Fragmen Seni Video Indonesia

What..., 2001. Color video, with sound, 11 min., edition 3/3. Solomon R. Guggenheim Museum, New York, Guggenheim UBS MAP Purchase Fund 2012.142 © Reza Afisina

What…, 2001. Color video, with sound, 11 min., edition 3/3. Solomon R. Guggenheim Museum, New York, Guggenheim UBS MAP Purchase Fund 2012.142 © Reza Afisina

Seorang pria tampak menampar wajahnya berulang-ulang sambil melafalkan bait-bait Injil (Lukas 12:3-11). Wajahnya perlahan-lahan tampak lebam, membengkak seiring dengan dirinya yang terengah-engah dan kepayahan melafalkan bait-bait tersebut. Mata berair dan liur yang terbersit di sudut mulutnya seolah meneriakkan sakit yang tak terperi. Selama kurang lebih 10 menit, ia ‘menghukum’ dirinya sendiri.

Adegan di atas adalah cukilan video What karya Reza Afisina yang diproduksi tahun 2001. Video performatif Reza yang kini menjadi koleksi Museum Guggenheim, New York, dianggap sebagai salah satu temuan penting dalam sejarah perkembangan seni video Indonesia.

Video What terpilih dalam kompilasi 10 tahun seni video Indonesia 2000 – 2010 terbitan ruangrupa. Kompilasi tersebut memuat 27 karya video yang dianggap penting dan menandai perkembangan video seni tanah air dalam kurun waktu satu dekade. Beberapa namaa lain yang juga masuk dalam kompilasi ini antara lain Ade Darmawan, Anggun Priambodo, Bagasworo Aryaningtyas, Hafiz, Mahadrika Yudha, Muhammad Akbar, Prilla Tania, Tintin Wulia, dan Wimo Ambala Bayang. Mereka masih konsisten berkarya hingga kini.

Membicarakan seni video tak bisa dilepaskan dari nama besar Nam June Paik. Seniman berkebangsaan Korea-Amerika ini diakui sebagai bapak video art. Ia mulai berkarya pada awal tahun 1960-an. Pada tahun 1965, menggunakan alat perekam video Portapak produksi Sony. Sejak itu ia semakin giat mengeksplorasi medium tersebut. Salah satu karya awalnya yang populer ialah TV Cello (1971). Paik menumpuk tiga buah televisi lengkap dengan leher dan senar cello. Masing-masing monitor menampilkan rekaman berbeda. “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back” selalu menjadi misi utamanya dalam berkarya. Kelahiran dan perkembangan seni video di Indonesia tentu saja tak serta-merta berangkat dari semangat yang sama dengan yang mendasari Paik dalam berkarya di era 1960-1970’an. Situasi di Amerika Serikat kala itu sangat berbeda dengan Indonesia, terutama perkembangan teknologinya.

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”

Kemajuan teknologi tersebut otomatis membuat negara-negara barat jauh di depan dengan menyelenggarakan festival-festival seni video dan seni media baru sejak lama. Seperti Brazil yang sudah tiga dekade menyelenggarakan festival Videobrasil. Ada pula Impakt Fetival yang diadakan di Utrecht, Belanda, sejak 1988, atau Images Festival yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1987 di Toronto, Kanada.

Perkembangan seni video Indonesia

Pada tahun 2001, ruangrupa, komunitas seni kontemporer berbasis di Jakarta, menggagas proyek Silent Forces, sebuah proyek seni video yang melibat seniman-seniman Indonesia dan internasional. Sebagai langkah awal, mereka melakukan riset mengenai penggunaan medium video dalam praktik seni rupa. Muncul beberapa nama besar seniman Indonesia yang menggunakan medium video dalam presentasi karya mereka, seperti Krisna Murti yang sudah bergelut dengan medium video sejak tahun 1980-an, Heri Dono yang membuat karya instalasi Hoping to Hear from You Soon (1992) dan Teguh Ostenrik yang pada sebuah pameran di Jakarta sekitar tahun 1994, menggunakan video sebagai medium berekspresi.

Nama Nerfita Primadewi juga mencuat karena aktif berkarya di pertengahan 1990-an, meski saat ini namanya tak terdengar lagi. Di luar nama-nama tadi, muncul temuan lain yang cukup menarik. Anak muda di pertengahan 1990-an aktif melakukan eksperimen video untuk kegiatan musik dan clubbing. Beberapa seniman bahkan diajak terlibat dalam eksperimentasi video ini.

Kegiatan-kegiatan yang mengetengahkan seni video dan seni media baru (new media arts) baru muncul pada awal 2000. Di Bandung, salah satu komunitas yang konsisten hingga saat ini ialah Bandung Center of New Media Arts yang menjadi cikal bakal Common Room. Sementara di Yogyakarta, ada MES56 dan Garden of The Blind yang menjadi cikal bakal HONF (The House of Natural Fiber).

"Casting Jesus" by Christian Jankowski (Photo by Haritsah Almudatsir, Courtesy of OK. Video)

“Casting Jesus” by Christian Jankowski (Photo by Haritsah Almudatsir, Courtesy of OK. Video)

Di Jakarta sendiri ada ruangrupa yang pada tahun 2003 menggelar festival seni video pertama di Indonesia. Festival berskala internasional ini diberi tajuk OK. Video – Jakarta Video Art Festival. OK. Video mengetengahkan video secara khusus dan masih rutin digelar setiap dua tahun hingga saat ini.

Penggunaan medium video kemudian semakin marak dan tak hanya terikat pada nilai estetika seni rupa. Farah Wardani, kurator dan penulis seni rupa, menuliskan hasil pengamatannya di Majalah Cobra #2 (Oktober – November, 2011) tentang fenomena yang terjadi di pertengahan 2000 ini. Menurutnya, kala itu video lebih marak dan luas diberdayakan di berbagai jenis komunitas kreatif independen dan LSM. Bentuknya beragam, mulai dari dokumenter, video participatory, video aktivisme seperti yang dilakukan Engagemedia, Forum Lenteng, dan Yayasan Kampung Halaman.

Bukan kebetulan jika pada perhelatan yang kedua, yakni tahun 2005, OK. Video tidak lagi menggunakan kata “art” dan mulai mengusung tema-tema spesifik yang sesuai dengan kondisi sosial, politik, dan budaya yang terjadi di Indonesia dan dunia saat itu. Ini bisa kita lihat sebagai usaha OK. Video yang merespon perkembangan yang terjadi saat itu. Sebagai sebuah medium, video terlalu sempit jika hanya dieksplorasi dalam ranah seni rupa saja. Lima tema yang diusung selama enam kali penyelenggaraan festival ini dirasa sesuai untuk setiap zamannya. Saya sendiri pernah terlibat di dua penyelenggaraan OK. Video, yakni OK. Video FLESH (2011) yang mengusung topik ketubuhan dan juga menyinggung tema digital viral, dan MUSLIHAT OK. Video (2013) yang mengetengahkan taktik warga dalam menyiasati teknologi, terutama di negara-negara non-produsen teknologi.

Setiap perhelatannya, OK. Video memilih tiga karya terbaik yang salah satunya berasal dari Indonesia. Selama enam kali penyelenggaraan, video-video yang terpilih cukup jeli membaca tema besar yang disodorkan dan menerapkannya ke dalam video. Tahun lalu, seniman asal Yogyakarta Arya Sukapura Putra dengan karya E-Ruqyah terpilih sebagai salah satu karya terbaik. Ia memberi arti lain pada ritual rukyah dengan menggunakan telepon selular dengan lantunan ayat suci yang menyala untuk digosok-gosokkan ke badannya. Karya video performatif ini dipilih selain karena jenial membaca tema, juga memberi makna baru pada suatu hal yang ada dan telah berlangsung lama.

Praktik seni video yang sedikit berbeda dilakukan oleh komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF). Komunitas yang bermarkas di Desa Jatisura, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat ini sejak tahun 2008 bekerjasama dengan Pemerintah Desa Jatisura untuk melakukan berbagai penelitian dengan pendekatan seni kontemporer yang mengajak partisipasi warga desa.

Program-program JAF cukup beragam, seperti lokakarya, proyek kesenian, residensi, dan festival seni. Salah satu program yang menarik perhatian saya ialah pameran bertajuk Pameran Senirupa di Rumah Warga yang diadakan pada September 2013 silam. Sebanyak 16 seniman lokal diundang untuk memamerkan karya mereka di beberapa rumah warga Desa Jatisura. Salah satu seniman video yang terlibat ialah Mahardika Yudha dengan karya Shepherding, Bayangan Timur Laut, Kapal Gersang, dan Suara Putra Brahma. Karya- karya tersebut dipresentasikan menggunakan televisi 29 inch di sebuah rumah warga yang memiliki usaha penyewaan Play Station dan warnet.

Program lain yang juga menarik ialah Village Video Festival (VVF) yang diadakan sejak tahun 2009. Festival video residensi tahunan yang awalnya bernama Village Film Festival ini berskala internasional. Seniman tinggal di rumah warga untuk berinteraksi, memetakan masalah yang ada, dan mengeksekusikannya dengan membuat sebuah karya video. Tahun lalu, VVF mengusung tema “Curi Pandang”. Tema ini dipilih untuk melihat kemungkinan perubahan yang akan terjadi di sekitar wilayah pemukiman mereka. Ini bisa menjadi strategi awal menyiasati pembangunan yang terjadi di sekitar desa mereka.

OK. Video dan JAF memang bukan parameter baku untuk melihat perkembangan seni video di Indonesia saat ini. Namun keduanya pada satu titik menunjukkan kecenderungan serupa, yakni video-video dengan tema yang kontekstual dengan zaman atau lingkungannya dapat membuat “seni video” terasa lebih dekat dan mampu merangkul massa yang lebih luas. Presentasinya pun bisa lebih cair. Video bisa berdiri sendiri sebagai sebuah karya, bisa juga menjadi bagian dari sebuah karya instalasi.

