Menara Gading

Sewaktu berhenti di lampu merah Cempaka Putih tadi, dari dalam taksi saya bisa melihat jelas retakan-retakan pada pilar penyangga jalan layang di atasnya yang membentang hingga bandara.

Pemandangan yang ternyata cukup kontemplatif karena bisa menjadi analogi sebuah tim kerja.

Terkadang, hanya orang-orang ‘di bawah’ yang bisa melihat retakan-retakan tersebut. Retakan-retakan yang mungkin belum sampai taraf membahayakan, tapi cukup mengkhawatirkan jika dibiarkan karena bisa menular dan berlipat ganda. Mereka yang terlalu nyaman bertengger di menara gading biasanya tutup mata, atau merasa bahwa semuanya baik-baik saja.

Bom yang tinggal tunggu waktu dan bara yang tinggal tunggu arang.

Jika diibaratkan medan perang, pemimpin yang pergi akan membuat pasukannya limbung tanpa arah. Tapi yang lebih menyedihkan, jika justru pasukan tersebut yang balik kanan bubar jalan. Meninggalkan sang pemimpin di tengah medan perang; menarik mundur dukungan, lantas pergi tanpa salam perpisahan.

Do we want to kill them or save them?

Nafsiah Mboi di Konferensi AIDS Internasional di Melbourne (Juli 2014)

Nafsiah Mboi di Konferensi AIDS Internasional di Melbourne (Juli 2014)

Saat menghadiri konferensi pers yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) beberapa tahun lalu, salah satu pembicara yang hadir yaitu Nafsiah Mboi. Waktu itu ia masih menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif KPA.

Ia banyak menjelaskan langkah-langkah strategis untuk menekan penyebaran AIDS di Indonesia. Dua di antaranya ialah pengadaan jarum suntik baru dan kondom gratis, terutama di daerah-daerah yang tingkat penyebarannya tinggi. Jelas ini bukan pilihan populis, apalagi di tengah masyarakat agamais dan moralis. Meski awalnya ikut mengernyitkan dahi, saya optimis langkah kontroversial tersebut bisa menyelamatkan banyak orang.

Beberapa hari lalu, di acara International AIDS Conference yang diadakan di Melbourne, Nafsiah yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI sejak 2012, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan:

“Do we want to kill them? Or do we want to save them? The easiest way is to kill them.”

 

Saya pikir sudah lewat masanya kita menutup mata. Bahwa pecandu narkoba dan pengidap AIDS itu adalah kenyataan yang mesti kita terima dan hadapi. Karena yang paling penting saat ini adalah bagaimana agar penyakit tersebut tidak mencelakai lebih banyak orang lagi.

14 Excuses

Bel,

I just discovered this young female writer/poet that I instantly love her words. Her name is Warsan Shire. She’s a moslem, so you may found quotation from Al-Qur’an in her poems. You can check her writings at warsanshire.tumblr.com.

One of her writings that captivated me the most is a poem which titled “34 excuses for why we failed at love. This later adapted as a short film. A very beautiful black-white movie, although resonates sad and deep feelings. Of all 34 excuses that were stated, I love 14 of them. I screen-captured 14 of them, taken from the short movie, and attach here for you.

Since you love to free-interpret all of my sayings and actions, I want you to read it without any suspicions, and take it as a beautiful poem as it is. :)

Enjoy!

Not your everything (because it’s tiring becomes someone’s everything)*,
Me.

Screen shot 2013-02-27 at 11.38.04 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.40.39 AM Screen shot 2013-02-27 at 11.41.40 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.40.10 AM
 Screen shot 2013-02-27 at 11.42.43 AM Screen shot 2013-02-27 at 11.46.14 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.41.13 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.42.25 AM Screen shot 2013-02-27 at 11.41.59 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.43.16 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.45.59 AM Screen shot 2013-02-27 at 11.45.22 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.47.06 AM
Screen shot 2013-02-27 at 11.47.16 AM
.
.
*This line belongs to my talented artist friend, who tweeted it on a rainy afternoon, Ika Vantiani.

