, hari ini muncul lagi berita pemerkosaan di daerah Bogor, Jawa Barat. Modus operandi sang pelaku–yang merupakan supir angkot itu sendiri–adalah menyuruh B, penumpang terakhir di angkot, pindah ke kursi depan di sebelahnya. B sempat dilecehkan secara seksual. Karena kurang puas, sang pelaku menyuruh B pindah ke kursi belakang lagi agar ia bisa meneruskan niat bejatnya. Ia kemudian berhenti, karena ternyata B sedang menstruasi. Kemudian ia menurunkan B di tengah jalan. Menurut berita tersebut, darah menstruasi B masih tertinggal di kursi belakang. Berita selengkapnya bisa di baca di “Lagi, Sopir Angkot Coba Memerkosa“.

Update 30 Januari

Terjadi perubahan minor pada paragraf yang menjelaskan soal stun gun (setruman listrik). Saya menambahkan pernyataan bahwa stun gun sebaiknya dimiliki oleh mereka yang benar-benar merasa butuh. Pasalnya, beberapa waktu lalu Jakarta Globe melansir berita (http://bit.ly/zGLXEW) tentang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Rikwanto, yang menganjurkan agar perempuan pengguna kendaraan umum mempersenjatai dirinya dengan semprotan merica atau setruman listrik. Pro kontra soal anjuran ini menyeruak dari berbagai kalangan, terlihat dari komentar-komentar yang masuk.

Alat bervoltase tinggi ini memang perlu penanganan khusus, tak hanya dalam menyimpan, namun juga dalam menggunakan. Karena penasaran bentuk dan cara kerjanya, akhirnya saya beli satu buah di forum jual-beli yang cukup populer di negeri ini. Alat ini datang dalam paket yang terdiri dari stun gun, sarung, dan kabel untuk mengecas. Saya terpaksa meraba-raba sendiri cara menggunakannya, karena alat ini tidak disertai petunjuk penggunaan yang jelas. Saya sempat terlonjak kaget saat listrik mengalir ke kedua permukaan besi di penghujung alat ini, karena suara yang dihasilkan cukup keras. Sayangnya alat ini tidak dilengkapi tutup yang dapat melindungi kita dari kecelakaan menyetrum diri sendiri. Untuk itu saya mencoba mereka skenario yang mungkin terjadi, seperti bagaimana posisi alat ini tersimpan di tas, lalu bagaimana saya mengambilnya jika saat kondisi terdesak. Secara hati-hati saya menggerakkan tangan dalam tas, meraba-raba dan mencoba menggapai stun gun, mengeluarkannya dari sarung, menekan tombol “On”, lalu mengarahkan alat tersebut kepada pelaku. Harus dilakukan dengan cepat dan tepat! Semua itu dapat terjadi jika kita bisa mengendalikan emosi, berpikir strategis, dan pada akhirnya menguasai keadaan.

Alat ini tergolong ilegal di banyak negara. Masih dalam artikel yang sama, Rikwanto juga menyarankan agar kepemilikan alat ini terdaftar secara resmi. Oke, ada dua hal “lucu” yang saya tangkap dari pernyataan Rikwanto dalam artikel tersebut. Pertama, dengan menyarankan masyarakat mempersenjatai dirinya dengan alat bela diri, seperti sayup-sayup mendengar ia dan jajaran Polri berkata “Kami tidak sanggup melindungi kalian“. Kedua, sudah disuruh melindungi diri sendiri, kita masih disuruh untuk mendaftarkan alat bela diri, yang mungkin cuma ia-dan-Tuhan yang tahu di mana dan bagaimana cara mendaftarkannya. Selama ini tidak pernah ada sosialisasi yang jelas mengenai kepemilikan “senjata”. Semakin lucu karena saya membeli alat ini di sebuah forum internet, tempat di mana semua orang bisa dengan bebas menjual sesuatu.

Saya anggap apa yang keluar dari mulut Rikwanto adalah pernyataan resmi Polisi, jadi sudah seharusnya ia juga memikirkan kelanjutan dari sarannya tersebut, yakni sosialisasi penggunaan stun gundan cara mendaftarkannya–jika memang alat tersebut diposisikan sama dengan senjata api. Jangan hanya bisanya menyuruh masyarakat saja, lantas kemudian lepas tangan seolah tidak peduli dengan masyarakat yang kian cemas dengan keselamatan mereka.