*) Dipublikasikan di majalah Esquire Indonesia edisi Februari 2014
Advertisements

Klik! Jadi

ABG ’90-an pernah sangat intens menggunakan produk teknologi yang bernama photo-box. Generasi Instagram sekarang mungkin asing, atau bahkan tak kenal dengan hiburan tersebut. “Kotak ajaib” kedua setelah televisi, yang hasil gambarnya dapat kita tentukan sendiri. Semacam fitur timer pada kamera konvensional. Bedanya, photo-box memungkinkan kita untuk melihat langsung penampilan kita di layar sebesar televisi 15 inch. Para ABG—yang mayoritas perempuan—asik berpose dan berubah posisi demi hasil foto yang maksimal. Sebagai pelengkap, pemilik studio foto menyediakan berbagai properti penunjang seperti topi, kacamata, dan wig.

Dua dasawarsa berselang, “kotak ajaib” tersebut tak sepenuhnya lenyap. Mereka bervolusi, dengan menciutkan dan mencanggihkan diri. Lahirlah yang kini kita kenal sebagai webcam. Kamera khusus pengguna komputer yang kini tertanam pada laptop, tak bisa dipungkiri memenuhi hasrat berfoto orang banyak. Kita tak perlu lagi capek-capek pergi ke studio foto, dan mengeluarkan uang sebesar harga Slurpee saat ini. Cukup dengan menyalakan laptop, mengaktifkan webcam, dan voila!, kita punya photo-box pribadi. Posisi tak terpaku pada duduk atau berdiri saja. Kini sambil tidur pun jadi.

tumblr_m81gmgEtke1rbeporo1_1280

klik jadi

Webcam telah membalikkan fungsi kamera untuk merekam pemiliknya sendiri. Perubahan ini terjadi seiring berjalannya waktu, menandakan perubahan zaman, dan pergeseran tren serta perilaku merekam itu sendiri.

After Photo-box karya Nissal Berlindung mengajak kita untuk mengalami pergeseran tersebut, dan ikut larut dalam tren yang sedang berlangsung. Dengan webcam, semua bisa menjadi fotografer dan model sekaligus. Jangan lupa bergenit-genit ria mencoba beragam filter yang tersedia.

Silakan submit foto kalian yang diambil menggunakan webcam ke www.klikjadi.tumblr.com, atau ke @klikjadi dengan mencantumkan #klikjadi. Selamat berfoto ria!


eflyer_topcollection3

Tulisan ini awalnya dibuat sebagai teks pelengkap karya After Photo-box oleh Nissal Berlindung dalam pameran Top Collection #3 di RURU Gallery pada 21 Juli – 4 Agustus 2012. Pameran yang dikuratori Julia Sarisetiati ini melibatkan enam seniman muda, antara lain Agan Harahap (Jakarta), Nissal Nur Afryansah (Jakarta), Reza Afisina (Jakarta), Reza Mustar (Jakarta), dan The House is Black (Jakarta). Karena suatu hal, tulisan ini tidak jadi dimuat.

Destination: Unknown

DRIFT

Pada musim panas 1953, sekelompok ilmuwan melakukan perjalanan keliling kota Paris. Tak ada rencana, tak ada daftar tempat yang mesti dikunjungi, semua diserahkan pada impuls, yang saat itu tampak menjadi satu-satunya hal yang mendorong mereka untuk melakukan ‘pengelanaan’ tersebut. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seseorang dari suku Kabyle—etnis terbesar di Algeria—yang kemudian tanpa disadari, apalagi direncanakan sebelumnya, akan mengubah hidup mereka.

Tak ditemukan literatur yang menjelaskan isi obrolan antara kelompok tersebut dan seorang Kabyle yang buta huruf tersebut. Besar kemungkinan sekadar sapaan dan tanya-jawab basa-basi saja yang keluar dari mulut mereka sebagai pencair suasana. Hingga saatnya istilah “Psychogeography” terlontar dari mulut seorang Kabyle itu sebagai respon atas ‘jalan-jalan tak tentu arah’ yang sedang mereka lakukan. Guy Debord, teorikus Marxist asal Prancis dan salah satu pendiri Situationist International (SI), ikut dalam ‘pengelanaan’ itu.

Lalu apakah psikogeografi hanya membahas soal jalan-jalan tak juntrung, sebagaimana komentar orang Kabyle itu? Tidak juga. Kelompok revolusioner Situationist International tersebutlah yang kemudian mempolitisasi konsep psikogeografi dan menjadikannya kritik politis. Psikogeografi, menurut definisi Debord, secara lebih presisi, sekaligus berbeda dengan definisi orang Kabyle, adalah sebuah studi tentang efek lingkungan geografis atau tempat yang mengendalikan perilaku individu yang berada di dalamnya. Debord lebih jauh mengembangkan definisi psikogeografi tersebut dengan teori ciptaannya, dérive (drift), yaitu perjalanan tanpa rencana yang seluruhnya diatur oleh perasaan individual atas lingkungan sekitar, untuk pemetaan dan investigasi psikogeografi pada beberapa area berbeda. Singkatnya, arsitektur sesungguhnya mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya, jauh lebih besar daripada yang biasa diperkirakan.

Berjalan santai di ruang kota, para pejalan kaki mencoba “membaca” kota dan memahami arsitekturnya. Layaknya seorang pengagum rahasia, mereka melihat kota dengan penuh hasrat yang terpendam. Pada saat yang sama, mereka terlibat “rekonstruksi main-main”: berbalik menatap kota secara menyeluruh.

Ilustrasi teks lengkap Psychogeography Game of The Week yang diterbitkan di Potlatch #1, edisi 22 Juni 1954.

Ilustrasi teks lengkap Psychogeography Game of The Week yang diterbitkan di Potlatch #1, edisi 22 Juni 1954.

Proses berbalik inilah yang menjadi kunci strategi kelompok SI, atau yang mereka sebut sebagai “détournment. Mereka memakainya sebagai alat berdialektika, atau berpikir secara teratur, logis, dan teliti. Gaya ‘pemberontakan’ ini menggunakan kondisi masa lalu untuk menunjukkan ketidakberesan masa kini yang penuh kebohongan lagi berbalut ideologi. Sehingga jika dianalogikan, proses “berbalik” adalah proses melihat ke masa lalu dan berusaha “membaca” kota untuk menyingkap fakta-fakta tersembunyi di balik pulasan ideologi—yang dalam dimensi waktu sekarang berwujud arsitektur kota—yang menawan, namun sebenarnya menipu (deceiving).

Menggunakan teknik tersebut, para Situationist menyingkap kemiskinan yang menjadi skandal kehidupan sehari-hari di negara asal mereka, Prancis, pada 1950-an. Mereka berusaha memperlihatkan perbedaan yang nyata, antara apa yang terjadi dengan yang semestinya terjadi. Mereka ingin masyarakat dapat melepaskan hasrat terpendamnya, dan berhenti menjadi bagian dari masyarakat yang terkomodifikasi. Jika hal ini terlaksana, agaknya suasana keguyuban, kesatuan dalam ruang publik akan lebih diinginkan dibandingkan komodifikasi, perpecahan, dan privatisasi.1

Contoh pemetaan atmosfer kota berbasis ide-ide pergerakan Lettrist dan Situationist International. Peta Paris dipotong di beberapa area berbeda, yang oleh sebagian orang dialami sebagai lingkungan dengan karakter yang berbeda. Potongan-potongan area tadi diletakkan secara menyebar, sehingga menciptakan jarak mental yang terasa jauh. Dengan mengembara, membiarkan diri 'mengapung' atau 'melayang' (dérive), setiap orang dapat menemukan kesatuan hubungannya di suatu kota. Tanda panah berwarna merah tersebut menunjukkan jalur penyeberangan yang paling sering dilakukan, terpisahkan oleh arus lalu lintas.

Contoh pemetaan atmosfer kota berbasis ide-ide pergerakan Lettrist dan Situationist International. Peta Paris dipotong di beberapa area berbeda, yang oleh sebagian orang dialami sebagai lingkungan dengan karakter yang berbeda. Potongan-potongan area tadi diletakkan secara menyebar, sehingga menciptakan jarak mental yang terasa jauh. Dengan mengembara, membiarkan diri ‘mengapung’ atau ‘melayang’ (dérive), setiap orang dapat menemukan kesatuan hubungannya di suatu kota. Tanda panah berwarna merah tersebut menunjukkan jalur penyeberangan yang paling sering dilakukan, terpisahkan oleh arus lalu lintas.

Di negara-negara Barat, makna konsep psikogeografi kemudian mengalami pergeseran. Berangkat dari definisi milik Debord, bahwa efek lingkungan geografis mengendalikan perilaku individu, salah satu kasus yang bisa menjadi contoh adalah yang terjadi di Inggris. Pada 1980-an, Inggris mulai dipenuhi CCTV alias kamera pengintai di berbagai penjuru kota.2 Sejak itu, perilaku masyarakat otomatis dipengaruhi oleh kehadiran CCTV. Sehingga berjalan kaki dapat dianggap sebagai bentuk perlawanan jika bisa menghindar dari pandangan mesin-mesin pengintai itu. Dapat dibayangkan, bagaimana kikuknya masyarakat Inggris di luar rumah karena ‘terpaksa’ menjadi ‘teratur’ di depan kamera. Bagi yang tak suka dengan kondisi ini, mungkin akan membuat jalur khusus yang berisi rute-rute mana yang dianggap “cukup aman”, yang memiliki kamera dengan jumlah paling sedikit.3

Pergeseran-pergeseran yang terjadi tersebut turut meresahkan Iain Sinclair, penulis dan sineas asal Inggris yang juga kerap disebut sebagai psikogeografer kontemporer. Definisinya tentang psikogeografi memang lebih cair—yang menurutnya dicetuskan pertama kali oleh esais Thomas De Quincey: “Wanderings, slightly druggy, no pattern, and mapping out the city (pengelanaan, sedikit teler, tidak berpola, dan memetakan kota).”4 Namun pergeseran-pergeseran tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa yang tersisa dari psikogeografi adalah makna samar antara “berjalan kaki” dan “keliling kota”. Pernyataan itu masih merupakan bagian dari rangkaian kritiknya atas Will Self, penulis asal Inggris yang sempat memiliki kolom khusus tentang ‘psikogeografi’ di surat kabar The Independent periode 2003 – 2008. Sinclair menyatakan dengan tegas bahwa kolom-kolom Self tak mengusung semangat psikogeografi yang sebenarnya, melainkan sekadar deskripsi-deskripsi ruang dan tempat saja yang tak ada hubungannya dengan psikogeografi.