Klik! Jadi

ABG ’90-an pernah sangat intens menggunakan produk teknologi yang bernama photo-box. Generasi Instagram sekarang mungkin asing, atau bahkan tak kenal dengan hiburan tersebut. “Kotak ajaib” kedua setelah televisi, yang hasil gambarnya dapat kita tentukan sendiri. Semacam fitur timer pada kamera konvensional. Bedanya, photo-box memungkinkan kita untuk melihat langsung penampilan kita di layar sebesar televisi 15 inch. Para ABG—yang mayoritas perempuan—asik berpose dan berubah posisi demi hasil foto yang maksimal. Sebagai pelengkap, pemilik studio foto menyediakan berbagai properti penunjang seperti topi, kacamata, dan wig.

Dua dasawarsa berselang, “kotak ajaib” tersebut tak sepenuhnya lenyap. Mereka bervolusi, dengan menciutkan dan mencanggihkan diri. Lahirlah yang kini kita kenal sebagai webcam. Kamera khusus pengguna komputer yang kini tertanam pada laptop, tak bisa dipungkiri memenuhi hasrat berfoto orang banyak. Kita tak perlu lagi capek-capek pergi ke studio foto, dan mengeluarkan uang sebesar harga Slurpee saat ini. Cukup dengan menyalakan laptop, mengaktifkan webcam, dan voila!, kita punya photo-box pribadi. Posisi tak terpaku pada duduk atau berdiri saja. Kini sambil tidur pun jadi.

tumblr_m81gmgEtke1rbeporo1_1280

klik jadi

Webcam telah membalikkan fungsi kamera untuk merekam pemiliknya sendiri. Perubahan ini terjadi seiring berjalannya waktu, menandakan perubahan zaman, dan pergeseran tren serta perilaku merekam itu sendiri.

After Photo-box karya Nissal Berlindung mengajak kita untuk mengalami pergeseran tersebut, dan ikut larut dalam tren yang sedang berlangsung. Dengan webcam, semua bisa menjadi fotografer dan model sekaligus. Jangan lupa bergenit-genit ria mencoba beragam filter yang tersedia.

Silakan submit foto kalian yang diambil menggunakan webcam ke www.klikjadi.tumblr.com, atau ke @klikjadi dengan mencantumkan #klikjadi. Selamat berfoto ria!


eflyer_topcollection3

Tulisan ini awalnya dibuat sebagai teks pelengkap karya After Photo-box oleh Nissal Berlindung dalam pameran Top Collection #3 di RURU Gallery pada 21 Juli – 4 Agustus 2012. Pameran yang dikuratori Julia Sarisetiati ini melibatkan enam seniman muda, antara lain Agan Harahap (Jakarta), Nissal Nur Afryansah (Jakarta), Reza Afisina (Jakarta), Reza Mustar (Jakarta), dan The House is Black (Jakarta). Karena suatu hal, tulisan ini tidak jadi dimuat.

Bohlam


boh·lam n cak bola lampu listrik; lampu busur

Semalam, saya baru sampai rumah sekitar pukul satu dini hari. Sepulang kerja, saya mampir dulu ke ruangrupa untuk mengantarkan oleh-oleh cokelat kepada teman-teman di sana, sebagai hasil perburuan singkat di kios duty-free bandara Schiphol, Amsterdam, akibat tak punya waktu jalan-jalan di tengah padatnya agenda Impakt Festival di Utrecht. Lalu, sempat juga ke pembukaan pameran Gambar Selaw di Om Duleh, yang lokasinya masih di daerah Tebet.

Sesampai di rumah, ritual yang biasa saya lakukan adalah melucuti semua benda yang melekat di tubuh—mulai dari pakaian dan aksesori seperti jam tangan dan gelang, berganti baju dengan kostum kamar yang longgar dan nyaman, menggantung celana jeans di loteng dalam keadaan sisi dalam di luar, mengambil handuk, lalu istirahat sebentar sebelum mandi, atau  ‘mengeringkan keringat’ istilah yang sering dipakai orang-orang. Ya, saya terbiasa mandi malam (dengan air dingin—red) jam berapapun itu. Kecuali, tentunya, jika sedang tidak enak badan.

