Menara Gading

Sewaktu berhenti di lampu merah Cempaka Putih tadi, dari dalam taksi saya bisa melihat jelas retakan-retakan pada pilar penyangga jalan layang di atasnya yang membentang hingga bandara.

Pemandangan yang ternyata cukup kontemplatif karena bisa menjadi analogi sebuah tim kerja.

Terkadang, hanya orang-orang ‘di bawah’ yang bisa melihat retakan-retakan tersebut. Retakan-retakan yang mungkin belum sampai taraf membahayakan, tapi cukup mengkhawatirkan jika dibiarkan karena bisa menular dan berlipat ganda. Mereka yang terlalu nyaman bertengger di menara gading biasanya tutup mata, atau merasa bahwa semuanya baik-baik saja.

Bom yang tinggal tunggu waktu dan bara yang tinggal tunggu arang.

Jika diibaratkan medan perang, pemimpin yang pergi akan membuat pasukannya limbung tanpa arah. Tapi yang lebih menyedihkan, jika justru pasukan tersebut yang balik kanan bubar jalan. Meninggalkan sang pemimpin di tengah medan perang; menarik mundur dukungan, lantas pergi tanpa salam perpisahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s