Freedom Lecture #7 by Ade Darmawan

Freedom Lecture #7 by Ade Darmawan, artist and activist from Indonesia – Vrijheidslezing from De Balie on Vimeo.

with opening panel by Jacqueline Hicks (Researcher at KITLV).

Keywords: Indonesia, politics, human rights, contemporary art, street art, communities, youth, urban space, virtual space, authoritarian, state-civil society relations.

Do we want to kill them or save them?

Nafsiah Mboi di Konferensi AIDS Internasional di Melbourne (Juli 2014)

Nafsiah Mboi di Konferensi AIDS Internasional di Melbourne (Juli 2014)

Saat menghadiri konferensi pers yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) beberapa tahun lalu, salah satu pembicara yang hadir yaitu Nafsiah Mboi. Waktu itu ia masih menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif KPA.

Ia banyak menjelaskan langkah-langkah strategis untuk menekan penyebaran AIDS di Indonesia. Dua di antaranya ialah pengadaan jarum suntik baru dan kondom gratis, terutama di daerah-daerah yang tingkat penyebarannya tinggi. Jelas ini bukan pilihan populis, apalagi di tengah masyarakat agamais dan moralis. Meski awalnya ikut mengernyitkan dahi, saya optimis langkah kontroversial tersebut bisa menyelamatkan banyak orang.

Beberapa hari lalu, di acara International AIDS Conference yang diadakan di Melbourne, Nafsiah yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI sejak 2012, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan:

“Do we want to kill them? Or do we want to save them? The easiest way is to kill them.”

 

Saya pikir sudah lewat masanya kita menutup mata. Bahwa pecandu narkoba dan pengidap AIDS itu adalah kenyataan yang mesti kita terima dan hadapi. Karena yang paling penting saat ini adalah bagaimana agar penyakit tersebut tidak mencelakai lebih banyak orang lagi.

Jakarta (Harus) Aman untuk Semua!

Belum hilang ingatan saya tentang kasus pemerkosaan seorang pedagang sayur (Ros) yang dilakukan oleh supir dan seorang penumpang mikrolet M26 jurusan Kampung Melayu – Bekasi pada akhir 2011 silam, beberapa hari lalu terjadi lagi pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum supir mikrolet C01 (Ciledug – Kebayoran Lama) dan rekan-rekannya. Kali ini korbannya seorang mahasiswi berinisial JM. Berbeda dengan Ros yang diperkosa di dalam angkot, JM sempat kabur terlebih dulu, namun kepalanya dipukul dari belakang hingga tak sadarkan diri. Para pelaku kemudian membawa dan memperkosanya di tempat lain. Keesokan paginya, JM tersadar dan berada di samping rel di sekitar Pasar Kebayoran Lama, dengan cairan putih–yang diduga sperma pelaku–berceceran di atas perutnya. (Penjelasan lihat di bagian Update di bawah)

Tak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan saya saat membaca berita tersebut. Sedih, geram, dan marah bercampur aduk! Saya mengutuk para pelaku yang saya anggap sebagai monster penebar teror di Jakarta! Saya adalah pengguna kendaraan umum aktif, yang berarti menggunakan bis, angkot, ojek, bajaj, taksi, dan sebagainya dalam bermobilitas setiap hari. Fenomena pemerkosaan ini tak ayal membuat nyali saya ciut. Apalagi saya tergolong sering beraktifitas hingga malam hari. Saya yakin pengguna kendaraan umum lainnya, terutama yang perempuan, juga merasakan hal yang sama.

Sejak dulu, Ayah kerap menasihati agar saya tak sering pulang larut malam karena alasan saya seorang perempuan. Jauh sebelum pemerkosaan marak terjadi. Beliau sempat berkata bahwa ia tidak akan sekhawatir ini andaikan saya seorang laki-laki. Sampai sekarang sebenarnya saya masih kurang bisa menerima nasihat beralasan gender seperti itu. Laki-laki sekalipun, kalau memang dirasa sebagai target tepat para pelaku, tetap bisa menjadi korban tindak kriminal. Namun demi menghormati ayah saya, yang bisa saya lakukan adalah selalu berusaha mengabari setiap akan pulang larut malam. Maka betapa sedihnya saya karena kekhawatiran ayah saya seolah terbukti oleh maraknya kasus kriminalitas, terutama pemerkosaan, yang terjadi belakangan ini.

Saya sempat riset singkat mengenai pemerkosaan yang terjadi baik di dalam kendaraan umum atau yang dilakukan oleh oknum supir/penumpang kendaraan umum, atau yang terjadi di tempat lain. Hasilnya cukup bikin geram.

Januari – pertengahan September 2011 terjadi 40 kasus pemerkosaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Para pelaku paling banyak melakukan aksinya di lingkungan perumahan, yakni mencapai 26 kasus. Lainnya, di jalan umum termasuk angkutan umum (3), kantor (1), keramaian (1), perumahan BTN (8), dan real estate (1). Sementara itu, wilayah yang paling rawan aksi pemerkosaan terletak di Kabupaten Tangerang mencapai 9 kasus. Lainnya, di Kabupaten Bekasi (7), Tangerang Kota (5), Jakarta Barat (4), dan Jakarta Pusat (4). (Sumber: Kompas) Sementara sepanjang 2011, berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, tindak pidana pemerkosaan meningkat 13,33 %. Pada tahun 2010 tindak pemerkosaan mencapai 60 kasus, sedangkan di tahun 2011 meningkat menjadi 68 kasus. Kendati jumlahnya meningkat, penyelesaian kasus pemerkosaan di tahun 2011 justru menurun, yakni 73,52 persen. Padahal, di tahun 2010 tingkat penyelesaian kasus pemerkosaan mencapai 75 persen. (Sumber: Kompas)

Berikut beberapa kasus pemerkosaan yang terjadi di dalam kendaraan umum atau yang dilakukan oleh supir dan dibantu temannya yang menyamar sebagai penumpang:

M-24 jurusan Slipi-Binus-Kebon Jeruk
LPS – Mahasiswi
Tewas — Ditemukan 21 Agustus 2011
Pembunuh ditangkap 25 Agustus 2011
 
D-02 jurusan Lebak Bulus – Pondok Labu
SRS (27) – Karyawati
Diperkosa — Kamis, 1 September 2011, Pk 00:00 
Pemerkosa ditangkap pada 13 September 2011
 
M-26 jurusan Kampung Melayu – Bekasi.
Ros (40) – Pedagang Sayur
Diperkosa — Rabu, 14 Desember 2011, Pk 04:00
Pemerkosa ditangkap pada 23 Desember 2011
 
Angkot 38 jurusan Cibinong – Gunung Putri (Bogor) | Nomor polisi F 1915 MB
B (15) – Siswi SMP
Dilecehkan secara seksual dan hampir diperkosa — Selasa 24 Januari 2012, Pk. 20:00
Pemerkosa ditangkap pada 27 Januari 2012

.