Jeda sebelum mandi itu biasa saya isi dengan berbagai kegiatan. Semalam, saya mengisinya dengan mengganti bohlam kamar mandi.

Posisi kamar mandi di rumah saya berhadapan dengan tangga. Saat hendak menuju loteng itulah saya mendapati bohlam kamar mandi kedap-kedip; salah satu pertanda bahwa ajalnya kian dekat dan mesti segera diganti. Usai menggantung celana dan mengambil handuk di loteng, saya menyelinap masuk ke kamar ayah saya untuk mengambil bohlam yang baru. Beliau terbiasa menyimpan persediaan bohlam yang cukup banyak di lemari kamarnya.

Berhubung saya agak pengecut dalam hal perlistrikan atau perkomporan, saya akan menggunakan alat bantu saat berurusan dengan keduanya. Untuk mengganti bohlam, biasanya saya menggunakan tongkat khusus agar tak perlu naik kursi dan memegang bohlam secara langsung. Tujuannya agar terhindar dari insiden tersetrum. Sayangnya tongkat yang dicari tak kunjung ketemu. Alhasil saya harus melakukannya dengan cara manual.

Sempat tergoda juga untuk minta bantuan adik yang lagi asyik mengulik gadget DJ (entah apa namanya) di ruang keluarga, tapi akhirnya toh saya kerjakan sendiri. Dengan bantuan kursi yang diambil dari ruang makan, serta kain lap yang saya gunakan agar tak kepanasan saat memegang bohlam, saya sukses mengganti bohlam kamar mandi sendiri.

Saat itulah saya teringat ledekan abang saya dulu.

“Cewek Indonesia kok nggak bisa ganti bohlam lampu sendiri?” 

Saya, yang saat itu masih berseragam putih-biru, menganggap ledekan itu berlebihan, atau ‘lebay’ istilah anak zaman sekarang. Masa untuk urusan ganti bohlam bawa-bawa negara segala?

Semalam, saya cuma bisa cengengesan saat mengenang kembali wajah abang saya saat melontarkan ledekan tersebut sebelum menggantikan bohlam di kamar saya yang saat itu mirip diskotik; lampunya kedap-kedip. Tentu saja semalam saya paham betul maksud ledekan tersebut. Ia mengharapkan adiknya untuk tumbuh mandiri, yang tidak sedikit-sedikit minta bantuan orang lain. Alhasil, adiknya ini merasa sedikit bangga setelah sukses mengganti bohlam kamar mandi semalam. Meskipun sebenarnya saya sendiri merasa urusan perbohlaman ini sepele.

***

Abang saya bukan tipe role model yang segala tingkah lakunya selalu bisa dijadikan panutan. Ia bukan pula tipe siswa yang secara akademis memuaskan. Ia bahkan tak pernah kuliah. Pendidikan pascasekolah yang pernah ia jalani adalah beberapa kursus singkat berbagai bidang, mulai dari sinematografi, komputer, desain grafis, sablon, hingga teknik mesin. Sisanya, ia pelajari secara otodidak sembari mengisi waktu luang dengan membaca karya sastra atau mendengarkan Iwan Fals dan Jimi Hendrix. Saya belajar banyak hal darinya, dan seringnya, dengan cara dan dalam waktu yang tak biasa.

Suatu hari ia mengajarkan saya cara menulis deskripsi dalam cerita pendek, dalam waktu kurang dari lima menit di ruang tamu. Saat itu saya sedang asyik membaca majalah, dan ia hendak ke luar rumah bersama teman-temannya. Sepertinya ia habis membaca salah satu cerita pendek buatan saya di buku tulis. Kira-kira begini ucapannya waktu itu:

“Kalau nulis cerpen, tambahin deskripsi biar suasananya lebih lengkap, dan ceritanya lebih bewarna. Jadi, daripada mengakhiri dialog cuma dengan ‘ujarnya’ atau ‘katanya’, bikin begini aja: ‘Ra, Bang Aan pergi dulu ya!’ ujarnya seraya mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja.”