Di Indonesia sendiri, gaung psikogeografi belum begitu kentara. Namun, kita mengenal istilah yang memiliki makna dan mengusung semangat yang serupa dengan konsep yang ditawarkan oleh psikogeografi: “berjalan-jalan”. Dalam percakapan sehari-hari kita kerap mempersingkatnya menjadi “jalan-jalan”, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “bersenang-senang dengan berjalan kaki”. Tujuannya bukan lagi abstrak, seringkali justru tidak ada. Sehingga tanpa disadari, sebenarnya kita telah menerapkan konsep psikogeografi sejak lama.

Umumnya, seseorang berjalan-jalan dengan alasan mencari udara segar, melepas ketegangan otot, pikiran, dan sebagainya. Dari kegiatan iseng-iseng itulah terkadang kita menemukan “hadiah” yang mungkin tanpa sadar kita harapkan. Secara sederhana misalnya, kita berjalan-jalan keliling kompleks perumahan hanya untuk mencari udara segar setelah seharian berkutat di depan layar komputer. Di tengah perjalanan, kita berpapasan dengan teman lama yang kebetulan baru pindah rumah. Usai mengobrol singkat, kita meneruskan perjalanan ke blok selanjutnya. Dibandingkan yang lain, blok ini terlihat dijaga lebih ketat. Selain ada pos satpam di ujung gang, ternyata lebih dari satu pemilik rumah di gang ini yang memelihara seekor anjing yang cukup bikin nyali ciut. Haus lalu mulai terasa saat kita melewati area ketiga di mana ada penjual es kelapa muda yang mangkal. Di sana, kita singgah untuk istirahat dan melepas dahaga. Setelah puas, sore beranjak senja. Saatnya untuk pulang.

Dari pengelanaan singkat tersebut, sebuah peta mental telah tercipta. Di sana terdapat jejak-jejak virtual berbentuk acak, yang menyimpan karakter-karakternya sendiri. Jejak acak tersebut akan menemukan polanya, jika pengelanaan ini dilakukan berulang-ulang, meski melewati rute-rute yang berbeda sekalipun. Jika garis-garis pada peta lebih menunjukkan isi pikiran seorang perencana perkotaan,5 maka tidak demikian dengan peta mental yang telah melalui serangkaian pengalaman langsung. Di masa depan, peta tersebut akan membantu kita mencapai tujuan tertentu. Kalau pun tidak, ia masih dapat membuat kita seolah-oleh mengalami kembali pengelanaan tiga blok tersebut. Jika enggan berurusan dengan anjing galak, maka dengan sendirinya otak akan memerintahkan anggota tubuh yang lain untuk segera mengambil rute yang berbeda.

Ilustrasi peta mental psikogeografi berjudul The Cityman.

Ilustrasi peta mental psikogeografi berjudul “The Cityman”.

Pengelanaan-pengelanaan berbasis coba-coba juga dapat dipraktikkan saat kita beraktivitas menggunakan kendaraan. Karena suatu hal, macet misalnya, terkadang kita tergerak untuk segera mencari rute lain yang tidak memiliki hambatan serupa. Satu lokasi tujuan dapat dicapai dengan beberapa rute dengan suasana yang berbeda.

Hingga kini di Indonesia, tampaknya psikogeografi lebih banyak digunakan sebatas kepentingan individu. Jika ada yang yang mengeksplorasi untuk hal yang lebih besar dan lingkup yang lebih luas, jumlahnya tak banyak. Salah satunya barangkali komunitas Peta Hijau (Green Map Indonesia). Komunitas yang berdiri sejak 2001 itu mengemban misi mewadahi berbagai inisiatif lokal demi terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan. Komunitas mereka tersebar di beberapa kota di Indonesia. Hasil program komunitas ini cukup menarik untuk disimak, misalnya peta hijau keanekaragaman hayati dan peta informasi kawasan. Keduanya menghadirkan informasi yang dapat mendukung gaya hidup ramah sosial dan ramah lingkungan.

Green Map Indonesia juga kerap mengadakan lokakarya. Salah satu yang pantas dicermati adalah Lokakarya Peta Hijau Pejalan Kaki yang diadakan pada akhir Mei 2012 di Yogyakarta. Mereka mengajak masyarakat untuk mengenali berbagai permasalahan seputar isu pejalan kaki beserta fasilitasnya. Mereka memetakan kondisi trotoar serta perilaku pengguna jalan terhadap fasilitas jalanan yang ada.6 Pernah pula mereka mengadakan lokakarya bertajuk Kampung Memori yang pesertanya tak lain adalah anak dan para keponakan salah seorang anggota Green Map Yogyakarta sendiri, Maria Hidayatun. Ia ingin agar memori masa lalu mengenai kampung Nyutran, tempat di mana mereka lahir dan dibesarkan sebelum kemudian berpencar ke kota-kota lain, turut dirasakan oleh anak-cucu mereka.7

Berbagai inisiatif yang dilakukan warga di kotanya, salah satunya adalah untuk menjadikan kota sebagai hunian yang lebih manusiawi. Pemahaman psikogeografi dapat menjadi salah satu bekal untuk melaksanakan misi tersebut. Amat disayangkan jika akhirnya nilai yang tersisa dari studi ini hanya sekadar berjalan kaki keliling kota, alias sebuah bentuk baru pariwisata belaka.***


1 Sadie Plant, The Most Radical Gesture: The Situationist International in A Postmodern Age (Routledge, 1992). Tautan: http://www.geog.leeds.ac.uk/people/a.evans/psychogeog.html, diakses pada 1 Juni 2012, pukul 01:00 WIB.

2 Tidak sedikit yang berspekulasi bahwa hal ini dipicu oleh novel fenomenal karya George Orwell yang berjudul 1984. Novel distopia tersebut diterbitkan pada 1949, namun ceritanya mengambil waktu tahun 1984, saat kediktatoran partai Oligarki sedang berkuasa. Begitu fenomenalnya, hingga hal ini dianggap sebagai respon berlebihan—bahkan paranoid—terhadap sang penguasa.

3 Hingga kini, Inggris masih menjadi negara dengan jumlah CCTV terbanyak. Menurut situs Cctv.co.uk, jumlah CCTV di Inggris pada 2011 menunjukkan angka yang cukup fantastis, yakni 1,5 juta buah. Protes warga banyak bermunculan. Salah satu aksi protes paling terkenal akan serbuan kamera pengintai ini adalah karya street artist, Banksy, yang menuliskan “One Nation under CCTV” berukuran besar di dinding sebuah gedung. Tautan: http://www.cctv.co.uk/how-many-cctv-cameras-are-there-in-the-uk-in-2011. Karya Banksy bisa dilihat pada: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/1895625/Banksy-pulls-off-daring-CCTV-protest-in-London.html

4 Caff Masters: Iain Sinclair at The Copper Grill, tautan: http://www.classiccafes.co.uk/isinclair.htm. Diakses pada 31 Mei 2012, pukul 23:00 WIB.

5 Ade Darmawan, Tin Ribbon, Swarms, rhizomes, swarms, liquid spaces and gLÖbAL PosITioÑ deViCEs, katalog proyek seni rupa (Jakarta: ruangrupa, 2001). Versi lengkap kutipan adalah, Lines on the map tell more about thecity-planners’ mind than about the self-organizing systems.

6 Sudah bukan rahasia lagi jika pejalan kaki kerap diperlakukan sebagai pengguna jalan yang dipandang sebelah mata. Fasilitas trotoar yang jumlahnya tak seberapa dan kondisinya memprihatinkan, masih sering diserobot oleh para pengendara sepeda motor. Di video berjudul Pembela Hak Pejalan Kaki yang diunggah oleh wierki14 pada 3 September 2009 ini, tampak seorang ibu yang kesal dan memarahi pengendara sepeda motor yang menyerobot naik ke atas trotoar: http://www.youtube.com/watch?v=_Q84iAN0WVY. Di dunia maya sendiri, gerakan serupa hadir melalui akun Twitter @JalanKaki yang khusus menyoroti permasalahan pejalan kaki di Jakarta.

7 Adriani Zulva, Anak Kota Memeta Kampung, http://greenmap.or.id/peta-hijau-indonesia/34-yogyakarta/227-anak-kota-memeta-kampung.html. Diakses pada 1 Juni 2012, pukul 17:00 WIB.

 

*) Tulisan ini dibuat sebagai pengantar pameran DRIFT yang diselenggarakan pada 7 – 16 Juni 2012 di RURU Gallery, Jakarta. Pameran seni multimedia ini dikuratori oleh Mahardika Yudha dan melibatkan tiga seniman muda yakni Prilla Tania, Bagasworo Aryaningtyas, dan Ricky Janitras.