Dan berikut beberapa angkot yang juga patut diwaspadai:

U-04 (Rawamangun – Kelapa Gading)
3 penumpang mencurigakan — pertengahan 2011, Pk 22:00
 
M-16 jurusan Kampung Melayu – Pasar Minggu
Adik temannya Rahma Yulianti
Hampir diculik — 22 Januari 2012, 20:00

Rahma Yulianti (@rahmaahmad) pada Senin (23/1) malam, sesaat sebelum tulisan ini diunggah, menceritakan pengalaman naas adik temannya yang hampir diculik oleh supir angkot M-16. Kejadiannya sekitar pk 20:00. Beruntung, ada seorang pengendara motor yang mendengar teriakan permintaan tolongnya, dan berhasil menghentikan mikrolet tersebut setelah mengejar hingga ke Matraman. Kronologisnya bisa dibaca (dari bawah ke atas) di rangkaian tweet-nya berikut ini:

Selama ini saya tidak punya alat khusus untuk digunakan sebagai alat bela diri. Namun ada beberapa benda–yang saya bawa setiap hari–yang sepertinya cukup efektif digunakan jika dalam keadaan terdesak, yakni:

  • Pensil mekanik: Cukup tajam untuk ditancapkan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Pulpen: Cukup tajam untuk ditancapkan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Penggaris besi 15 cm: Cukup tajam untuk digoreskan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
  • Cutter: Cukup tajam untuk digoreskan ke anggota tubuh pelaku (Target utama: wajah).
 

Selain alat tulis, saya juga selalu bawa pisau lipat yang kebetulan menjadi gantungan kunci. Jika tidak ada, alat kikir  yang biasa menempel pada gunting kuku dan sepatu berhak lancip juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Target utama: wajah pelaku. Selain itu, benda-benda berat seperti buku tebal, payung lipat, sepatu wedges, bisa dimanfaatkan sebagai alat pukul. Target utama: kepala pelaku.

Ada dua benda yang sering direkomendasikan sebagai alat bela diri, yakni setruman listrik dan semprotan air cabai/ merica. Saya sendiri sudah lama mencari alat ini. Beruntung, seorang teman memberikan informasi bahwa kedua alat ini bisa dibeli di forum jual-beli dengan harga terjangkau. Bagi yang merasa benar-benar membutuhkan, informasi lengkap kedua barang bisa dilihat di sini.

Opsi kedua, kita bisa membuat semprotan air cabai/merica sendiri. Caranya, cukup beli semprotan mini yang banyak dijual di supermarket atau toko kosmetik. Harganya kurang dari Rp 50,000. Lalu diisi air yang dicampur ulekan cabai dan/atau merica bubuk.

Jika kita sudah memiliki satu atau beberapa alat bantu tersebut, pastikan agar kita menaruhnya di lokasi yang mudah dijangkau. Misalnya, taruh pisau lipat/ setruman listrik/ penggaris besi di saku celana. Kebalikan dengan dompet, benda-benda ini sebaiknya ditaruh di saku belakang. Sebab, benda-benda yang ditaruh di saku celana belakang cenderung lebih mudah diambil dibandingkan dengan yang ditaruh di saku depan. Untuk yang pakai rok, benda-benda tersebut bisa ditaruh di saku tas bagian depan, atau tas tambahan yang kerap dibawa. Pastikan saja kita mudah mengambilnya saat dibutuhkan.

Selain alat bantu yang disebutkan di atas bisa, yang tak kalah penting saat menumpang kendaraan umum adalah selalu waspada dan pintar-pintar membaca situasi dan kondisi. Lengah sedikit bukan tidak mungkin kita akan menjadi korban. Saya selalu berusaha untuk memperpendek jalur transportasi jika pulang dalam keadaan mengantuk. Misalnya jika biasanya saya naik bis lalu menyambung angkot, jika sedang mengantuk, saya akan memilih pulang naik ojek atau taksi. Namun terkadang masalah biaya kerap membuat kita pelit untuk mengeluarkan uang lebih. Saya sendiri pun terkadang masih pelit, namun saya sadar saya harus mengubah kebiasaan buruk ini. Saya beruntung selalu pulang dalam kondisi selamat, namun kita tidak tahu kapan bahaya akan mengincar.

Ada beberapa kebiasaan yang saya lakukan saat naik kendaraan umum, yakni sebagai berikut:

  • Pilih kursi dekat pintu. Skenario terburuk, jika terjadi sesuatu, posisi ini memudahkan kita untuk keluar. Jika di bis, pilih kursi bagian depan, dengan pintu bis berada di depan atau samping kiri kita. Jika di angkot, bisa pilih di samping supir (sisi terluar, persis samping pintu), atau di bagian belakang yang persis di sebelah/ depan pintu. Namun saya lebih sering memilih yang persis di samping pintu.

                                        

                                                             Keterangan: Yang ditandai hijau adalah posisi yang biasa saya pilih.

  • Yang sebaiknya dihindari, terutama pada malam hari: 
  1. Angkot yang berkaca gelap dan dengan sound system yang dipasang kencang-kencang. Kedua hal tersebut turut bisa dijadikan peluang terjadinya tindak kriminal.
  2. Angkot kosong, atau berpenumpang laki-laki semua.
  3. Jika supirnya “memaksa” untuk naik, apapun alasannya, misalnya “Ini angkot terakhir!”.
  • Jika penumpang perempuan terakhir akan turun, dan lokasi tujuan kita masih jauh, sebaiknya kita ikut turun. Bukan tidak mungkin sang pelaku akan memanfaatkan momen setelah ini. Dalam kondisi seperti ini, lebih baik berpikiran buruk dan melakukan tindakan preventif ketimbang memaksakan diri berpikiran positif namun akhirnya menyesal.
  • Baca situasi dan kondisi penumpang lain. Umumnya saya tidak suka menghakimi orang lain dari penampilannya, tapi demi keamanan, saya terpaksa melakukannya. Saya sering urung naik bis/angkot jika isinya laki-laki semua, terutama jika sudah malam. Terkesan seksis memang. Hal ini tidak hanya dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan pribadi, namun juga sebagai respon maraknya pemerkosaan di kendaraan umum. Siapa korbannya? Perempuan. Siapa pelakunya? Laki-laki. Yes, I do stereotype. It’s faster.
  • Waspadai beberapa penumpang laki-laki yang terlihat saling kenal. Perhatikan posisi duduknya, apakah mereka saling berdampingan atau justru menyebar. Kedua posisi ini bisa dipilih para pelaku karena berbagai pertimbangan. Jika bersebelahan, mereka akan lebih mudah berkordinasi. Namun jangan anggap enteng jika mereka duduk berjauhan. Posisi menyebar bisa menyulitkan calon korban, karena ia akan disergap dari berbagai penjuru.