Reseknya, ia langsung ngeloyor pergi usai memberi contoh soal deskripsi tersebut.

Pernah juga suatu hari ia menasihati soal nasihat. Jika tak salah ingat, saat itu saya mengabaikan nasihatnya untuk tak pulang malam, karena toh ia sendiri juga kerap pulang malam. Melihat pemberontakan kecil-kecilan yang dilakukan adiknya, ia pun berujar “Kalau dinasihati, lihat isi nasihatnya, bukan siapa yang menasihati.” Tapi tentu, saya jiwa ABG saya yang bergolak saat itu tak mampu mencerna nasihatnya dengan cermat.

Tepat hari ini, 2 November, ia yang bernama lengkap Ryan Novian dan yang saya panggil ‘Bang Aan’ ini berulang tahun. Jika masih bersama kita, ia genap berusia 36 tahun hari ini. Namun kita tak kuasa melawan kehendak semesta. Delapan tahun lalu, tepatnya 9 Agustus 2004, ia ‘mengucapkan salam perpisahan’ kepada keluarga, teman, dan siapapun yang pernah mengenalnya. Dalam kesunyian dan berada jauh dari rumah, ia menghembuskan napas terakhirnya. Namun saya percaya, ia bersama semua kenangan yang menyertainya, akan tetap hidup selama yang saya inginkan. Seperti bohlam yang pijarnya dapat kita nyala-matikan sekehendak hati.

Selamat ulang tahun, Bang Aan.

.

And I continue
To burn the midnight lamp
Alone

Now the smiling portrait of you
Is still hangin’ on my frowning wall
It really doesn’t, really doesn’t bother me too much at all
It’s just the ever falling dust
That makes it so hard for me to see
That forgotten earring layin’ on the floor
Facing coldly towards the door

I continue
To burn the midnight lamp
Lord, alone

 Burning Of The Midnight Lamp, Jimi Hendrix

.

Gambar diambil dari sini

The gladly dancing plastic bag

 

This is my favourite scene in American Beauty (Sam Mendes, 1999). The gladly dancing plastic bag; it’s beautiful and romantic in a strange way.

I used to spent the weekend with my significant other on one of the rooftop in Jakarta, just chillin’ and chit-chatting. On a warm afternoon, around the magic-hour, there was this little plastic bag showed up, and started to dance with the wind. We stopped the conversation and watch this nature-made mini recital in front of us. It lasted for almost five minutes. Without a doubt, that was one of the most romantic thing that ever happened to me. That was my ‘American Beauty’ moment.

“It was one of those days, when it’s a minute away from snowing, and there’s this electricity in the air. You can almost hear it, right? And this bag was just dancing with me, like a little kid begging me to play with it, for fifteen minutes.

That’s the day I realized there was this entire life behind things, and this incredibly benevolent force, that wanted me to know there was no reason to be afraid, ever. Video’s a poor excuse, I know, but it helps me remember. I need to remember.

Sometimes there is so much… beauty… in the world, I feel like I can’t take it, and my heart is just going to cave in.”

Gemini Complex

 

 

I probably came to this world as a Gemini for a reason. Not only because I was born on 25th May, but the twin symbol of this sign, is an actual reflection of myself. I just found out about the meaning now. A little bit too late, I must say.

I was a happy and optimistic kid. One thing led to another, that little girl was forced to slowly disappear. She can’t bear living in this unidealistic version of her world.

And now I’m here; a 26 years old cynic. A stranger to herself. Alone in the crowd. The other twin.

I miss that happy-optimistic kid.

Deep down inside, I know I have to find that little girl again. So I can be happy, so I can feel completed.

.

16 April 2012
Pk. 20:04