Reinterpreting Identities in Indonesian Classic Films Poster with Gambar Selaw

 

“Sundel Bolong” is the most selected film by the member of Gambar Selaw

If there’s a month where Indonesian movie buffs gather at the theater to glorify the beauty of art directing and story-telling, probably March is the answer. It’s simply because the National Film Month is celebrated every March 30th. To commemorate the moment, The Jakarta Arts Council and Kineforum are regularly held a two weeks-length series of events to satisfy the cinephile. It’s the sixth year since the first celebration of Sejarah Adalah Sekarang (History is Now). More than twenty film screenings (old and new), discussions, art exhibition, bazaar, and music concert can be enjoyed at Taman Ismail Marzuki (TIM) area.

One of the highlighted events is the Indonesian Classic Film Poster Illustrations exhibition by Gambar Selaw—or shortened by Galaw—curated by Ade Darmawan. Gambar Selaw is a drawing club established in September 2011, who has a regular meeting every Thursday night at Ruru Shop, ruangrupa. Sixty-four posters inspired by twenty classic Indonesian movies are exhibited at Galeri Cipta 3, TIM.

Kineforum randomly chose the movies, focusing on classic Indonesian movies that produced between 1950-1980s. There was no specific theme applied. “Before start making artworks, the artists watched the selected movies together at Kineforum. Then, they were free to choose the title of the movies they are going to reinterpreted,“ explained Darmawan on the opening night. The private screening was limited to several movies only, most of them are the less-popular ones, unlike Sundel Bolong, or Catatan si Boy.

This becomes interesting, since half of the movies were produced before the 1980’s, far before most of the artists have even born yet. It’s not a surprise if later, movies like Sundel Bolong, Gitar Tua Oma Irama, and Gundala Putra Petir become top 3 most picked movies by them, because those are movies are more popular amongst the others, and the characters have become somewhat icons over decades.

The film titles range over three decades, from the 1953’s production Harimau Tjampa, until the 1980’s hit about the local casanova, Catatan si Boy. Not to mention the legendary long-haired, hole in the back female ghost, Sundel Bolong, who brought the cast, the late Suzanna, to the top of public’s mind when it comes to horror movie.

The exhibition divided into two sections at the gallery. On the first floor, the artworks are divided into several movie titles, such as Sundel Bolong (1981), Djenderal Kantjil (1968), Manusia 6.000.000 Dollar (1981), Harimau Tjampa (1953), and Catatan si Boy (1987). All artworks were digitally finalized, so the artists can add texts like movie tagline and credit title.On the second floor, we can find illustrations from Gundala Putra Petir (1981), Intan Berduri (1972),Gitar Tua Oma Irama (1977), Asrama Dara (1958), Perawan Desa (1978), Tangkaplah Daku Kau Kujitak (1987), Pak Prawiro (1958) and many more. The artists also exhibit the original sketches here. Most of them are in an A4 format or smaller, to make it easier to be scanned for the finalization.

Sundel Bolong seemed to be the diva among all. Approximately eight artists created remake the movie poster of this nation’s most memorable ghost. The long hair and hole in the back, are kept exposed in an uncannily bone-chilling feeling. Lucky for us, new approach was offered that can save us from the the monotone iconic clichés. The initiatives came from two artists who thought it was a good idea to sprinkle the artwork with a bit of humor. Their attempt, in the end, wasn’t failed at all.

“Sundel Bolong” by The Popo

They are The Popo and Johan Ardhika. They have succeeded in making Sundel Bolong becomes less scary. Johan Ardhika, for example, he took advantage of one of the famous lines in the movie, “Satenya 200 tusuk, bang!” (200 satays, please!). Instead of exposing the back, he chose to expose the this legendary scene into the poster; Sundel Bolong eating satay. On the other hand, Popo, not only drew a female ghost figure showing her hollow back, but also put a street tailor as an extra stunt on her side. Riding his bicycle, the tailor seemed offering a service to Sundel Bolong—presumably to sew her back—but the lady ghost refused by giving him a hand signal. Popo, who is also known as Jakarta’s own street artist, is consistently using humor in most of his artworks. His other creation is Gundala Putra Petir (Gundala the Son of Lightning). This time, he made a literal interpretation of the movie title; Gundala were drawn holding a blue balloon on the right hand, and his father’s hand, the Lightning, with the left hand.

The mediums are varied; from drawing pen, pencil color, marker, water color, and many more. Unlike the mediums, the artist were using quite similar approaches in remaking these classic Indonesian movie posters. There were at least two major approaches.

The original “Catatan si Boy” film poster (right) with its illustration series by Gambar Selaw

The first, and most used approach by all of the artists is using the figure as the key. It is very common for us to see artworks exposing character(s) as the main subject of the poster. Major part of the gallery are filled with posters like that. To name a few, there were Sahal Abraham, who chose to draw Rhoma Irama in Sjumandjaja’s 1977 Gitar Tua Oma Irama; Nona Kumis, with herLupus and his infamous blowing bubble gum habit in Asrul Sani’s Tangkaplah Daku, Kau Kujitak (1986); Johan Ardhika, who exposed the national playboy with his iconic aviator sunglasses and Mercedes E-Class in Catatan si Boy (1987), and Tiffany, who deliberately exposed the female gang of four in Asrama Dara (1958).

Similar thing also found in the superhero movies section. Without having to look at the caption, we can easily recognize the movie title by looking at the exposed figure. There were DC Comics’ knock-off, Rama Superman Indonesia (1974) by Bayu Wibowo; Lahirnja Gatotkatja (1960) by Effi; and the local version of the famous tv serial The Six Million Dollar Man, Warkop DKI – Manusia 6.000.000 Dollar (1981) by Anis Wuku.

It’s not a surprise, considering it is probably the easiest and the safest way to make a movie poster; by using its key message. Therefore, people could recognize, and get a brief information about the story, at the same time.

“Djendral Kantjil” series by Gambar Selaw

The second approach, which I find more interesting, was by using a symbol that could represent the movie well enough. Danang Sulistyo maintain this simplicity in two of his artworks, a chicken-shaped money-box made of clay for Pak Prawiro (1958), and a gun for Djendral Kantjil (1968). If we look back at the movies, this is actually also a safe attempt. Pak Prawiro is a movie about a villager named Prawiro, who suggested people to start saving money for the better future. This movie was also produced as Bank Tabungan Pos propaganda. In other hand, Djendral Kantjil, is a children movie about a boy who asked his parents for a toy gun. After getting what we wanted, he started a troop with his friends, who later has managed to thwart a theft in their neighborhood.

The two approaches gave different impacts to the spectators. The first approach, which expose actors as main subject, delivered information about the character; while the second one, which tend to reveal symbol, delivered a message about the story.

At first, movie poster was a strategy to cut the promotional budget. They were designed to grab people’s attention and get them want to see the movie, before having to do a television commercial. If a picture speaks louder than a thousand words, a movie poster has a tougher job, because it has to sell itself at the same time.

We can’t ignore the fact that people having the need to get informed about the movie before they watch it. The sources are then open into three forms: text (synopsis), visual (poster), and audiovisual (trailer). So it is safe to conclude that the key message in a movie poster, is vital, because it grows become the movie identity itself. In this case, the artists have chosen a particular movie identity to be exposed in each artwork, but also, their identity as well. ***

Indonesian Classic Film Poster Illustrations, an art exhibition by Gambar Selaw, from 23 – 31 March 2012 at Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl. Cikini Raya 73, Central Jakarta. For more infomation about Gambar Selaw (Galaw): www.gambarselaw.com.

Bingkai Plesir Kota ATLAS

Seorang pengunjung sedang melihat stereo foto dengan View-Master. Foto-foto menampilkan 4 museum di Semarang: Museum Mandala Bhakti, Musem Ronggowarsito, Museum Rekor Indonesia, dan Museum Jamu Nyonya Meneer. (foto: Rizki Lazuardi)

 

KAPAN terakhir kali Anda berkunjung ke Semarang, di luar urusan pekerjaan dan kunjungan tahunan pada hari raya? Sarana rekreasi yang terdapat Semarang memang tidak sevariatif di Jakarta. Keindahan alamnya pun tak bisa disandingkan dengan deretan bukit di Papua. Jangan pula membandingkan Pantai Maros dengan Pantai Nusa Dua yang ada di Bali. Tak heran jika akhirnya Semarang jarang masuk ke dalam daftar destinasi liburan favorit.

Tapi, industri pariwisata Semarang yang kian lesu ternyata tak menyurutkan minat penduduk lokal untuk bersenang-senang, meski kelihatannya pemerintah daerah tak bergairah untuk menggelorakan kembali tempat-tempat rekreasi yang ada. Minimnya fasilitas memacu mereka, terutama muda-mudi, untuk semakin kreatif “menciptakan” tempat baru sebagai tempat berkumpul (melting pot). Alhasil, menjamur lah tempat rekreasi “jadi-jadian” yang kini pamornya jauh mengalahkan tempat rekreasi yang sesungguhnya.

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Lawang Sewu. Bangunan yang namanya berarti “seribu pintu”—meski tidak benar-benar memiliki seribu pintu—ini sudah lama dibiarkan kosong sejak pemakaian terakhir sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau kini PT Kereta Api Indonesia. Sekitar tahun 2003, bangunan ini dijadikan lokasi syuting Dunia Lain, sebuah program televisi bertema horor. Praktis sejak saat itu kehadirannya tak bisa dilepaskan dari nuansa mistis. Anehnya, hal ini justru menjadi daya tarik kuat bagi turis, baik yang berasal dari dalam maupun luar Semarang. Bangunan yang lama tak dihiraukan, kini secara pelahan tapi pasti berubah menjadi salah satu destinasi utama saat berkunjung ke Semarang. Orang-orang seperti tak masalah mengeluarkan sekian puluh ribu sebagai biaya “tiket masuk” dan biaya “pemandu”. Persoalan legalitas kedua hal tersebut, saya tak berani jamin.