Saya pernah naik angkot (KWK U-04 jurusan Rawamangun  – Kelapa Gading) dari Arion Rawamangun sekitar pukul 22:00. Saat itu kondisi memang sudah sepi. Di dalam, ada tiga orang penumpang laki-laki yang duduk berdampingan di bagian belakang. Saya mengambil posisi duduk persis di depan mereka, samping pintu. Di samping supir, terdapat penumpang laki-laki tampak seperti pekerja kantoran. Dari awal naik, saya sudah memperhatikan ketiga penumpang tersebut. Remaja 20 tahunan berpakaian kasual yang tampak habis minum-minum. Angkot baru berjalan sekitar 200 meter, penumpang yang di tengah seperti menguap dan memalingkan muka ke teman di sebelah kirinya. Mata saya tak lepas dari dia. Saya perhatikan dengan seksama, ia seperti mencoba membisikkan sesuatu ke temannya itu. Perasaan saya tidak enak. Kontan saja saya menyetop angkot, dan langsung turun saat itu juga. Ketiga penumpang laki-laki tersebut, terutama yang di tengah, tampak sedikit kaget karena saya tiba-tiba turun. Saya langsung mencari posisi “aman” untuk mencari taksi. Untung ada bengkel yang masih buka, dan tak lama ada taksi kosong yang melintas. Saya bergegas pulang.

  • Jika mengantuk atau terlalu lelah, usahakan pulang dengan transportasi yang langsung sampai tujuan (ojek, taksi, bajaj). Lebih baik lagi kalau ada yang bisa menjemput. Rasa lelah atau kantuk dapat mengganggu konsentrasi kita untuk tetap waspada. Usahakan untuk selalu mencatat nomor kendaraan (nomor polisi atau nomor unit), dan kirim SMS ke pasangan atau keluarga. Syukurnya kebiasaan ini masih saya lakukan hingga sekarang.

Masih berhubungan dengan stereotipe yang saya lakukan saat menumpang kendaraan umum tadi, tanpa sadar saya membuat tiga kategori penumpang; hijau (aman), kuning (waspada), merah (siaga). Berikut pembagiannya:

  • Hijau (aman): Manula, anak-anak, ibu-ibu, perempuan/laki-laki berpenampilan pekerja kantoran, yang membawa banyak barang, pelajar.
  • Kuning (waspada): Grup pelajar (khususnya SMA) laki-laki, yang pakai jaket dan/atau kacamata hitam,
  • Merah (siaga): Grup laki-laki dewasa (yang duduknya berdampingan atau justru menyebar), yang berpakaian cenderung lusuh dan terlihat mabuk, laki-laki yang bahasa tubuhnya tubuhnya mengisyaratkan dia berkuasa dan harus ditakuti.

Kriteria pelaku kejahatan memang tidak kaku merujuk pada kategorisasi amatir buatan saya di atas. Banyak juga pelaku yang lihai menyamar sehingga radar kewaspadaan kita sukar mendeteksi keberadaannya. Sekali lagi saya ingin menegaskan, kategori tersebut seolah-olah mengatakan bahwa “laki-laki = penjahat”, namun saat naik kendaraan umum, penghakiman di awal kadang diperlukan. Apalagi tindak kriminalitas yang marak terjadi belakangan adalah pemerkosaan.

Selain alat bantu, kebiasaan, dan kategorisasi penumpang, cara lain yang bisa digunakan untuk menjaga diri adalah tak lain dan tak bukan mengikuti kursus bela diri. Pilihannya banyak, tinggal disesuaikan dengan minat, misalnya pencak silat, merpati putih, taekwondo, karate,  Thai boxing, atau bahkan capoeira. Gerakan-gerakan yang diajarkan bisa berguna bagi kita untuk melawan jika dalam kondisi terdesak.

Sumber: Self Defense Indonesia

Salah seorang teman menginformasikan tentang Krav Maga. Krav Maga adalah seni bela diri tangan kosong asal Israel, yang salah satu metodenya adalah pertahanan diri (self defense). Kurikulum Krav Maga ada yang khusus ditujukan bagi perempuan yang ingin melindungi dirinya dari ancaman tindak kejahatan. Beberapa hal yang diajarkan antara lain membaca situasi, perkiraan skenario yang mungkin terjadi, dan cara melucuti senjata.  Beberapa prinsip dasar yang terdapat dalam Krav Maga antara lain:

  • Jangan terluka
  • Menetralkan penyerang secepat mungkin
  • Melakukan transisi dari teknik bertahan ke teknik menyerang secepat mungkin
  • Eksploitasi semua reflek alami dalam tubuh
  • Eksploitasi semua bagian tubuh yang mudah diserang (termasuk mata, tenggorokan, selangkangan, dan lain-lain)
  • Penggunaan semua benda yang ada sebagai bantuan
Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca di Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Krav_Maga. Jika berminat, berikut beberapa lokasi yang menyediakan latihan Krav Maga:
.
Self Defense Indonesia
Gelora Bung Karno
Pintu 6 – Hall Tinju PERTINA
Jadwal: Sabtu, pk 10:00 -12:00
Biaya: Rp 350,000/ bulan
.
Krav Maga Indonesia/Komando Indonesia
Kompleks Depsos
Jl. Depsos XI/3 Bintaro
Jakarta Selatan
http://streetfightmma.blogspot.com
.
ADRIA Fitness Center
Jl. Cempaka V No.33, Bintaro
Jakarta Selatan
Telp: (021) 736 90174/ 5 (Pepi / Imel)

.

Jika ada yang ingin berbagi informasi terkait bisa melalui blog ini atau melalui akun Twitter @elsara. Sebisa mungkin informasi tersebut akan saya sebarkan agar orang-orang semakin waspada akan bahaya yang mengintai.

Siapa yang rela kalau kota ini dikacaukan oleh monster bejat yang bergentayangan mengincar mangsa? Jakarta, seharusnya tidak semengerikan monster kolong tempat tidur yang menjelma menjadi mimpi buruk anak-anak setiap malam. Jakarta, seharusnya tidak punya tempat bagi para pengusik brengsek yang bisanya cuma menebar teror. Karena Jakarta, seharusnya aman bagi seluruh penghuninya tanpa terkecuali.

 
 
.. 
Sumber foto: GenuiBarnes & Noble
..


Update 25 Januari: 

Baca juga “Bersiaga di Jalan Jakarta” yang ditulis oleh seorang kawan, Haris Firdaus. Saya sepakat dengan pernyataannya bahwa siap siaga tak berarti sama dengan kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan. Di tulisan ini, kita juga bisa menemukan beberapa link artikel menarik perihal beraktifitas di jalanan Jakarta.

Update 27 Januari: 
Angkot 38 jurusan Cibinong – Gunung Putri (Bogor) | Nomor polisi F 1915 MB
B (15) – Siswi SMP
Dilecehkan secara seksual dan hampir diperkosa — Selasa 24 Januari 2012, Pk. 20:00
Pemerkosa ditangkap pada 27 Januari 2012

Miris! Baru kemarin pemerkosa JM berhasil ditangkap, hari ini muncul lagi berita pemerkosaan di daerah Bogor, Jawa Barat. Modus operandi sang pelaku–yang merupakan supir angkot itu sendiri–adalah menyuruh B, penumpang terakhir di angkot, pindah ke kursi depan di sebelahnya. B sempat dilecehkan secara seksual. Karena kurang puas, sang pelaku menyuruh B pindah ke kursi belakang lagi agar ia bisa meneruskan niat bejatnya. Ia kemudian berhenti, karena ternyata B sedang menstruasi. Kemudian ia menurunkan B di tengah jalan. Menurut berita tersebut, darah menstruasi B masih tertinggal di kursi belakang. Berita selengkapnya bisa di baca di “Lagi, Sopir Angkot Coba Memerkosa“.