Bagi saya, keamanan adalah hak asasi setiap orang, dan memiliki alat bela diri adalah salah satu cara untuk mempertahankan rasa aman tersebut. Jika memang merasa perlu memiliki saatu atau bahkan beberapa alat bela diri, sebaiknya disesuaikan dengan kenyamanan diri kita saat menggunakannya. Jika Anda adalah seorang yang ceroboh, mudah panik, dan kurang bisa mengontrol emosi, saya tidak menganjurkan untuk memiliki stun gun. Selain alat-alat yang sudah saya sebutkan di bagian awal tulisan ini, ada opsi lain–diberikan oleh salah seorang komentator di artikel Jakarta Globe tadi–yang menurut saya patut dipertimbangkan, yakni alarm pribadi. Alat ini berfungsi seperti alarm-alarm pada umumnya, namun bisa kita bawa kemana-mana karena bentuknya yang hanya sebesar gantungan kunci. Di negara lain, alarm pribadi diberikan orangtua kepada anaknya, sebagai penanda jika ada yang berniat buruk kepada buah hati mereka. Alat ini memang hanya berfungsi mengeluarkan suara saja, namun suaranya yang keras (direkomendasikan yang 140 desibel) tersebut dapat menarik perhatian banyak orang jika suatu saat kita sedang dalam kondisi terdesak. Harapannya tentu orang-orang yang mendengar akan berhamburan keluar dan menolong kita. Saya tidak menemukan banyak informasi soal di mana bisa membeli alat ini, namun semoga ketiga link ini cukup membantu: http://bit.ly/a9wLOV,  http://bit.ly/y4vwe3, dan http://bit.ly/zVkd96.

Update 30 Januari, pk. 11:00 WIB

Beberapa hari lalu menyeruak kabar bahwa kasus pemerkosaan yang dialami JM (18) pada 20 Januari lalu adalah palsu. Supir-supir C-01 merasa dirugikan oleh  berita yang terlanjur menyebar di berbagai media. Pada Jumat, 27 Januari silam, mereka berunjuk rasa dan menuntut media–terutama TV One–untuk meluruskan berita dan membersihkan nama baik mereka. Menurut berita yang dilansir Kompas pada Minggu 29 Januari, JM memalsukan laporan karena takut orangtuanya mengetahui bahwa ia telah melakukan hubungan seksual dengan Su.

Saya pribadi menyesalkan apa yang telah dilakukan JM. Ia memanfaatkan kondisi demi “menyelamatkan” dirinya sendiri. Ia tak sadar bahwa “kasus pemerkosaan” yang ia laporkan tersebut dapat meningkatkan kecemasan masyarakat, dan merugikan orang lain–dalam hal ini supir-supir C-01 yang mengaku pendapatannya langsung turun drastis.

Dengan ini, saya menghapus kasus JM dari daftar kasus tindakan kriminal di kendaraan umum, yang terdapat di tulisan ini. Satu yang tidak boleh berubah, kita harus tetap waspada. Semoga selamat sampai di tujuan!

Update 26 Februari

Seorang mahasiswi di Bandung menceritakan pengalamannya menjadi korban penodongan dengan senjata api di angkot. Saat itu, ia bukan penumpang satu-satunya, ada enam orang penumpang lainnya. Ia menceritakan dengan detail kronologis kejadian penodongan tersebut, dan respon yang ia terima saat melaporkannya kepada polisi. Kisah selengkapnya bisa dibaca di “Saya Ditodong Pistol dan Petugas Pelayan Masyarakat Itu Dingin“.

Angkot  jurusan Cicadas-Cibiru (Bandung)
Nafielah Mahmudah
Ditodong oleh oknum bersenjata api — Selasa 24 Februari 2012
Pelaku berhasil melarikan diri.
Update 14 Maret

Beberapa waktu lalu, seorang siswi SMP diperkosa oleh supir dan rekannya di angkot di  daerah Bogor. Ini patut diwaspadai, sebab berarti tingkat kriminalitas di kota Bogor tergolong tinggi!

Angkot 03  jurusan Ciapus-Ramayana (Bogor)
Siswi SMP
Diperkosa oleh supir angkot (R) dan rekannya (P) — Selasa 24 Februari 2012, Pk. 17:00
R ditangkap pada 6 Maret 2012, sementara P masih buron.

Anehnya, Detik.com (Duh! Siswi SMP di Bogor Diperkosa Bergilir Sopir Angkot) memberitakan bahwa korban diperkosa, sementara Seputar Indonesia (Siswi SMP Nyaris Diperkosa Sopir Angkot) memberitakan bahwa korban nyaris diperkosa.