Selain Lawang Sewu, ada pula Tugu Muda yang menjadi tongkrongan favorit muda-mudi Semarang. Bagi Anda yang belum tahu, tugu ini layaknya Patung Selamat Datang di Bundaran HI. Sebuah landmark yang berada di pusat kota. Bedanya, tugu tidak dikelilingi kolam air mancur, melainkan taman. Setiap malam, terutama hari Sabtu, lokasi ini dipadati pengunjung yang sekadar mengobrol dan bercanda ria. Kegiatan senang-senang tersebut tak afdol jika tidak ditambah foto-foto. Tak ada kamera, ponsel berkamera pun jadi.

 

Merekam Keriaan

Budaya merekam kegiatan wisata di Semarang tersebut yang dijadikan tema besar dalam pameran kolaborasi dua seniman lokal, Irfan Fatchu Rahman dan Rizki Lazuardi. Pameran bertajuk “ATLAS Holiday” ini diselenggarakan sejak 19 – 26 Maret di Lembaga Budaya Belanda Widya Mitra, Semarang. “ATLAS” yang dimaksud bukanlah buku peta, namun slogan kota Semarang yang merupakan singkatan dari “Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat”. Keduanya mencoba melihat Semarang dari dua sudut pandang berbeda. Irfan lahir dan tinggal di Semarang hingga sekarang. Sedangkan Rizki sejak tiga tahun silam bekerja dan tinggal di Jakarta, sehingga ia sekaligus membawa sudut pandang turis dalam melihat kembali Semarang.

Seri karya pertama mereka yang berjudul Instant Memories menghadirkan 23 foto rekonstruksi di berbagai tempat rekreasi, seperti Kelenteng Sam Poo Kong, Taman Hiburan Wonderia, Kebun Binatang Mangkang, dan lain-lain. Selain itu, ada pula tempat rekreasi “baru” seperti Lawang Sewu, Taman KB, Tugu Muda, dan lain-lain. Sebagian besar tempat baru tersebut sebenarnya  termasuk kedalam kategori ruang publik dan bukan tempat rekreasi. Namun jumlah pengunjung di tempat-tempat baru tersebut cenderung lebih besar dibandingkan yang memadati tempat-tempat rekreasi yang sesungguhnya. Berhubung ini adalah foto rekonstruksi, maka keduapuluh tiga “turis” yang ada dalam foto tersebut bukanlah turis sungguhan, melainkan teman-teman mereka sendiri yang diminta berpose a la turis.

Foto diambil menggunakan kamera instan, lalu dipamerkan dengan menggunakan sampul. Tujuannya untuk menciptakan ilusi bahwa seluruh foto tersebut difoto oleh seorang fotografer keliling. Sampul berfungsi untuk mencegah sidik jari berbekas di permukaan foto.

Jika di seri karya pertama kedua seniman berpura-pura sebagai fotografer keliling, maka di seri karya Order Speculation, sosok tersebut benar-benar dihadirkan lewat foto dalam medium neon box dan rekaman suara. Mereka adalah Sutono dan Bowo. Keduanya beroperasi di Bonbin (kebun binatang) Mangkang. Sutono mewakili kelompok fotografer order yang biasanya ditunjuk secara resmi oleh suatu tempat rekreasi. Sedangkan Bowo adalah seorang fotografer spekulasi yang berkeliaran di tempat-tempat rekreasi dan memotret secara acak pengunjung yang datang. Baru nanti hasil jepretannya digelar di dekat pintu keluar, dengan harapan dibeli oleh pengunjung yang wajahnya terpotret oleh Bowo.

Di masing-masing foto, keduanya terlihat mengalungkan kamera instan. Pada kenyataannya, baik Sutono maupun Bowo menggunakan kamera digital. Penambahan objek yang telah lewat masanya ini bertujuan untuk menunjukkan kepada kita bahwa profesi mereka turut berubah akibat perkembangan teknologi. Meski kini ponsel berkamera menjamur dimana-mana, eksistensi mereka tetap dianggap penting di setiap tempat rekreasi. Fotografer keliling menjadi andalan bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen-momen rekreasional, namun terbentur fasilitas.

Pada seri karya Amusement and Spectacle, kedua seniman menggunakan medium film dalam menampilkan video tiga kanal (triptych video) tentang kegiatan wisata di dua tempat rekreasi, yakni Taman Hiburan Wonderia dan Lawang Sewu. Dua dari tiga kanal video tersebut merupakan rekaman rekonstruksi yang dilakukan oleh mereka, sedangkan satunya lagi merupakan found footage berupa rekaman liburan keluarga di tahun ’70-an yang tak sengaja ditemukan Rizki di tempat penjualan barang loak di Jakarta. Ketiga kanal video tersebut disandingkan, lalu disajikan sebagai sebuah rekaman audio visual kegiatan wisata.

Waktu 40 tahun lebih yang terpaut antara rekaman temuan dan rekaman rekonstruksi menjadi bias karena karakter medium film 8 mm yang digunakan memiliki resolusi rendah. Sehingga detail visual semisal perubahan tempat rekreasi zaman dahulu dan sekarang juga tidak begitu kentara.

Ketiga kanal video ini memperlihatkan bahwa usaha merekam kegiatan wisata sudah sejak lama dilakukan, tak hanya dalam bentuk visual, namun juga audio visual. Terbukti adanya temuan otentik—meski tak sengaja—rekaman dari tahun ’70-an. Hal ini menegaskan bahwa usaha perekaman menjadi sama pentingnya dengan kegiatan wisata itu sendiri. Yang perlu kita ingat adalah, pada masa itu peralatan rekam tidak semudah dan semurah sekarang, sehingga hanya momen-momen tertentu saja yang dianggap berharga dan layak direkam. Hal ini sejalan dengan pernyataan Susan Sontag dalam bukunya On Photography, yang mengatakan bahwa rekaman visual (foto) merupakan miniatur realita atau pengalaman yang terbingkaikan. Kita berhasrat untuk mengabadikan setiap momen rekreasional dengan harapan dapat “merasakan” kembali keriaan tersebut  di masa depan.

Jika di tiga seri karya sebelumnya kedua seniman menggunakan medium standar dalam menampilkan rekaman visual dan audio, maka di seri karya terakhir yang berjudul Amusing Museums, mereka menggunakan perangkat hiburan kuno View-Master. Benda yang dikategorikan sebagai mainan ini digunakan untuk melihat tujuh foto yang terdapat pada sebuah piringan kertas. Ketujuh foto tersebut nantinya terlihat seperti sebuah gambar tiga dimensi atau disebut juga sebagai stereo foto. Di negara asalnya, Amerika Serikat, View-Master awalnya digunakan untuk keperluan promosi objek wisata. Piringan kertas diisi foto-foto pemandangan alam dan berbagai atraksi yang menarik perhatian para turis. Di Indonesia sendiri, mainan ini sempat populer di akhir ’80-an.

Ada empat buah View-Master yang tersedia, dengan total 28 buah stereo foto empat musem di Semarang, yakni Museum Mandala Bhakti, Musem Ronggowarsito, Museum Rekor Indonesia, dan Museum Jamu Nyonya Meneer.

Masyarakat Indonesia memang kurang terbiasa dengan “promosi wisata” menggunakan cara ini, namun Irfan dan Rizki berniat mengembalikan fungsi View-Master yang sesunguhnya. Meskipun demikian, keduanya tak berniat menjadikan pameran ini sebagai pameran promosi wisata Semarang. Itu sebabnya mereka merasa tidak perlu melengkapi karya dengan keterangan lokasi.

Pameran ini memang tak sempurna. Presentasi karya yang kurang maksimal mengurangi kenyamanan dalam menikmati karya yang ada, terutama pada seri karya Amusement and Spectacle. Dalam menayangkan video, mereka tidak menggunakan layar standar, tetapi dinding galeri yang dicat putih seadanya. Video pun tidak dibuat otomatis memutar ulang begitu durasinya habis, sehingga hampir setiap tiga menit, kedua seniman sibuk meminta pihak galeri, atau bahkan melakukan sendiri, memutar ulang video dari awal. Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ada, pameran ini pantas diapreasiasi. Jika dibandingkan dengan Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta; seniman asal Semarang kurang terdengar gaungnya. Hadirnya pameran ini menyemarakkan dunia seni rupa Semarang yang seolah ikut lesu seperti industri pariwisata kota ini.

Tema rekreasi yang diusung kembali mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya manusia senang mencari hiburan, yang salah satu caranya adalah dengan berwisata. Keriaan berwisata tersebut lantas kita abadikan menjadi sebuah rekaman visual, agar sewaktu-waktu dapat dinikmati kembali. Pada akhirnya, mungkin itu pula tujuan Tuhan menciptakan akhir pekan, agar manusia memiliki waktu luang dan dapat menunaikan kodrat sebagai makhluk bermain (Homo ludens). ***

 

Foto-foto lain:

 

 

*Catatan penulis
Ada sedikit perubahan pada tulisan ini. Sementara versi aslinya bisa dibaca di situs Indonesia Art News.

 

Karena Kota adalah Kanvasmu

Mural Sedia Tisu Sebelum Nafsu oleh Bonds.

Ada yang sedikit berbeda ketika saya melewati Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, di akhir Desember 2010. Di salah satu tiang monorel terdapat gambar menu “klik kanan” pada tetikus (mouse) komputer. Kursor tetikus terlihat aktif menunjuk menu“Delete“. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah cibiran, “Yah,andaikan segampang mengklik kanan untuk menghilangkan tiang-tiang yang nggak berguna ini.”