Update 30 Januari

Terjadi perubahan minor pada paragraf yang menjelaskan soal stun gun (setruman listrik). Saya menambahkan pernyataan bahwa stun gun sebaiknya dimiliki oleh mereka yang benar-benar merasa butuh. Pasalnya, beberapa waktu lalu Jakarta Globe melansir berita (http://bit.ly/zGLXEW) tentang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Rikwanto, yang menganjurkan agar perempuan pengguna kendaraan umum mempersenjatai dirinya dengan semprotan merica atau setruman listrik. Pro kontra soal anjuran ini menyeruak dari berbagai kalangan, terlihat dari komentar-komentar yang masuk.

Alat bervoltase tinggi ini memang perlu penanganan khusus, tak hanya dalam menyimpan, namun juga dalam menggunakan. Karena penasaran bentuk dan cara kerjanya, akhirnya saya beli satu buah di forum jual-beli yang cukup populer di negeri ini. Alat ini datang dalam paket yang terdiri dari stun gun, sarung, dan kabel untuk mengecas. Saya terpaksa meraba-raba sendiri cara menggunakannya, karena alat ini tidak disertai petunjuk penggunaan yang jelas. Saya sempat terlonjak kaget saat listrik mengalir ke kedua permukaan besi di penghujung alat ini, karena suara yang dihasilkan cukup keras. Sayangnya alat ini tidak dilengkapi tutup yang dapat melindungi kita dari kecelakaan menyetrum diri sendiri. Untuk itu saya mencoba mereka skenario yang mungkin terjadi, seperti bagaimana posisi alat ini tersimpan di tas, lalu bagaimana saya mengambilnya jika saat kondisi terdesak. Secara hati-hati saya menggerakkan tangan dalam tas, meraba-raba dan mencoba menggapai stun gun, mengeluarkannya dari sarung, menekan tombol “On”, lalu mengarahkan alat tersebut kepada pelaku. Harus dilakukan dengan cepat dan tepat! Semua itu dapat terjadi jika kita bisa mengendalikan emosi, berpikir strategis, dan pada akhirnya menguasai keadaan.

Alat ini tergolong ilegal di banyak negara. Masih dalam artikel yang sama, Rikwanto juga menyarankan agar kepemilikan alat ini terdaftar secara resmi. Oke, ada dua hal “lucu” yang saya tangkap dari pernyataan Rikwanto dalam artikel tersebut. Pertama, dengan menyarankan masyarakat mempersenjatai dirinya dengan alat bela diri, seperti sayup-sayup mendengar ia dan jajaran Polri berkata “Kami tidak sanggup melindungi kalian“. Kedua, sudah disuruh melindungi diri sendiri, kita masih disuruh untuk mendaftarkan alat bela diri, yang mungkin cuma ia-dan-Tuhan yang tahu di mana dan bagaimana cara mendaftarkannya. Selama ini tidak pernah ada sosialisasi yang jelas mengenai kepemilikan “senjata”. Semakin lucu karena saya membeli alat ini di sebuah forum internet, tempat di mana semua orang bisa dengan bebas menjual sesuatu.

Saya anggap apa yang keluar dari mulut Rikwanto adalah pernyataan resmi Polisi, jadi sudah seharusnya ia juga memikirkan kelanjutan dari sarannya tersebut, yakni sosialisasi penggunaan stun gundan cara mendaftarkannya–jika memang alat tersebut diposisikan sama dengan senjata api. Jangan hanya bisanya menyuruh masyarakat saja, lantas kemudian lepas tangan seolah tidak peduli dengan masyarakat yang kian cemas dengan keselamatan mereka.

Bagi saya, keamanan adalah hak asasi setiap orang, dan memiliki alat bela diri adalah salah satu cara untuk mempertahankan rasa aman tersebut. Jika memang merasa perlu memiliki saatu atau bahkan beberapa alat bela diri, sebaiknya disesuaikan dengan kenyamanan diri kita saat menggunakannya. Jika Anda adalah seorang yang ceroboh, mudah panik, dan kurang bisa mengontrol emosi, saya tidak menganjurkan untuk memiliki stun gun. Selain alat-alat yang sudah saya sebutkan di bagian awal tulisan ini, ada opsi lain–diberikan oleh salah seorang komentator di artikel Jakarta Globe tadi–yang menurut saya patut dipertimbangkan, yakni alarm pribadi. Alat ini berfungsi seperti alarm-alarm pada umumnya, namun bisa kita bawa kemana-mana karena bentuknya yang hanya sebesar gantungan kunci. Di negara lain, alarm pribadi diberikan orangtua kepada anaknya, sebagai penanda jika ada yang berniat buruk kepada buah hati mereka. Alat ini memang hanya berfungsi mengeluarkan suara saja, namun suaranya yang keras (direkomendasikan yang 140 desibel) tersebut dapat menarik perhatian banyak orang jika suatu saat kita sedang dalam kondisi terdesak. Harapannya tentu orang-orang yang mendengar akan berhamburan keluar dan menolong kita. Saya tidak menemukan banyak informasi soal di mana bisa membeli alat ini, namun semoga ketiga link ini cukup membantu: http://bit.ly/a9wLOV,  http://bit.ly/y4vwe3, dan http://bit.ly/zVkd96.

Update 30 Januari, pk. 11:00 WIB

Beberapa hari lalu menyeruak kabar bahwa kasus pemerkosaan yang dialami JM (18) pada 20 Januari lalu adalah palsu. Supir-supir C-01 merasa dirugikan oleh  berita yang terlanjur menyebar di berbagai media. Pada Jumat, 27 Januari silam, mereka berunjuk rasa dan menuntut media–terutama TV One–untuk meluruskan berita dan membersihkan nama baik mereka. Menurut berita yang dilansir Kompas pada Minggu 29 Januari, JM memalsukan laporan karena takut orangtuanya mengetahui bahwa ia telah melakukan hubungan seksual dengan Su.

Saya pribadi menyesalkan apa yang telah dilakukan JM. Ia memanfaatkan kondisi demi “menyelamatkan” dirinya sendiri. Ia tak sadar bahwa “kasus pemerkosaan” yang ia laporkan tersebut dapat meningkatkan kecemasan masyarakat, dan merugikan orang lain–dalam hal ini supir-supir C-01 yang mengaku pendapatannya langsung turun drastis.

Dengan ini, saya menghapus kasus JM dari daftar kasus tindakan kriminal di kendaraan umum, yang terdapat di tulisan ini. Satu yang tidak boleh berubah, kita harus tetap waspada. Semoga selamat sampai di tujuan!