Belakangan saya baru tahu bahwa gambar tersebut merupakan bagian dari seri karya berjudul Klik Kanan yang dibuat oleh salah satu peserta Lokakarya Street Art Jakarta 32°C, yang tergabung dalam kelompok Laskar Artup. Jakarta 32°C sendiri adalah agenda rutin dua tahunan yang diadakan oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. Acara ini mewadahi para mahasiswa Jakarta dalam memamerkan karya-karya visual. Meski sudah diadakan sejak 2004, namun baru pada 2010 Jakarta 32°C mengadakan lokakarya street art yang kali ini dibimbing langsung oleh seniman street art Bujangan Urban dari Artcoholic dan Popo dari Kampung Segart.

Lokakarya yang diadakan pada Oktober – November 2010 silam ini mengangkat tema Bongkar Jakarta. Dokumentasi dan artefak lokakarya turut dipresentasikan dalam sesi pameran Jakarta 32°C di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada 28 Desember – 12 Januari 2010. Dengan tema tersebut, setiap peserta diharapkan mampu membuat karya-karya yang dapat merespon beragam fenomena dan persepsi yang berkembang di Jakarta, mulai dari mobilitas penduduk, identitas, stereotipe dan ingatan kolektif masyarakat kota, hingga ruang dan peristiwa massa.

Dengan berbagai pertimbangan, peserta lokakarya dibatasi hanya bagi mereka yang memiliki portofolio yang cukup, sebab persoalan teknis tak lagi dibahas secara terperinci. Mengingat tema lokakarya cukup kompleks, wajar bila panitia lebih mengutamakan peserta dengan jam terbang yang cukup, berpengalaman membuat karya-karya street art, serta tahu bagaimana cara meracik isu menjadi sebuah karya yang sarat pesan. Ada tujuh peserta yang terpilih, dua di antaranya kelompok, sisanya individu, dan mereka adalah kelompok Sevensoul, kelompok Laskar Artup, Abi Rama, Sidvizeus, Angganoa, Ashtwo, dan Bonds.

Dalam membuat karya, tiap peserta menggunakan teknik yang berbeda. Abi Rama, Ashtwo, Bonds, dan kelompok Sevensoul memakai cat tembok yang dikombinasikan dengan cat semprot dan spidol. Sementara kelompok Laskar Artup dan Sidvizeus menuangkan ide dan gagasan mereka ke dalam bentuk wheat paste, yaitu gambar di atas kertas yang ditempel dengan menggunakan perekat dari tepung kanji (tapioka/aci) yang dididihkan. Wheat paste juga dikenal dengan nama Marxist glue, sebab di masa lampau kerap digunakan oleh organisasi beraliran kiri. Kini cara itu diadopsi untuk berbagai aksi seni rupa, termasuk dalam membuat karya street art, meskipun karyanya tak selalu bermuatan politis. Rudi, salah seorang anggota kelompok Laskar Artup, mengaku pada awalnya mereka berniat membuat karya Klik Kanan dalam bentuk mural atau stensil, namun mengingat jumlah karya dan titik lokasi penyebaran yang cukup banyak, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan wheat paste. Selain praktis, lebih hemat waktu dan uang.

Isu-isu yang diangkat oleh kelompok Laskar Artup dalamKlik Kanan cukup beragam, meskipun secara tampilan, karya mereka cukup sederhana, yakni hanya berupa menu “klik kanan” pada tetikus tanpa ada teks tambahan. Empat “anjuran” yang mereka muat dalam karya ini antara lainDelete, Refresh, dan Send to. Dalam Delete, mereka “menganjurkan” agar benda-benda yang terpilih segera dibongkar. Pada Refresh, mereka berharap adanya pembaruan pada benda-benda yang kondisinya sudah tak layak. Sementara pada Send to, kelompok ini menganggap bahwa beberapa benda sebaiknya dipindahkan ke daerah lain karena dirasa sudah tak layak lagi untuk ditempatkan di Jakarta.

Contoh pertama adalah karya Delete pada tiang monorel di Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, yang pertama kali saya lihat itu (Gambar 1). Karya sederhana ini merespon keberadaan tiang-tiang monorel di sepanjang jalan yang masih tegak berdiri, meski proyeknya sendiri telah bertahun-tahun mandek karena persoalan dana. Kini, tujuh tahun sudah sejak pemancangan tiang pertamanya pada 2004, tiang-tiang tersebut masih berdiri di sepanjang Jalan Asia-Afrika hingga Jalan Gelora. Selain sia-sia dan tidak sedap dipandang, kehadirannya membuat arus lalu lintas di Jalan Gelora, tepat di belakang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menjadi tersendat. Lebar jalan yang tak seberapa semakin terkikis dengan adanya tiang-tiang yang mejeng di badan jalan. Ya, tidak semua tiang monorel berada di pembatas jalan seperti yang ada di situ. Persoalan-persoalan inilah yang membuat kita pada akhirnya berharap dapat menghilangkan tiang-tiang tersebut semudah “mengklik kanan”.

Selain monorel, Laskar Artup juga menyentil bajaj. Dengan memberi tanda Send to, secara tidak langsung kelompok ini mengatakan bahwa sudah saatnya bajaj dipindahkan ke daerah lain, karena sudah tidak sesuai dengan kondisi Jakarta saat ini. Tak hanya isu transportasi, Laskar Artup juga merespon benda-benda seperti kotak pengaduan masyarakat milik Polsek Metro Kebayoran Baru, gerobak nasi goreng, tempat sampah, serta dinding terowongan, yang seluruhnya ditempeli wheat paste Refresh. Kondisi benda-benda tersebut memang sudah tidak prima, sehingga mesti segera diperbarui. Di lokasi lain, tepatnya di Jalan Blora, ada baliho yang ditempeli karya Delete karena penempatannya yang terlalu rendah mengganggu pejalan kaki. Belasan benda yang direspon Laskar Artup tersebar di sembilan lokasi. Seluruhnya memiliki “anjuran” yang berbeda, sesuai dengan menu klik kanan pada tetikus.

Gejolak kawula muda
Pada topik gaya hidup dan anak muda, Bonds berhasil menarik perhatian dengan mural berukuran 8 x 3 meter. Mural itu bergambar seorang perempuan berambut panjang dan hanya mengenakan bra (Gambar 2). Di sampingnya ada teks “Sedia Tisu Sebelum Nafsu”. Gambar perempuan seksi dan teks tersebut diapit gambar mawar merah dalam sebuah bingkai lengkung. Jelas terlihat bawah mural ini terinspirasi oleh stiker kota, jenis stiker teks klasik. Ciri-cirinya sudah jelas: kulit berwarna kuning, benda-benda di sekitarnya memakai warna-warna terang, berbingkai, dan ada tambahan unsur dekoratif. Terlebih lagi, karakter gambarnya identik dengan gambar-gambar orang pada komik roman 1970-an.[1] Dengan gaya nakal dan jenaka, Bonds menyentil keseharian masyarakat hingga ke level yang paling intim. Saat dihubungi melalui surel (surat elektronik), Bonds mengatakan bahwa ia ingin merespon kehidupan seks yang kerap dilakukan anak kost tanpa berniat menghakimi.

Mural ini berada di dinding jembatan layang Grogol, yang terletak di depan Univesitas Trisakti dan Universitas Tarumanagara; sesuai dengan target utama yang ia sasar, yakni para penghuni kost yang sebagian besar berstatus mahasiswa di sekitar kampus itu. Selain mural, ia juga membuat stiker yang awalnya akan ditempelkan di beberapa rumah kost yang ada di sekitar lokasi tersebut, namun batal karena tidak mendapat izin dari pemilik kost. Akhirnya stiker tersebut ia bagikan saat pembukaan pameran di Galeri Nasional Indonesia.

Dalam mural Sedia Tisu Sebelum Nafsu ini, Bonds sukses meracik humor sebagai bumbu utama karya. Mural buatannya mampu membawa orang-orang yang melihat, beranjak dari keadaan telis (tellic state­—keadaan penuh tekanan) ke keadaan paratelis (paratelic state—keadaan lepas dari tekanan).[2] Seks pranikah merupakan isu sensitif di negara ini. Dengan mural ini, isu seks yang sejak lama dianggap sensitif—dan nyaris tabu—untuk dibicarakan, menjadi sebuah topik yang jenaka.

Bonds cukup berhati-hati dalam karya ini. Ia menghindari teks yang terlalu vulgar, namun tetap terbaca nakal dan menggoda. Ia juga lebih memilih pelesetan peribahasa (Sedia payung sebelum hujan) dibandingkan kalimat larangan apalagi ancaman. Dari awal ia tegas mengatakan bahwa ia dan mural ini tidak hadir untuk menghakimi, dan sepenuhnya sadar bahwa seks merupakan hak masing-masing individu.

Masih di topik gaya hidup, peserta lain, Angganoa, menampilkan mural bergambar ikon situs microbloggingTwitter. Bedanya, burung biru dalam mural ini digambarkan sedang pusing dan bermoncong babi. Keenam mural buatannya tersebar di lima lokasi, yakni Cilandak, Kemang, Panglima Polim, Fatmawati dan Lebak Bulus. Dua di antaranya menampilkan burung biru yang sedang “keder” tersebut dalam posisi terbalik, contohnya seperti yang terlihat di wilayah Kemang (Gambar 3).

Tak banyak pesan yang dapat kita tangkap dari mural berjudul Keder, yang arti sebenarnya justru “takut”, “gentar”, atau “gemetar”. Ketika melihat burung-burung tersebut sedang “pusing”, saya langsung berpikir bahwa mural tersebut ingin mengatakan kalau “Twitter bisa bikin pusing”. Dengan jutaan informasi yang tersebar setiap detiknya di Twitter, tak heran memang jika orang sering lupa untuk mengecek kebenaran informasi tersebut, dan telanjur asik berlomba menjadi yang pertama menyebarkan informasi kepada yang lain.

Sudah begitu banyak contoh kerancuan yang dapat terjadi di Twitter yang mungkin bisa disampaikan Angganoa lewatKeder. Sayangnya, mural-mural tersebut kurang “berbicara” dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat. Idiom “gambar berbicara sejuta kata” tampaknya tidak terlalu mengena bagi mural ini. Ketika melihatnya, kita hanya akan mendapat potongan-potongan pesan saja. Butuh waktu lebih untuk mendapatkan pesan yang utuh. Tambahan teks, misalnya “Twitter bikin keder“, mungkin dapat membuat mural ini berbunyi lebih nyaring.

Hidup segan, mati ya sudahlah
Peserta selanjutnya, Abi Rama, memilih telepon umum sebagai objek utama dalam mural berjudul Seleksi Alam.Kedua karyanya terdapat di dua lokasi, pertama di tiang monorel di daerah Senayan, dan yang kedua di bawah jembatan layang daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan (Gambar 4).

Mengapa Abi memilih telepon umum sebagai objek utama? Suburnya industri telekomunikasi di Indonesia, secara perlahan mematikan telepon umum dan sarana komunikasi yang lebih dulu ada, Sebagai salah satu pengguna, Abi Rama menghadirkan kembali telepon umum tersebut melalui muralnya. Saat ponsel masih menjadi barang mewah, dan biaya menelepon di wartel juga kurang terjangkau, telepon umum pernah hadir sebagai penyelamat. Di era ponsel sudah menjadi kebutuhan primer seperti saat ini, rasanya sulit mengembalikan peran telepon umum seperti dulu lagi. Wajar jika kemudian masyarakat merasa tidak membutuhkan telepon umum lagi. Hal ini menambah ketidakpedulian pemerintah untuk menjaga keberadaan telepon umum.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apakah benar telepon umum sudah menjadi barang yang pantas dimuseumkan? Jika ya, berarti secara tidak langsung Pemprov DKI Jakarta mengatakan bahwa tidak ada lagi yang membutuhkan telepon umum di Jakarta. Rasanya terlalu naif kalau menganggap semua orang mampu berkomunikasi melalui telepon selular, atau setidaknya memiliki telepon rumah. Telepon umum merupakan sarana publik standar yang harus ada. Dengan meniadakan sarana tersebut, berarti pemerintah menghilangkan hak berkomunikasi masyarakat, terutama golongan yang tidak mampu. Selain itu, telepon umum juga berfungsi sebagai sarana darurat. Setiap unit telepon umum dapat menghubungi nomor-nomor darurat dengan gratis, misalnya jika terjadi kebakaran. Akan sangat membantu jika masyarakat sekitar dapat langsung menghubungi pemadam kebakaran melalui telepon umum terdekat. Namun rupanya alam berkehendak lain. Di Jakarta, telepon umum dianggap sudah tidak berfungsi lagi bagi masyarakat. Kita telanjur sibuk terbuai promosi penyedia layanan ponsel dengan tarif super murah. Mungkin Abi Rama benar, alam Jakarta sedang “menyeleksi” ulang para penghuni yang mendiaminya, termasuk benda-benda di dalamnya.

Persoalan suka tidak suka
Lain Abi, lain pula Ashtwo yang mempertanyaan kecintaan warga terhadap kotanya. Lewat mural berukuran 25 x 3,5 meter, ia menuliskan sebaris kalimat “Aku ♥ Jakarta?” (Gambar 5), yang mirip dengan teks “I ♥ NY” yang ikonik itu. Tetapi Ashtwo menambahkan tanda tanya di akhir kalimat. Bukan tanpa sebab, ia memang ingin mengajak warga untuk bertanya kepada diri sendiri tentang rasa cinta terhadap Jakarta.

Lokasi yang dipilih adalah dinding pembatas jalan di depan Gedung Antam, Tanjung Barat. Dugaan saya, lokasi itu dipilih karena dianggap strategis. Setiap hari ruas jalan tersebut selalu ramai dilintasi kendaraan. Syukur-syukur jika arus lalu-lintas sedang tersendat, para pengendara dapat memperhatikan mural tersebut lebih lama. Namun ternyata, Ashtwo memilih lokasi tersebut karena di sanalah ia mulai giat membuat graffiti pada 2003 silam.

Mural Aku ♥ Jakarta? yang terasa “sepi” ini sebenarnya dapat lebih berbicara banyak jika ditempatkan di lokasi-lokasi kontras. Dengan begitu, pikiran orang-orang yang melihat akan langsung tergiring pada persoalan konkret yang ada di depan mata mereka. Misalnya saja jika mural Aku ♥ Jakarta? terdapat di tembok yang dekat tempat penuh sampah berserakan dengan bau menyengat, maka kehadiran mural ini bisa langsung menarik perhatian. Selain karena mural yang berukuran besar, tercipta suatu kontras antara tulisan pada mural dan suasana sekitar. Efek psikologis yang ditimbulkan akan lebih terasa dibandingkan dengan mural yang ada sekarang: Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Jakarta?

Beralih ke peserta lain, ada kelompok Sevensoul yang membuat mural berupa emoticons atau ikon-ikon ekspresi yang kerap digunakan saat chatting. Karya ini diberi judulSimple Image Strikingly. Ikon yang ditampilkan cukup beragam; ada ekspresi senang, sedih, dan geram, dan marah. Ekspresi senang yang ditampilkan dalam warna kuning terlihat di unit-unit telepon umum di daerah Panglima Polim, Jakarta Selatan (Gambar 6). Di saat Abi Rama mengkritik soal kepunahan telepon umum dengan membuatnya kembali dalam bentuk mural, Sevensoul mencoba memberi tahu masyarakat sekitar bahwa telepon umum yang digambarinya dengan emoticons senang tersebut masih berfungsi. Namun ternyata hanya yang berlokasi di Panglima Polim saja yang diberi tanda oleh mereka. Fungsi ikon tersebut sebenarnya bisa semakin terlihat jika ada pembanding berupa ikon muram di unit-unit telepon umum yang rusak. Atau alternatif lain, menambahkan jumlah ikon senang di unit-unit yang masih berfungsi.

Selain ekspresi senang, ada pula ikon marah dan geram yang terlihat di dua tiang monorel berbeda. Tiang yang terletak di Jalan Asia-Afrika diberi ikon geram berwarna hijau. Sama dengan Klik Kanan milik kelompok Laskar Artup, ikon ini merupakan ekspresi ketidaksukaan terhadap tiang-tiang bekas rencana monorel. Sedangkan ikon marah berwarna merah yang terdapat di tiang yang ada di jalan Gelora, belakang Gedung DPR, bisa diartikan sebagai tiga hal: tidak suka dengan tiang-tiang monorel, kesal dengan kemacetan di ruas jalan tersebut, dan kecewa dengan para anggota DPR yang dianggap gagal menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat.

Dari enam mural Sevensoul, hampir semua maknanya sulit dimengerti. Saya beruntung dapat berkomunikasi langsung dengan senimannya, sehingga tahu pesan yang ingin ia sampaikan. Jujur saja, menurut saya karya-karya ini hampir tak ada bedanya dengan coretan “Jono was here” yang sering ada di halte-halte, yang hanya menandakan keberadaan senimannya melalui coretan. Pemilihan objek berupa emoticons justru memiuhkan pesan kuat yang ingin mereka sampaikan.

Rangkaian mural yang tidak “berbunyi” ini menjadi semakin membingungkan ketika di satu lokasi ada dua ikon berbeda. Seperti yang ada di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, kelompok Sevensoul menggambar ikon senang di kotak Telkom sebelah kiri, lalu ikon sedih di kotak sebelah kanan, sekalipun kedua kotak itu berkondisi baik-baik saja. Masih di ruas jalan yang sama, namun kali ini yang dipilih adalah halte bus Pasar Pedok, Jakarta Selatan, mereka menggambar ikon senang di tempat duduk sebelah kiri halte, dan ikon sedih di sebelah kanan. Kedua contoh ini membuat Sevensoul terlihat seperti sedang asik berbicara sendiri tanpa ada niat untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Ungkapan perasaan yang lebih tegas ditunjukkan oleh Sidvizeus (Zeus). Ia membuat gambar rantai lengkap dengan gemboknya dengan menggunakan teknik wheat paste. Jika peserta lain kebanyakan memilih tembok-tembok kota, Zeus menjatuhkan pilihannya pada papan-papan reklame yang ada di daerah Fatmawati, Kebayoran Baru, dan Blok M. Entah memang ada maksud tertentu atau kebetulan semata, tiga dari lima papan reklame pilihannya menampilkan iklan pembersih (pakaian dan porselen), sedangkan sisanya iklan mie instan dan operator ponsel. Salah satu contohnya adalah papan reklame deterjen yang terletak di Jalan Sawo, Jakarta Selatan. Zeus menempatkan rantainya secara menyilang di tengah, menutupi hampir seluruh tubuh sang bintang iklan. Contoh lain adalah papan reklame operator ponsel yang terletak di bawah jembatan layang Kuningan. Memanfaatkan objek mobil di reklame ini, Zeus memposisikan rantainya terpasang di bumper belakang, sehingga seolah-olah mobil tidak bisa melaju (Gambar 7). Gambar rantai yang berukuran besar langsung menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Bahkan, karya Zeus hanya bertahan selama beberapa hari saja, sebelum akhirnya dicopot oleh yang merasa terganggu dengan rantai-rantainya tersebut.

Sesuai judul karya wheat paste buatannya, Egoismu Tungganganku, mungkin ini adalah bentuk protes Zeus—yang mewakili teman-teman seniman street art lain—akan papan reklame yang terlalu banyak jumlahnya di Jakarta. Selain secara tidak langsung “rebutan lahan” dengan pemasang iklan karena sama-sama menggunakan ruang publik, Zeus juga ingin mempertanyakan keberadaan reklame tersebut. Jika sejak dulu street art dianggap merusak pemandangan, kini ia ingin menunjukkan bahwa reklame justru lebih mengganggu ruang publik di Jakarta. Akhirnya yang bisa ia lakukan adalah balik mengganggu papan-papan reklame tersebut dengan karya yang jahil dan memberontak.