Update 26 Februari

Seorang mahasiswi di Bandung menceritakan pengalamannya menjadi korban penodongan dengan senjata api di angkot. Saat itu, ia bukan penumpang satu-satunya, ada enam orang penumpang lainnya. Ia menceritakan dengan detail kronologis kejadian penodongan tersebut, dan respon yang ia terima saat melaporkannya kepada polisi. Kisah selengkapnya bisa dibaca di “Saya Ditodong Pistol dan Petugas Pelayan Masyarakat Itu Dingin“.

Angkot  jurusan Cicadas-Cibiru (Bandung)
Nafielah Mahmudah
Ditodong oleh oknum bersenjata api — Selasa 24 Februari 2012
Pelaku berhasil melarikan diri.
Update 14 Maret

Beberapa waktu lalu, seorang siswi SMP diperkosa oleh supir dan rekannya di angkot di  daerah Bogor. Ini patut diwaspadai, sebab berarti tingkat kriminalitas di kota Bogor tergolong tinggi!

Angkot 03  jurusan Ciapus-Ramayana (Bogor)
Siswi SMP
Diperkosa oleh supir angkot (R) dan rekannya (P) — Selasa 24 Februari 2012, Pk. 17:00
R ditangkap pada 6 Maret 2012, sementara P masih buron.

Anehnya, Detik.com (Duh! Siswi SMP di Bogor Diperkosa Bergilir Sopir Angkot) memberitakan bahwa korban diperkosa, sementara Seputar Indonesia (Siswi SMP Nyaris Diperkosa Sopir Angkot) memberitakan bahwa korban nyaris diperkosa.

Perjuangan Sunyi Sondang Hutagalung

Image

Jumat lalu, senior kampus saya, Wendi Putranto, menuliskan sesuatu melalui akun Twitter-nya. “Dengan segala hormat thd gerakan mahasiswa skrg, aksi bakar diri anak (diduga) UBK di depan Istana itu tolol skali, jadi mahasiswa kok bodo?” begitulah isi pesan lengkapnya.

Wendi yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat, sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pergerakan mahasiswa. Ia berasal dari angkatan ’95 dan sempat terjun langsung bersama puluhan ribu mahasiswa se-Indonesia pada era ’97-’98. Tak lama setelah mengirimkan tweet tadi, Wendi kebanjiran repson dari orang-orang yang pro dan kontra terhadap dirinya.

Alih-alih mengikuti diskusi antara Wendi dan follower-nya, saya memilih untuk menenggelamkan diri ke dalam situs berita untuk mencari tahu sosok pemuda yang rela menjadi martir demi perubahan yang ia dan banyak orang harapkan segera dilakukan oleh sang penguasa.

Namanya Sondang Hutagalung. Ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta angkatan 2007. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Maharenisme untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi). Selain aktif di kampus, Sondang juga sering terlibat berbagai aksi unjuk rasa. Organisasi yang ia pimpin juga terbilang aktif di kegiatan Sahabat Munir.

Sebelum melakukan aksi bakar diri di depan Istana Negara pada Rabu (7/12), Sondang sempat berkirim pesan singkat kepada salah seorang teman kampusnya, Darma, yang isinya menitipkan Hammurabi. Dilihat dari isi pesan singkat tersebut, saya berasumsi bahwa Sondang tidak menceritakan rencana bakar diri kepada teman-temannya.

Sabtu (10/12) sore menjelang maghrib, Sondang menghembuskan napas terakhir. Tubuhnya tak kuasa menahan sakit akibat luka bakar yang mencapai 98%. Ia wafat tepat di saat para pegiat hak asasi sedang memperingati hari HAM sedunia.

Tanpa mengecilkan peran pergerakan mahasiswa ataupun pengorbanan Sondang, dengan segala hormat saya menyampaikan ketidaksepakatan atas apa yang ia lakukan. Bakar diri bukan solusi yang dapat mengurai masalah politik nasional yang karut marut. Apa yang diharapkan Sondang dari aksi bakar dirinya? Presiden dan Wapres turun kah? Perombakan kabinet kah? Atau segudang tuntutan lain yang kerap diserukan orang-orang saat unjuk rasa? Saya sependapat dengan Haris Firdaus dalam blog-nya yang mengatakan bahwa perubahan sektoral dan setahap demi setahap jauh lebih penting dan berguna ketimbang melengserkan SBY-Boediono.

Sondang memang bukan yang pertama melakukan aksi bakar diri sebagai sikap politis. Pada dekade 1960-an, tercatat kejadian serupa di Vietnam Selatan yang dilakukan oleh biksu Buddha Mahayana, Thich Quang Duc, saat menentang Presiden No Dinh Diem. Apa yang melatarbelakangi aksi nekat mereka ini, keberanian atau keputusasaan? Jika alasannya adalah yang ke dua, maka keputusasaan bisa lebih berbahaya dibandingkan seluruh senjata yang ada sekalipun. Tapi apa benar Sondang sedemikian putus asanya? Kita tidak akan pernah tahu jawabannya.

Kini Sondang telah pergi, membawa semua harapan dan nilai-nilai yang ia yakini. Jika Rabu lalu ia memiliki rencana lain, mungkin hari ini ia masih berjuang bersama rekan-rekan yang ia cintai; di bawah bendera Hammurabi, Universitas Bung Karno, dan yang paling utama, kemanusiaan. Namun kenyataan berkata lain.

Selama ini tuntutan-tuntutan yang datang dari mahasiswa memang kerap dianggap angin lalu oleh penguasa. Dua hari pasca kepergian Sondang, tidak ada perubahan signifikan—apalagi revolusi—yang terjadi di negara ini. Hanya sebatas bela sungkawa yang dikirimkan oleh sang penguasa. Tiba-tiba, kini kesunyian yang ada terasa jauh lebih menusuk dibandingkan semilir angin yang sekadar lalu.

Selamat jalan, Sondang..

..

Sumber foto: Vivanews

Kapok Berurusan dengan Pemerintah

Ketika ditemui di tenda solidaritas Pedagang Barito, ibu beranak satu ini sedang mengobrol dengan teman-teman sesama pedagang yang senasib dengan dirinya.

 

Meskipun sudah lewat lebih dari seminggu, kejadian penggusuran yang terjadi dini hari itu menyisakan trauma mendalam bagi Mira dan teman-temannya, terutama para perempuan. Ia melihat sendiri bagaimana  ibu-ibu yang sedang duduk menghalangi para satpol yang berusaha ingin melakukan penggusuran, menginjak-injak mereka dengan memakai sepatu lars. “Padahal kita cuma mau aksi damai, nggak pakai senjata. Ibu-ibu yang ada di barisan depan juga cuma bawa bunga!” jelasnya emosi.