Masih berhubungan soal iklan dan street art, saya sempat iseng bertanya, manakah yang lebih tidak disukai; papan reklame atau street art. Jawaban yang datang beragam, meskipun rata-rata menjawab “papan reklame”. Alasannya,street art lebih menarik dan menghibur, serta tidak melulu soal “jualan”. Menariknya, salah seorang editor jurnalKarbon, Farid Rakun, ikut menjawab. Ia bilang, yang paling mengganggu adalah street art yang dibuat hanya untuk menjadi “iklan” bagi senimannya sendiri. Saya asumsikan yang ia maksud salah satunya adalah grafiti nama sang seniman atau kelompok street art tanpa ada pesan atau konteks sosial. Namun kini kondisinya lebih rumit, sebab sudah banyak produsen yang beriklan dalam bentuk mural. Sehingga bukan tidak mungkin jika iklan dan karya seni di kemudian hari menjadi tak ada bedanya ketika berada di ruang publik.

Jakarta: Pesan terkirim
Usai memperhatikan satu persatu karya setiap peserta, saya semakin sadar bahwa Jakarta memiliki banyak persoalan yang mesti dibereskan. Sebegitu pelik dan kentaranya, sehingga lima dari tujuh peserta mengangkat isu sosial-politik yang ada di kota ini, sedangkan sisanya lebih memilih untuk mengulas gaya hidup. Masalah yang dianggap paling “mengganggu” adalah soal fasilitas umum. Topik transportasi menjadi yang paling sering dibicarakan dalam karya-karya mereka. Beberapa objek seperti monorel, halte bus, dan kemacetan, muncul lebih dari sekali, yakni dalam karya kelompok Laskar Artup dan Sevensoul.

Sistem transportasi Jakarta yang semrawut memang kerap dikeluhkan masyarakat. Monorel, salah satu moda transportasi yang dulu menjadi tumpuan harapan masyarakat Jakarta akan transportasi yang nyaman, kini hanya berupa tiang-tiang yang terbengkalai. Meskipun kabarnya proyek monorel akan dilanjutkan, masyarakat tampaknya sudah tak berharap banyak.

Di topik lain, yakni kemacetan, kondisinya tidak jauh berbeda. Kemacetan sudah sejak lama menjadi masalah yang harus dihadapi oleh sebagian besar masyarakat Jakarta. Ruas jalan yang ada tidak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor. Angka pertumbuhan kendaraan bermotor sekitar 10 persen per tahun, sehingga setiap harinya Jakarta “kebanjiran” sekitar 250 mobil baru dan 900 sepeda motor baru. Menyiasati hal ini, Pemprov DKI Jakarta yang tak punya banyak pilihan, terpaksa menambah ruas jalan dengan “mengangkat” jalan ke atas. Misalnya yang terlihat pada pembangunan proyek jalan layang non tol (fly over) Antasari – Blok M yang dimulai sejak November lalu. Proyek ini pun bukan tanpa cacat. Banyak pihak yang menyayangkan penebangan ratusan pohon demi terlaksananya proyek ini. Salah satu mentor lokakarya, Popo, sempat “protes” lewat kalimat “Demi fly over, pohon game over” yang ia tuliskan di dinding sepanjang jalan Antasari, Jakarta Selatan, dengan menggunakan cat semprot. Belum lagi ditambah kemacetan yang timbul akibat pengerjaan jalan layang ini. Ironis, mengingat tujuan proyek ini sendiri adalah untuk mengurangi kemacetan.

Masih di topik fasilitas umum, objek lain yang menjadi perhatian peserta adalah telepon umum dan papan reklame. Abi Rama dan kelompok Sevensoul ingin mengingatkan kita bahwa telepon umum adalah sarana publik yang harus tetap ada karena masih dibutuhkan masyarakat, terutama oleh rakyat kecil. Sedangkan kelompok Laskar Artup dan Zeus mempersoalkan papan reklame yang kehadirannya dianggap mengganggu. Selain karena jumlahnya yang terlalu banyak sehingga menimbulkan polusi visual, namun juga karena penempatannya terkadang tidak tepat, semisal terlalu rendah sehingga menghalangi dan membahayakan pejalan kaki.

Munculnya fasilitas umum menjadi topik utama dalam karya para peserta lokakarya street art Jakarta 32°Cbisa diartikan sebagai kritik kepada Pemprov selaku pelayan publik Jakarta, yang dirasa kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat. Selama ini kritik dan saran yang ditujukan kepada pemerintah kebanyakan disampaikan dengan cara-cara konvensional. Mungkin dengan lokakaryastreet art Jakarta 32°C ini, kita memiliki cara baru dalam menyampaikan aspirasi. Jika mengusung pesan yang berisi melalui eksekusi yang baik, citra buruk street art yang lekat dengan vandalisme secara perlahan bisa hilang. Sebagai gantinya, street art akan dianggap sebagai medium aspirasi alternatif, yang tak hanya enak dilihat, namun juga berbunyi nyaring.

Menggunakan sudut-sudut kota sebagai kanvas, ketujuh peserta lokakarya ramai-ramai berkirim pesan tentang Jakarta. Memang tidak semua pesan dapat dengan mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat, namun setidaknya, inilah usaha mereka untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih nyaman dihuni.***

Jakarta, Maret 2011

***

Catatan kaki
[1] Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan, Mirwan Andan, Stiker Kota (Jakarta: ruangrupa, 2008).
[2] Dan Sperber & Deirdre Wilson, Relevance: Communication and Cognition (United Kingdom: Blackwell, 1995).


Gambar 1. Klik Kanan oleh Laskar Artup.

 


Gambar 2. Sedia Tisu Sebelum Nafsu oleh Bonds.

 


Gambar 3. Keder oleh Angganoa.

 


Gambar 4. Seleksi Alam oleh Abi Rama.

 


Gambar 5. Aku ♥ Jakarta? oleh Ashtwo.

 


Gambar 6. Simple Image Strikingly oleh Sevensoul.

 


Gambar 7. Egoismu Tungganganku oleh Sidvizeus.

Foto-foto koleksi Jakarta 32°C.

.

*Tulisan ini dimuat pertama kali di Karbon Journal.

Bali di Balik Lensa

 

 

Sebuah dokumentasi spiritual selama lima tahun

Tak banyak yang tahu siapa John Stanmeyer. Namanya tak sepopuler rekannya, James Nachtwey, pewarta foto yang yang cerita hidupnya telah difilmkan oleh Christian Frei dalam War Photographer pada 2001 silam. Layaknya Edhie Sunarso, orang-orang lebih mengenal Patung Dirgantara (Pancoran) dan Patung Pembebasan Irian Barat (Lapangan Banteng), namun tanpa banyak yang tahu bahwa ia lah pencipta patung-patung tersebut. Begitu pula dengan John, yang karya fotonya kerap kita lihat di berbagai media, termasuk yang terpampang di sampul majalah Time dan National Geographic.

Kini, pewarta foto yang sempat menetap di Canggu, Bali, selama lima tahun, menerbitkan buku fotografi berjudul Island of the Spirits yang memuat 56 foto hitam-putih tentang sisi spiritual masyarakat Bali. Buku yang ditulis oleh Anastasia Stanmeyer tersebut menampilkan hasil bidikan John menggunakan kamera lomo merek Holga. Lebih lanjut soal isi buku, simak wawancara singkat dengan John mengenai buku fotografinya tersebut.

 

Apa tujuan Anda membuat buku fotografi tentang Bali?
Saya ingin mereka yang membacanya bisa belajar sesuatu, bukan sekadar membeli coffee-table book biasa. Saya khawatir apakah anak-anak Bali bisa berbahasa daerah ditahun-tahunmendatang.Masalahtradisi danbudayasamapentingnyadengan mengkhawatirkan soal ekonomi, politik, dan masalah besar lainnya.

Mengapa Anda memilih penerbit lokal?
Saya memilih penerbit Afterhours karena ingin buku ini diterbitkan dan diedarkan di Indonesia. Buku ini tentang Bali. Saya ingin masyarakat Indonesia membacanya dan sadar akan kekayaan tradisi yang mereka miliki.

Apa spesialnya sebuah Holga dibandingkan kamera yang biasa Anda gunakan?
Banyak yang menganggap remeh kamera seharga 25 dolar AS (sekitar 250 ribu rupiah) ini. Tapi, dengan kamera plastik ini saya seakan berpijak di masa kini dan masa lampau sekaligus. Selama mengerjakan proyek ini, saya menggunakan lima kamera.

Apakah ada alasan khusus Anda memilih foto hitam-putih?
Saya tidak ingin makna penting foto- foto saya teralihkan oleh warna-warna yang dihadirkan foto berwarna. Ini dokumentasi yang berbeda, yang ingin menampilkan betapa spesial kekuatan tradisi yang mereka (masyarakat Bali –red) miliki, yang sayangnya terancam oleh pengaruh dari luar.

Mana yang lebih Anda senangi, memotret perang atau soal budaya seperti yang Anda lakukan dalam buku ini?
Saya tidak suka meliput perang karena begitu banyak manusia-manusia lemah. Terlalu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

 

 

Island of the Spirits
28 x 28 cm
144 pages
Matte Paper, Hardcover
Reeves Sensation Tradition 220 gsm
Coated Matte 150 gsm
Foto: Evan Praditya
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Oktober 2010


*Catatan penulis:
Terjadi perubahan minor pada artikel ini, yaitu di paragraf pembuka.