Perempuan kelahiran Banda Aceh empat puluh tahun silam ini menyesalkan sikap Pemda DKI yang terkesan bodo amat dan tak mau mendengarkan suara warganya. Padahal Pasar Barito tak hanya tempat mencari nafkah bagi bara pedagang, tapi banyak memori tersimpan seiring berjalannya waktu. Asal tahu saja, Pasar Barito sudah ada sejak tahun ’70-an, dan kini yang berdagang disana sudah memasuki generasi kedua.

Meskipun harus mengalami kejadian yang tak mengenakkan, Mira tetap mencintai Jakarta, kota yang ia jadikan tempat tinggal sejak berusia dua tahun. Mira juga pernah menetap di Bali untuk beberapa waktu, namun ia tidak betah. Karena menurutnya, masih lebih enak tinggal di ibukota, semua fasilitas tersedia.

Kemacetan parah di ibukota meresahkan banyak orang, namun tidak begitu bagi Mira. Menurutnya itu sudah menjadi konsekuensi bagi kita yang memutuskan untuk tinggal di kota metropolitan. Lantas, apa hal yang tidak ia suka dari Jakarta? Dengan cepat dan tegas Mira menjawab, “Birokrasi pemerintahnya yang saya nggak suka! Saya kapok berurusan sama pemerintah. Nggak lagi-lagi deh!”

 

Publikasi: Majalah Area #104 (6Februari 2008)

Nama, Harapan, dan Identitas

“Nama gue Sugiharti Halim. Bokap nyokap gue ya dua-duanya Cina. Cuma mereka ngasih nama yang kedengarannya Indonesia banget, ya? Mungkin mereka nggak gitu ngerti tentang arti nama. Karena siapa sih yang tega ngasih nama anaknya Sugiharti?”

Sugiharti boleh jadi hanya sebuah tokoh rekaan dalam film Sugiharti Halim karya sutradara Ariani Darmawan produksi tahun 2008. Namun esensi cerita yang terkandung di dalamnya bukanlah rekaan belaka. 98.08, Antologi 10 Tahun Reformasi berusaha merekam perayaan sepuluh tahun reformasi dengan film pendek. Sepuluh sutradara muda berkisah tentang peristiwa Mei 1998 dengan persepsinya masing-masing. Salah satunya Ariani.

Ariani menggunakan Sugiharti Halim sebagai tokoh utama yang sepanjang film mempertanyakan identitasnya, atau secara lebih spesifik lagi, identitas ke-Tionghoa-annya. Pertanyaan yang sama mungkin juga diajukan oleh ribuan warga keturunan Tionghoa di Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada tahun 1966 dikeluarkannya Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 yang mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia, misalnya: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito. Dan praktis sejak saat itu pula, ayah Sugiharti yang terlahir dengan nama Liem On Hok harus mengubah namanya menjadi Taruna Halim.

Kemudian menjadi lucu dan ironis ketika Sugiharti diragukan oleh banyak orang mengenai keaslian namanya. Karena menurut mereka, nama ‘Sugiharti’ tidak matching dengan wajahnya yang oriental, dan seolah ia harus punya nama yang lebih asli dari Sugiharti Halim. Meski dalam Bahasa Jawa nama ‘Sugiharti’ memiliki arti ‘kaya harta’, ia tetap kurang sreg dengan nama pemberian orangtuanya. Keinginan mengubah nama sempat terbersit di pikiran Sugiharti, dan Julianne adalah pilihannya.

 

Identitas Personal

Fenonema sejarah yang terekam dalam film Sugiharti Halim menyadarkan kita bahwa bagi sebagian orang, persoalan nama tidak sekedar satu-dua kata yang tertulis di KTP. Lebih dari itu, persoalan nama adalah perkara identitas. Karena dari nama seseorang lah, kita pertama kali memiliki pengetahuan singkat tentang mereka. Dan pada saat itu sebenarnya kita memetakannya ke dalam suatu bagian kelompok sosial budaya, yang mau tidak mau lengkap dengan stereotip yang melekat. Sehingga secara tidak langsung mematahkan pernyataan Shakespeare, “Apalah artinya sebuah nama?”

Dalam Sosiologi sendiri, identitas adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung diferensiasi dari individu atau kelompok lain. Identitas dapat berasal dari sejarah, cita-cita, sikap dan perilaku, kebiasaan dll. Berbicara mengenai identitas, sebenarnya itu adalah sebuah definisi diri yang bisa didapat dengan dua cara; diberi oleh orang lain atau oleh kita sendiri. Pelacakan identitas adalah upaya pendefinisian diri yang nantinya akan menerangkan siapa kita sebenarnya.


Sumber Inspirasi

Ilustrasi konkretnya seperti ini; sebuah kegembiraan bagi orangtua yang berasal dari suku Batak, bila nantinya sang anak dapat meneruskan marga keluarga. Harapan itu lebih utama ditujukan kepada anak laki-laki, karena menurut budaya, suku Batak menganut sistem patrilineal, yaitu menurut garis keturunan ayah. Sehingga tak heran jika orang Batak tak sembarangan dalam memilih nama bagi anak laki-lakinya.

Contohnya saja Pangeran, ia terlahir dengan nama Pangeran Edwin Bonardo Immanuel Hasian Siahaan. Jika diartikan secara keseluruhan, namanya berarti ‘Pemimpin yang dihormati dan selalu berada dalam lindungan Tuhan’. Memiliki nama yang panjang merupakan salah satu ciri yang umum ditemukan pada warga keturunan Batak. Pangeran pun mengakui hal ini. Secara berkelakar ia mengeluhkan kesulitan yang timbul saat menghitamkan bulatan di kolom nama setiap ujian berlangsung. Namun ia tetap bangga dengan namanya, meski untuk sehari-hari ia hanya mencantumkan Pangeran Immanuel Siahaan. Walau bagaimanapun ia sadar, namanya adalah wujud harapan dan kebanggaan orangtuanya.

Lain lagi dengan pengalaman Rarassmita Nestiti yang berdarah Jawa. Menurut pengakuannya, dalam Bahasa Jawa namanya berarti busur panah yang selalu melepaskan anak panahnya tepat sasaran. Selain itu, namanya juga bisa berarti ‘Seorang gadis periang yang teliti’. Makna yang kedua erat korelasinya dengan stereotip suku Jawa yang menganut falsafah alon alon asal klakon (biar pelan asal selamat).

Hal lain yang juga umum terkandung dalam nama seseorang adalah identitas keagamaan. Bagi pemeluk agama Islam, nama Muhammad adalah nama terpopuler yang digunakan. Hal ini wajar karena sosok Muhammad SAW dijadikan panutan sepanjang jaman oleh umat Islam. Begitu pula dengan nama Christian yang kerap digunakan oleh umat Kristiani.

Namun keadiluhungan sifat yang dimiliki sang Rasul ternyata disikapi lain oleh Muhammad Maskur Tamanyira, mahasiswa tingkat akhir Universitas Diponegoro Semarang. Menyandang ‘Muhammad’ sebagai nama depannya merupakan amanah yang besar. Sesuatu yang hingga kini belum bisa ia laksanakan dengan baik.

Atau juga pada kasus lain misalnya, nama-nama bernada keagamaan tertentu ternyata justru bias agama. Misalnya saja Christine Hakim, aktris senior yang pernah membintangi film legendaris Tjoet Nya’ Dhien ini beragama Islam meski namanya bernada Kristiani.

Masih soal ‘kerancuan’ nama, ada satu peristiwa yang membuat teman saya, Raras, mengernyitkan dahinya. Di saat ia bangga dengan nama dan identitas ke-Jawa-annya, ada seorang pembantu rumah tangga dari relasinya yang memberi nama anaknya Keisha. Jika dilihat, kejadian ini mirip dengan salah satu adegan di film Sugiharti Halim ketika Sugiharti mencoba membandingkan dirinya dengan Joki 3 in 1 dan TKI yang wafat karena kecelakaan. Saat itu Sugiharti menyatakan tidak bermaksud untuk merendahkan pihak-pihak manapun, namun ia hanya mencoba meyakinkan penonton dengan pertanyaan retoris, “Apa gue cocok diberi nama Sugiharti?”

Untuk konteks sekarang, hal yang lumrah jika seseorang memberi nama pada anaknya di luar kultur yang sudah mendarah daging. Yang paling sering dilakukan adalah mengambil inspirasi dari suatu hal yang kita suka/ idolakan. Hal itu tak lepas dari derasnya arus informasi yang kita terima. Contohnya kasus Keisha, tak bisa kita pungkiri jika nama-nama tokoh dalam sebuah sinetron dijadikan inspirasi oleh masyarakat. Dan ternyata memang benar begitu adanya. Keisha adalah judul sinetron yang ditayang kan oleh Indosiar setiap hari Minggu pukul 18.00 WIB.

 

Arti Sebuah Nama

Lantas, nama-nama seperti apakah yang dianggap sebagai nama yang beridentitas? Jika merunut terminologi Sosiologi, nama yang beridentitas adalah nama yang mempunyai ciri khas yang berbeda dari individu atau kelompok lain baik dalam hal sejarah, budaya, dll. Sehingga ketika ia menafikkan semua unsur tersebut ke dalam sebuah nama, maka sederhanya nama itu tidaklah beridentitas.

Sama halnya ketika Sugiharti mempertanyakan identitas ke-Tionghoa-an keluarganya yang ‘dihapus’ paksa oleh pemerintah pada satu masa jabatan pemerintahan. Berbeda dengan ayah temannya yang bernama Tan Boen Hong. Ia bersikeras mempertahankan nama asli keluarganya karena alasan identitas. Ia menolak penggantian nama karena menurutnya itu penghinaan. “Temen papa yang Tampubolon gak pernah tuh ganti nama jadi Warsito atau Sungkono?” Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar lucu namun juga miris karena yang ia pertanyakan dan tuntut adalah keadilan.

Dan sebenarnya orang-orang yang mampu mempertahankan identitas mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan penghargaan yang tinggi tentang asal-usulnya. Suatu hal yang nilainya tak tergantikan oleh apapun, karena memang bagi sebagian orang, mempertahankan identitas sama halnya dengan bertahan hidup.

Publikasi: Jarakpandang.net

*Catatan penulis:

Artikel ini dibuat dalam rangka pelatihan menulis senirupa dan budaya visual yang diadakan oleh ruangrupa pada Juni 2009. Tulisan ini kemudian berkembang menjadi sebuah tulisan baru berjudul “Di Namamu Ada Kelaminku” yang diterbitkan di newsletter #2 OK. Video COMEDY, 2009 , sehingga tak lagi membicarakan soal film Sugiharti Salim (salah satu film dalam antologi  9808), namun tetap mengulas isu nama dan identitas pada diri seseorang. Tulisan lengkapnya bisa dibaca di sini.

Di Namamu Ada Kelaminku

bakmi

Sempat heboh beberapa waktu lalu, sebuah foto yang menyebar dari milis ke milis, dan pada akhirnya beredar luas di Facebook: sebuah spanduk rumah makan bertuliskan, “Bakmi Pak Memek Cebongan Pasar”.

Bagi orang yang pertama kali melihat foto tersebut, pasti menyangka bahwa itu hanyalah sebuah rekayasa digital yang dimaksudkan sebagai candaan. Banyak yang menganggapnya lucu, namun tak sedikit pula yang mencibir dengan alasan tak senonoh. Saya sendiri memang belum mengecek langsung ke Pasar Cebobangan di daerah Sleman, Yogyakarta itu, untuk membuktikan keberadaan rumah makan bakmi tersebut. Namun menurut pengakuan beberapa anggota mailing list(milis), ternyata rumah makan bakmi itu benar-benar ada! Mereka bahkan memberi penilaian tentang rasa bakminya; mulai dari biasa saja, lumayan, sampai maknyus.

Lucu ya, betapa sebuah nama dapat menarik perhatian banyak orang, sekaligus ironis karena nama yang dimaksud tidak umum digunakan sebagai nama seseorang, bukan dalam arti sebenarnya. Karena sesungguhnya memang tak ada yang negatif pada sesuatu yang diberikan Sang Pencipta kepada hambanya. Ini yang menarik dari sebuah kata “memek”. Arti formal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah “merengek-rengek”, “merepek”. Namun ‘memek’ juga memiliki arti lain dalam bahasa pergaulan sehari-hari (slang), yaitu vagina atau alat kelamin perempuan.

Saya jadi penasaran dengan ‘proses kreatif’ para orangtua dalam memberikan nama kepada anaknya. Apa arti nama seseorang sebenarnya? Atau jangan-jangan, Shakespeare benar mutlak dengan ungkapannya yang mendunia, “Apalah arti sebuah nama?”

Layaknya karya seni rupa, saya rasa pembuatan nama juga melibatkan proses yang disengaja agar mengandung makna-makna tertentu. Pembuatan nama sedikit-banyak dipengaruhi latar belakang budaya orangtua dan suasana zaman yang mempengaruhinya. Tak heran jika terjadi perbedaan karakter nama-nama individu pada setiap dekade. Ada nama-nama yang bersifat tradisional, dan ada pula nama-nama yang mengandung semangat kontemporer. Maksudnya, ada orangtua yang bangga memberikan nama yang mengandung unsur tradisi kesukuannya, namun ada pula yang memberikan nama yang terinspirasi dari hal-hal yang digemari atau sedang tren saat itu.

Berasal dari keluarga Betawi aseli—ayah dan ibu saya memang asli Betawi—saya terlahir dengan nama Deasy Elsara. Tidak ada Betawi-Betawinya sama sekali, memang, makanya kerap diledek Betawi KW-1. Apalagi saya tinggal di Kelapa Gading, bukan Condet atau Cinere yang terkenal sebagai ‘kampungnya orang Betawi’. Setelah dipikir-pikir, orangtua saya tidak pernah memberikan nama yang Betawi-esque kepada kelima anaknya. Semuanya praktis berdasarkan makna tertentu yang terinspirasi dari hal-hal yang digemari saat itu. Menurut pengakuan ibu, nama Elsara adalah nama tokoh yang terdapat dalam sebuah buku kesukaannya. Sayangnya ibu lupa judul buku tersebut. Dan kalau dicari artinya lebih lanjut, ‘Sara’ berasal dari bahasa Hebrew (Sarah) yang berarti putri raja. Atau bisa juga berarti “kebahagiaan murni” jika ditilik dari nama Saaraa dalam bahasa Afrika.

Contoh penamaan seseorang berdasarkan identitas suku adalah Pangeran Edwin Bonardo Immanuel Hasian Siahaan. Mahasiswa semester 6 ini terlahir dari keluarga Batak. Jika diartikan secara keseluruhan, namanya berarti ‘Pemimpin yang dihormati dan selalu berada dalam lindungan Tuhan’. Seperti kita tahu, orang Batak memiliki tradisi memberikan nama yang panjang bagi anaknya, karena sekaligus mengandung nama baptis (bagi umat Kristiani) dan marga. Hal ini juga dikeluhkan oleh Pangeran, karena menurutnya akan merepotkan orang-orang bernama panjang seperti dirinya saat mengisi kolom nama pada lembar ujian format komputer yang mengharuskan pesertanya menghitamkan bulatan! Oleh karena itu ia menyingkat namanya menjadi Pangeral Immanuel Siahaan untuk keperluan sehari-hari.

Lain lagi dengan Muhammad Maskur Tamanyira. Namanya mengandung identitas kesukuan dan keagamaan. Terlahir dari ayah berdarah Tidore, Maskur menyandang nama yang cukup bermakna—atau agak ‘berat’ menurut istilahnya. Tamanyira adalah marga Tidore yang konon merupakan nama orang kepercayaan Sultan Nuku. Muhammad diambil dari nama Rasul yang menjadi panutan umat Muslim sepanjang jaman. Jadi terdengar wajar jika Maskur merasa sedikit ‘terbebani’ dengan amanah yang terkandung dalam namanya.

Pemberian nama yang murni terinspirasi dari hal kegemaran seseorang terjadi pada anak pembantu rumah tangga seorang rekan ibu sahabat saya. Ia diberi nama Keisha, sayangnya saya lupa nama lengkapnya. Tak perlu kamus arti nama bayi, atau repot-repot merunut pada tradisi keluarga, cukup menyalakan televisi, pindah ke saluran yang menayangkan sinetron, danvoila, calon nama anak didapatkan dalam sekejap! Asal tahu saja, Keisha adalah judul sinetron yang sempat ditayangkan di Indosiar beberapa waktu lalu pada saat prime time. Kurang prestisius apa coba!

Tak dapat dipungkiri bahwa nama adalah identitas personal seseorang. Maka tak heran jika orangtua berusaha memberikan nama terbaik bagi anak-anaknya. Dalam Sosiologi sendiri, identitas adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung pembedaan dari individu atau kelompok lain. Identitas bisa berasal dari sejarah, cita-cita, sikap, perilaku, kebiasaan, dan lain-lain. Sebagai sebuah definisi diri, identitas bisa didapat dengan dua cara: diberi oleh orang lain atau oleh kita sendiri. Pelacakan identitas adalah upaya pendefinisian diri yang nantinya akan menerangkan siapa kita sebenarnya.

Tapi apakah lantas ketidak-Betawi-an nama saya mengurangi keaslian saya sebagai orang Betawi? Saya rasa tidak. Ke-Betawi-an saya tidak kalah kental jika dibandingkan dengan ke-Batak-an teman saya yang bernama Pangeran. Atau ketidak-Islami-an nama saya tidak semerta-merta menjadikan saya kurang beriman ketimbang teman saya, Maskur. Jadi saya percaya bahwa nama seseorang adalah sebuah doa atau harapan orangtuanya, yang kebetulan berasosiasi dengan banyak hal; identitas kesukuan dan keagamaan, ataupun inspirasi dari lingkungan sekitar. Pada tataran ini, ungkapan Shakespeare yang terkesan menyepelekan nama otomatis terbantahkan. Nama tak hanya sekadar satu-dua kata tak bermakna yang tertulis di kartu identitas. Ya kecuali kalau kalian adalah seorang narapidana yang bisa saja dipanggil berdasarkan nomor tahanan. Seperti Alexander De Large, tokoh utama dalam film lawas besutan Stanley Kubrick, Clockwork Orange, yang namanya ‘berubah’ menjadi 655321 saat dijebloskan ke dalam penjara.

Faktor sosial budaya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya belum tentu berlaku juga dalam penciptaan nama panggilan seseorang. Karena biasanya, nama panggilan tercipta berdasarkan spesifikasi yang lekat kepada si empunya nama. Yang paling sederhana dan banyak dijumpai adalah penamaan berdasarkan ciri-ciri fisik. Misalnya saja “Kiting” untuk mereka yang berambut keriting, tambahan “-cil” dibelakang nama bagi mereka yang berbadan mungil, atau “Ndut” yang ditujukan kepada mereka yang bertubuh gendut.

Cara lain pemberian nama yang juga umum digunakan adalah memanfaatkan hobi atau kegemaran mereka. Saya punya teman yang dipanggil “Lontong” hanya karena saat masa orientasi SMA dulu, ia berteriak lantang di lapangan kepada temannya yang akan ke kantin, “Lontooong!”. Maksud hati cuma ingin menitip dibelikan lontong, namun apa daya, praktis sejak saat itu ia dikenal dengan nama panggilan “Lontong”! Contoh lain misalnya senior saya di SMA. Dulu—entah sekarang—ia dipanggil dengan sebutan “Ade Punk”. Ia memang terkenal sebagai penggemar berat musik punk, semakin jelas terlihat dari penampilannya yang cuek dan rambut mohawk tanggung. Kenapa saya bilang tanggung, karena saat itu urusan gaya-bergaya di sekolah mau tak mau pasti berbenturan dengan peraturan sekolah!

Lalu apa kira-kira makna di balik nama penjual bakmi di Pasar Cebongan, Sleman, Yogyakarta tersebut? Apakah itu hanya nama panggilan saja? Jika ya, siapa nama panjangnya? Dan sekali lagi, apa maknanya? Berhubung saya tak puas dengan hasil jawaban yang saya dapat di KBBI tadi, saya iseng-iseng kembali mencari arti namanya lewat situs http://www.indospiritual.com/index.php?p=19. Setelah memasukan sebuah nama yang cukup provokatif untuk dijadikan sebuah merk dagang itu, saya mendapatkan jawaban yang ternyata hasilnya tidak cukup provokatif alias biasa saja: “Memek” mengandung arti “Perasaan pada keadilan, Kesembuhan”. Bagaimana, masih kurang puas juga dengan hasil jawabannya? Kalau begitu silahkan datang langsung ke Pasar Cebongan dan tanyakan sendiri kepada si empunya nama!

*) Ditulis untuk newsletter #2 OK. Video COMEDY, 2009